728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Kamis, 26 Mei 2016

    Dialog Lintas Agama di Desa Kebonagung



    Indahnya Hidup Dalam Kebhinnekaan
    Peluang Membangun Kebersamaan

    Desa Kebonagung di Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang adalah sebuah desa yang telah menerapkan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Berbagai agama dan suku ada di Desa Kebonagung dan hidup harmonis. Hubungan antara pemerintah desa dan warga nya  terjalin dengan baik, tak ada jarak. Demikian yang diungkapkan Pak Teguh Santosa, Kepala Desa Kebonagung dalam  Dialog Lintas Agama di Pendopo Desa Kebonagung (Sabtu, 14/11/2015).

    Dialog Lintas Agama diadakan oleh Pemerintah Desa Kebonagung bekerja sama dengan GKI Kebonagung, Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Malang dan Badan Pekerja Majelis Klasis GKI Klasis Madiun. Sekitar 100 orang hadir dalam forum tersebut. Turut hadir sebagai peserta kawan-kawan dari Gusdurian Malang, Pdt Kristanto Budiprabowo, Charlotte Blackburn, Dika, Bayu. Juga Pdt Tri Kridaningsih (GKJW Kebonagung), Pdt Novarita (GKI Kebonagung).

    Pak Soleh mewakili  Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Malang. Menurut Pak Soleh, NKRI adalah harga mati. Sebagai induk organisasi kerukunan antar umat beragama, saat itu Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Malang disibukkan oleh kasus Tolikara. Bersama Danramil, Koramil menghimbau warga untuk menjaga keamanan lingkungan masing-masing. Pak Soleh berharap wilayah Kabupaten Malang tidak terimbas kasus Tolikara.

    Jumlah pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Malang saat ini 17 orang. Yang menjadi pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Malang adalah tokoh agama/masyarakat.  Perwakilan dari agama Kristen adalah pendeta. Selanjutnya Pak Soleh meneruskan pesan dari Pak Machmud, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Malang,  agar kita tetap menjaga Kabupaten Malang dalam situasi kondusif apalagi menjelang pilkada (saat itu). Insyaalloh Kabupaten Malang aman.

    Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Malang tidak menunggu bola namun menjemput bola. Jika ada masalah, masyarakat dimohon  segera bertindak. Wilayah Kabupaten Malang sangat luas, sementara itu rata-rata pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Malang diatas 50 tahun. Forum Kerukunan Umat beragama Kabupaten Malang belum bisa membentuk FKUB di kecamatan maupun desa. Berdasarkan undang-undang, FKUB hanya di tingkat kabupaten dan kota. “Monggo dibentuk namun jangan memakai nama FKUB. Boleh paguyuban yang penting menjaga kebersamaan dan kerukunan umat beragama. Fkub difasilitasi oleh Kesbangpol dan Bintal. Laporan pertanggungjawabannya ke Kesbangpol dan bintal,” kata Pak Soleh, Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Malang.  

    Dialog Lintas Agama juga diisi dengan persembahan musik oleh Gereja Kristen Indonesia (GKI) Kebonagung,  musik Banjari dari ibu-ibu Desa Kebonagung, dan tari bali dari SMA Tri Murti, Karangpandan, Pakisaji Kabupaten Malang.

    Musik banjari dari ibu-ibu Desa Kebonagung. Tari bali dari SMA Tri Murti, Karangpandan, Pakisaji










    Camat Pakisaji, Bapak Hari Krispriyanto berkenan hadir dalam Dialog Lintas Agama  yang mengusung tema Indahnya hidup dalam kebhinnekaan, Peluang membangun kebersamaan. Bapak Camat Pakisaji memberikan apresiasi pada semua pihak penyelenggara Dialog Lintas Iman.

    Karena  kegiatan Dialog Lintas Agama baru pertama kali diadakan di wilayah Kecamatan Pakisaji. “Kami menilai kehidupan beragama di Kecamatan  Pakisaji sangat harmonis. Tak ada yang menyinggung agama lain. Umat Islam merayakan Hari Raya, umat Kristen merayakan Natal, umat Hindu demikian juga menjalankan ibadahnya. Saya baru 11 bulan bertugas di Kecamatan Pakisaji. Dialog Lintas Iman ini bisa menjadi percontohan di kecamatan lain. Bisa menjadi forum untuk menjaga kerukunan di Kabupaten  Malang. Kita tidak ingin peristiwa Tolikara terjadi di Kecamatan Pakisaji yang sudah solid. Kerusuhan Tolikara dilakukan oknum yang tidak bertanggung jawab. Peristiwa pembakaran gereja di Singkil juga dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Kita tidak ingin kedua peristiwa tersebut terjadi  di Kecamatan Pakisaji. Kunci keberhasilan tetap pada panjenegan semua. Keamanan, kedamaian di Pakisaji, dan Desa  Kebonagung pada khususnya tergantung pada penjenengan semua. Untuk bisa mengendalikan warga. Dengan adanya kesatuan dan kebersamaan memudahkan bagi kita semua. Dalam Dilaog Lintas Iman kali ini seluruh tokoh agama bisa hadir. Desa Kebonagung menjadi desa pertama yang menyelenggarakan dialog lintas iman. Monggo dimanfaatkan kegiatan ini dengan sebaik-baiknya. Saya juga sering diundang dan hadir oleh umat muslim, Kristen, Hindu kami hadir. Darma Santi Raya Nyepi, Pura di Wonokerso kami juga hadir. Hari ulang tahun GKJW Kebonagung, open house di Sekolah Kristen Pamerdi saya hadir. Dilaog Lintas Iman ini harus berlanjut sampai kapanpun juga. Agar Kecamatan Pakisaji, Desa Kebonagung, Kabupaten Malang, Jawa timur, Nusantara, Indonesia Raya tetap damai, ” kata Pak Hari Krispriyanto, Camat Pakisaji yang juga kolektor buku.

