728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Senin, 02 Mei 2016

    Baha’i: Perayaan Ridwan dan Secercah Harapan


    Tanggal 1 mei 2016, adalah hari terakhir perayaan “Ridvan” alias Ridwan dalam bahasa Indonesia. Sebuah perayaan paling agung bagi umat Baha’i ini dirayakan selama 12 hari yang dimulai pada tanggal 20 atau 21 April. Dimana, Satu bulan (19 hari) perayaan Ridwan ini biasanya dilaksanakan ibadah puasa selama satu bulan, sebelumnya.

    Saat Penulis bersama kawan-kawan Gusdurian Malang berkunjung ke salah satu keluarga penganut agama Baha’i di kota Malang yaitu keluarga mas Fathur. Tepatnya di daerah Sukun. Sejatinya, penulis telah mengenal beliau ketika berjumpa disebuah acara konferensi Perdamaian di Kepanjen-Malang yaitu AMIPEC (Annual Malang International Peace Conference). Namun, semenjak itu penulis tidak berkomunikasi lagi dengan beliau. Dan akhirnya penulis mendapat ajakan dari Billy (salah satu pengurus Hikmabudhi- dan penggerak Gusdurian Malang) bahwa ada undangan dalam perayaan hari Ridwan oleh Mbak Anggun. Yang ternyata adik dari mas fathur yang penulis kenal dulu di Amipec.

    Sebenarnya penulis belum begitu banyak tahu tentang Agama Baha’i. Hanya bermodalkan informasi-informasi di dunia maya. Karena itu, melalui perayaan hari Ridwan ini penulis akhirnya bisa bersilaturrahmi dengan penganut agama baha’i di kota malang. Seperti layaknya hari raya idul fitri, Natal, Nyepi serta perayaan hari-hari Besar agama di Indonesia ini, dengan tradisi untuk perayaan yang sungguh beragam indahnya.

    Ditengah-tengah obrolan penulis mengutarakan maksud kedatangannya selain untuk bersilaturahmi. Yakni, ingin mengenal lebih dekat agama baha’i dari sumbernya langsung. Dari sinilah obrolan yang lebih serius namun santai dimulai.

    Dimulai dari pandangan agama baha’i tentang “Tuhan dan Manusia”. “Tuhan itu satu dan manusia ciptaan tuhan yang satu itu”. Dengan kata apapun mereka menyebutnya. Itu tidak penting. Yang penting adalah apa yang dilakukan manusia. Baik yang beragama ataupun tidak. Dilihat dari prilakunya “tangkas mas Fathur.

    Selama ini yang kami perjuangkan adalah pembangunan sebuah masyarakat melalu spiritualitas dan material. Artinya, bagaimana spiritualitas dan material menjadi pondasi dalam sebuah pembangunan masyarakat. Sehingga pembangunan fisik maupun rohani dapat berjalan beriringan. Karena memang kami percaya suatu saat umat manusia akan bersatu. Seperti halnya orang dahulu tak menyangka bahwa kini kerajaan-kerajaan Nusantara telah berubah menjadi Indonesia. Kami juga percaya bahwa agama dan ilmu pengetahuan harus berjalan ber-iringan sehingga tidak terjadi tahayul.

    Coba bayangkan! apa jadinya jika semua orang jujur, pasti hidup ini akan terasa tentram, bukan??. Apa jadinya jika semua orang saling tolong-menolong, pasti hidup akan terasa damai, bukan?? Karena memang bagi kami hanya dua hal yang dilakukan manusia. Yakni destruktif dan kontruktif. Tinggal kita pilih mana “tambah mas fathur”.

    Ada beberapa hal yang selama ini kami lakukan. Seperti, mengadakan forum do’a bersama dan membina para remaja. Namun seperti halnya agama minoritas lainnya ketika melakukan kegiatan-kegiatan sosial. Seringkali diawali dengan prasangka-prasangka bahwa kami ingin melakukan sesuatu yang berbau “isasi”. Akan tetapi mas fathur sekeluarga merespon hal tersebut dengan tenang dan penuh keyakinan bahwa suatu saat masyarakat umum akan memahami niat baik kami. Tinggal bagaimana intensitas kami dalam berkomunikasi dengan mereka dan keterbukaan kami kepada semua.



    Buku “secercah harapan” merupakan salah satu dari sekian buku yang digunakan oleh mas Fathur dan teman-temanya untuk membina para remaja dibeberapa tempat di kota malang. Buku terbitan “Development Learning Press Royal Palm Beach, Florida” ini memang diperuntukkan untuk pendirian program-program pendidikan yang dilakukan oleh LSM. Development learning press (DLP) dibentuk dengan tujuan untuk menyebarluaskan dalam skala besar materi-materi pendidikan yang meningkatkan kapabilitas rohani dan pengetahuan pada individu, masyarakat dan lembaga-lembaga sosial.

    Buku ini berisi tentang pengalaman-pengalaman yang diperoleh oleh para penggerak DLP dalam membangkitkan Individu agar mampu bekerja untuk kepentingan keluarga dan masyarakat. Yang pengalaman tersebut mereka dapat ketika berada di Afrika. Tepatnya beberapa kisah dari seorang anak yang bernama Kibomi yang berasal dari suku Kungu.

    Selamat merayakan, Hari Raya Ridwan Saudara-saudara umat baha’i, Semoga Damai menyertai kita semua, umat manusia dan untuk Indonesia.


    Penulis: Moh. Fauzan (Koordinator Gusdurian Kota Malang)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Baha’i: Perayaan Ridwan dan Secercah Harapan Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top