728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Selasa, 31 Mei 2016

    Eichmann dan Memori Luka Manusia


    Kenangan atas Holocaust tidak pernah terlupakan hingga saat ini. Lebih dari enam juta orang terbunuh karena ras dan darah yang mengalir dalam tubuh mereka. Tidak ada opsi yang lebih baik daripada bekerja paksa di kamp kumuh dan mengakhiri hidup di kamar gas. Peristiwa genosida tersebut melukai memori dan kemanusiaan seluruh bangsa. Dalam usaha memperbaiki keadaan, dunia menyepakati pengadilan bagi para penjahat perang yang telah merencanakan dan melaksanakan genosida tersebut. Diantara beberapa tokoh Nazi terdapat satu nama, yaitu Adolf Eichmann yang kisahnya akan membawa kita kepada perenungan mengenai siapa manusia dan apa yang perlu kita bela.

    Pada tahun 1961 Adolf Eichmann diadili di Yerusalem karena perannya dalam Final Solution, ekseskusi lebih dari lima ribu orang Yahudi pada masa okupasi Nazi di Eropa Timur. Selama masa peradilannya, Eichmann menjadi pusat perhatian dunia. Tidak seperti akhir hayat penjahat Perang Dunia II yang diadili di Nuremberg pada tahun 1945 - 1946, Eichmann tidak mengaku bersalah atas keputusan genosida yang dituduhkan padanya. Melalui pengacaranya, Eichmann  menyatakan bahwa apa yang ia lakukan sebagai bagian dari penyelenggara Holocaust merupakan bentuk ketaatannya sebagai aparatur negara. Hannah Arendt yang menganalisis seluruh proses persidangan Eichmann menyatakan bahwa hingga detik terakhir hidupnya, Eichmann tidak melepas kebanggaannya terhadap Nazi.

    Tidak ada yang dapat merumuskan secara tepat apa yang diimani oleh Eichmann dalam hidupnya. Ia merupakan petinggi sekaligus arsitek Nazi dalam progran penghapusan ras Yahudi dan etnis lain. Eichmann mengetahui bahwa ia dihukum karena merupakan bagian dari kelompok penjahat perang terburuk yang pernah ada. Namun di dalam pernyataan sidangnya, ia tetap menganggap bahwa apa yang dilakukannya adalah bentuk tanggung jawab dari tugas yang diemban. Dengan kata lain Eichmann menyatakan bahwa jabatan dan tanggung jawab lebih penting dari ribuan nyawa yang bergantung pada keputusannya.

    Eichmann membuat masyarakat dunia bertanya – tanya tentang apa yang harus kita bela. Manusia selalu mengutamakan hak dibandingkan tanggung jawab. Dunia dalam beberapa abad terakhir terlalu sering mengemukakan hak asasi sebagai suatu yang patut diperjuangkan. Diskursus mengenai tanggung jawab kemudian terabaikan sehingga dipahami sebatas pentaatan norma, ajaran, hukum dan agama. Hal ini yang kemudian membuat Eichmann dan banyak manusia lainnya memiliki persepsi yang keliru mengenai tanggung jawab.

    Hak dan tanggung jawab merupakan sisi koin yang berbeda. Setiap hak memiliki beban tanggung jawab, dan demikian berlaku sebaliknya. Dalam memutuskan pengambilan suatu keputusan, tanggung jawab dan batasannya terhadap hak orang lain harus selalu diperhitungkan. Penitikberatan terhadap hak membuat manusia terfokuskan untuk memperoleh kebahagiaannya tanpa melihat batas wilayah kebahagiaan orang lain. Tuntutan pemenuhan hak membuat manusia menjadi dewa mitologis yang menginginkan persembahan tanpa harus melakukan apapun.

    Selama ini manusia hidup dengan hak dan tanggung jawab sebagai kodratnya. Karir atau jabatan hanya merupakan sepersekian dari keseluruhan tanggung jawab yang diemban manusia. Manusia memiliki tanggung jawab untuk menaati peraturan dan norma, ia juga memiliki tanggung jawab untuk bertahan hidup dan bekerja demi melakukan pemenuhan kebutuhannya. Namun hal yang tidak kalah pentingnya adalah tanggung jawab untuk menghormati keberadaan orang lain. John Rawls menyatakan bahwa kebebasan kesejahteraan manusia tidak dapat senilai dengan keunggulan aktivitas dan kerja mereka. Hak asasi manusia menuntut penghormatan atas keberadaan manusia, dengan begitu manusia juga harus melaksanakan tanggung jawab yaitu menghormati keberadaan setiap pihak, termasuk dirinya sendiri.

    Hak asasi manusia tidak dibuat untuk menjadi senjata kaum tertindas saja, namun dibuat untuk melindungi seluruh manusia. Hak asasi manusia bukan merupakan pakta yang dibuat untuk menguntungkan kaum menengah, melukai kaum atas dan menginjak kaum di bawah. Hak asasi dibuat untuk mengingatkan manusia kepada tanggung jawabnya untuk menghormati sesama.

    Manusia tidak dapat menuntut pemenuhan hak asasinya ketika ia melakukan penyiksaan terhadap orang lain. Sama halnya seperti Eichmann yang merasa bahwa ia berhak untuk terus bekerja kepada Nazi dengan cara mengeksekusi ribuan orang Yahudi. Siapakah manusia tanpa gelar atau jabatan? Adolf Eichman atau Karl Barbie tetap merupakan manusia secara utuh tanpa jabatan mereka. Manusia merupakan satu kesatuan jiwa dan raga yang memiliki tanggung jawab dan hak. Manusia juga memiliki berkah rasio dan hati untuk memilih batasan – batasan hidup. Manusia yang sejati adalah manusia yang memahamai bahwa nilai manusia adalah sama dimata penciptanya. Apa yang dilakukan oleh para penjahat perang Nazi adalah pengingkaran kemanusiaan. 


    Berdasarkan kata – kata Gus Dur, apa yang mereka lakukan adalah pengingkaran terhadap kemanusiaan (termasuk dirinya sendiri) dan Penciptanya. 

    Dengan mengutamakan cita – cita partai Nazi dan tanggung jawab jabatan dibandingkan hak – hak kemanusiaan, maka mereka tidak menjadi manusia secara utuh.

    Kejahatan perang membawa luka yang mendalam bagi dunia. Tidak ada lagi yang dapat kita ambil selain pelajaran dan perenungan betapa pentingnya tanggung jawab kemanusiaan dibandingkan dengan tanggung jawab perihal dunia lainnya. Gus Dur pernah mengatakan bahwa jabatan tidak perlu dipertahankan mati – matian. Dalam hal ini, jabatan tentu saja tidak dapat dipertahankan dengan mematikan kemanusiaan manusia lain. Seperti pandangan Teilhard de Chardin bahwa masa depan bukan semata mengenai kelangsungan hidup (survival). Masa depan adalah bagaimana manusia hidup berdasarkan penghormatan atas keberadaan hak dan kewajiban secara kolektif. Banyak pelajaran yang dapat kita peroleh dari Adolf Eichmann, yang berusaha menjadi manusia melalui tanggung jawab individualnya, namun lalai dalam mengingat tanggung jawabnya sebagai manusia secara kesatuan.


    Penulis: Dika Sripandanari (Penggerak Komunitas GUSDURian Kota Malang)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Eichmann dan Memori Luka Manusia Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top