    Pak Bambang dari Polsek Pakisaji menyampaikan pesan apabila dalam bergaul sehari-hari menemukan dan mengetahui ada kegiatan-kegiatan yang menyimpang dari agama yang dianut mohon agar segera kontak Muspika.

     “TNI mempunyai tiga tugas pokok. Menegakkan kedaulatan Negara, menjaga keutuhan wilayah NKRI dan melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman. Ada dua cara yang dilakukan TNI yaitu dengan operasi militer perang dan dengan  cara operasi militer selain perang. TNI memasyarakatkan  4 pilar kebangsaan dengan tujuan agar masyarakat tumbuh lagi jiwa nasionalismenya. Saat perjuangan 45 kita bersatu tanpa melihat agama, suku.Hari ini  kita perlu saling memahami karakter masing-masing orang. Jangan sampai kejadian di Tolikara dan tempat-tempat lain yang mengarah ke SARA jangan sampai terjadi di Desa Kebonagung Kecamatan Pakisaji,” kata Kapten ARH Zaenuri, Danramil Pakisaji.

    Salah satu yang menarik dalam kehidupan beragama di Desa Kebonagung adalah terbentuknya Ikatan Keluarga Kristen (IK3) Desa Kebonagung sejak belasan tahun silam. IK3 Desa Kebonagung berperan aktif dalam menjaga toleransi kehidupan antar umat beragama. IK3 juga terbentuk di tingkat Rukun Warga. Ketua IK3 Desa Kebonagung, Bapak Happy Yulianto, turut hadir dalam Dialog Lintas Agama.” Kami mendukung positif kegiatan Dialog Lintas Agama di Desa Kebonagung agar kehidupan beragama di Desa Kebonagung tetap berlangsung damai seperti saat ini. Kami menghaturkan terima kasih kepada semua pihak yang telah menambah wawasan kepada kami agar kerukunan beragama tetap berjalan dengan baik,  juga sesuai dengan apa yang tertulis pada UUD 1945 pasal 29  ,” ungkap Bapak Happy Yulianto.


    Dialog Lintas Iman

    Narasumber yang hadir dalam Dialog Lintas Iman adalah Bapak Romadhon Kotib (Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Malang), Pdt Crestea Andrea  GKJW Sitiarjo, Pak Sutomo Adiwijoyo (Hindu) , Bapak Supeno (Budha), Bonsu Anton (Khonghucu), FX Sukardi (Katolik).

    Bapak Romadhon Kotib, Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Malang menjelaskan tentang Islam sebagai agama mayoritas. “Seorang peneliti dari Perancis pernah meneliti bahwa yang bisa membawa kedamaian adalah single mayoriti. Muslim di Indonesia adalah mayoritas, herannya sebagai mayoritas Islam tidak arogan namun berakhlak mulia. Muslim di Indonesia sangat sopan. Selama lima tahun peneliti dari Perancis tersebut meneliti Islam. Adalah wajar bahwa dalam kebhinekaan yang kita bina ada riak-riak kecil. Dalam kehidupan bertetangga, kita memiliki tetangga. Ada tetangga sesama muslim dan saudara, ada tentangga bukan saudara bukan keluarga namun satu agama, ada tetangga yang non muslim bukan saudara bukan seiman namun kita punya hak untuk saling hormat saling bermusyawarah. Yang paling sulit saat ini adalah komunikasi, yang kedua tabayyun klarifikasi. Kita mudah tersulut karena tak ada komunikasi dan klarifikasi serta bermusyawarah”.

    Pdt Crestea Andrea, GKJW; Bonsu Anton, Khong Hu Cu
    Pdt Crestea Andrea, GKJW Sitiarjo menelaah toleransi beragama berangkat dari perspektif sejarah. Melihat keindonesiaan masa lampau. “Tesis oleh Prof. Arysio Nunes dos Santos, Ph.D seorang fisikawan nuklir dan ahli geologi dari Brazil ditujukan mencari Atlantis benua yang hilang. Dia menemukan bahwa Atlantis di laut Jawa, pusat budaya di jaman purba, pulau gandum. Agama tidak masalah. Kekayaan nusantara siapa yang mengolah? Pelaku agama mulai berselingkuh dengan kekuasaan. Ketika agama berangkulan mesra dengan politik mulai masalah. Tolikara, Singkil tak lepas dari ekonomi, politik. Pemicunya adalah sumber daya alam. Ketika industrialisasi berselingkuh dengan agama disitulah masalah terjadi. Solusinya kita mulai dari problem bersama yaitu ekonomi. Di negara seperti Brunei, ekonomi sudah mapan problem agama tak terjadi. Bagaimana kita mensejahterakan bangsa ini tanpa dibayangi keekstriman dari masing masing agama.”

    Menurut Bapak Sutomo Adiwijoyo, mewakili umat Hindu, Dialog Lintas Agama merupakan kegiatan yang menarik dan dapat dikembangkan ke desa dan kecamatan yang lain. “ Dalam Agama Hindu ada beberapa ajaran. Trihitakarana bermakna indahnya hidup dalam kebhinnekaan. Apabila kamu ingin hidup harmonis, bahagia, sejahtera ada tiga hal yang harus kamu lakukan. Hubungan harmonis antara manusia dengan sang pencipta. Harmonis kepada sesama manusia, menjalin hubungan yang baik dengan lingkungan sekitar kita”.

    “ Saya jadi guru tahun 1961. Pensiun sudah 13 tahun. Sudah keliling 9 kota. Agama agemin aji, lakum dinukum waliyadin. Tidak usah ngrembuk perbedaan agama. Cintailah orang lain seperti mencintaimu dirimu sendiri. Kebahagiaan, ketentraman membuat orang kain senang dan berbahagia,” pesan Bapak FX Sukardi mewakili umat Katolik.

    Bapak Supeno, Perwakilan Umat Buddha Kabupaten Malang  berbagi pengalaman sebagai Ketua Perwakilan Umat Buddha Kabupaten Malang  (Walub). “Umat Buddha memiliki banyak aliran Buddha. Tantra gunung Kawi (Tantra Madatantrai, Wagir Tantra Pasugata, Ngadas, Dampit Terawada, Gedangan Buddha Jawa, Kasembon Buddha Jawa dan Terawada. Sesepuhnya adalah biku, pandita, resi, sanse. Karena umat Buddha punya prinsip yang sama yaitu hukum karma. Apa yang kita perbuat ngundhu wonge pakarti. Ketika hidup sampai mati kita jangan suka mengganggu orang lain, kalau bisa buatlah senang orang lain. Jangan mempersoalkan sembahyang dari berbagai macam majelis. Jangan melanggar aturan agama, agama hanya mengatur ketentraman hidup. Jangan mengganggu ketentraman negara sebab negara sudah ada yang mengatur. Kalau negara tenteram ekonomi lancar”.

     “Tahun 2566 lahir Nabi Khong Hu Cu. Tempat ibadahnya di  klenteng. Firmannya adalah setia akan firman Tuhan. Bertepo salira terhadap sesama. Berwatak sejati, cinta kasih, dapat dipercaya, kebenaran, susila, bijaksana. Firman Tuhan bahwa di empat  penjuru lautan kita semua adalah saudara,” kata Bonsu Anton,mewakili umat Khong Hu Cu.

    Epilog

    Pdt. DR. Yakob Tomatala dari  Badan Kerjasama Gereja-Gereja di Malang menyatakan bahwa kalau kita mau meningkatkan kebersamaan, meningkatkan kata saling mengasihi, saling tolong menolong, saling saling yang sifatnya positif maka kita harus menghindari saling yang sifatnya negativ. Maka kasus Tolikara tidak terjadi. “Malang adalah miniatur Indonesia yang menggambarkan kesatuan, keberagaman. Sangat berharap, setelah kita pulang dari Dialog lintas Agama kita tidak lupa. Perlu diimplementasikan di kehidupan sekitar. Yang besar menyayangi yang besar, yang kecil menghormati yang besar.”

    Bukan hanya Pdt.DR.Yakob Tomatala yang berharap adanya kerja kongkrit sepulang dari Dilalog Lintas Agama. Harapan serupa disuarakan oleh Pak Mateus, mewakili jemaat Kristen yang hadir.Dan seratusan peserta Dialog Lintas Agama yang hadir di Balai Desa Kebonagung.

    Pak Soleh, Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama  (FKUB) Kabupaten Malang memberikan catatan menarik bahwa saat Pak Sukri, menjadi Kepala Desa Kebonagung tahun 1989-1998, sudah pernah dibentuk forum kerukunan antar umat beragama di Desa Kebonagung. “Kami saling berkunjung ke tempat ibadah. Saya ke pura lima kali. Tiap hari besar agama warga saling silaturahmi. Dalam kesempatan ini FKUB mengusulkan agar  dibentuk semacam FKUB di Desa Kebonagung.Namanya bisa  Paguyuban Antar Umat Beragama.”

    Dan Bapak Teguh Santosa, Kepala Desa Kebonagung pun bersedia memfasilitasi terbentuknya Paguyuban Antar Umat Beragama di Desa Kebonagung.


    Penulis: Abdul Malik (Anggota Tim Dialog GKI Sinode Jatim dan anggota jemaat GKI Kebonagung. e-mail: filantrophi@gmail.com)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Dialog Lintas Agama di Desa Kebonagung Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top