728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Selasa, 31 Mei 2016

    Komunitas Berbasis Nilai-Nilai




    PEMBUKA

    Dengan semakin banyaknya terbentuk komunitas-komunitas virtual yang pada kenyataannya mampu menghubungkan secara riil orang-orang yang berasal dari beragam latar belakang dan minat terbaiknya, semakin penting untuk dipertanyakan bagaimana komunitas-komunitas itu mempengaruhi dunia melalui gerakan dan aksi-aksinya. Secara sepintas, dapat dikatakan, maraknya terbangun komunitas-komunitas adalah bukti bahwa tiap-tiap orang memiliki keinginan untuk menemukan sendiri bentuk terbaik struktur dan sistem yang berguna bagi dirinya.

    Bahkan ini bisa menjadi tanda bahwa bentuk-bentuk organisasi formal yang disediakan oleh sistem politik, agama, dan sosial kemasyarakat belumlah cukup menampung kreatifitas orang-orang dalam berelasi dengan orang lain dan sekaligus melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri, orang lain, dan lingkungan sosial alam yang ada disekitarnya.

    Tentu ini khabar baik yang patut disambut dengan optimis. Namun juga menimbulkan banyak kekhawatiran ketika masuk dalam kesadaran kemampuannya untuk memanipulasi dan dimanipulasi, kemungkinannya untuk melakukan hal-hal yang baik bagi kehidupan bersama atau sebaliknya, serta kecenderungannya untuk tidak tergantung kepada apapun yang menjadi prasyarat akuntabilitas dan keterbukaan arah agendanya dalam mencapai tujuan.

    MACAM RAGAM KOMUNITAS

    Komunitas yang mengarusutamakan media sosial sebagai alat membangun jati diri dan realsi antar anggotanya, maupun jati diri dan keterbukaan dalam berjejaring dengan komunitas lainnya berkembang dan tumbuh subur dalam bentuk, model, aksi, kecenderungan, tujuan, dan konsep pemikiran yang sangat beragam. Belum lagi jika kita melihat padanan-padanan yang muncul, meme dan penjiplakan model dan gaya, bahkan nama, akan nampak bahwa semangat anarkhi dalam berorganisasi dalam masyarakat di era digital ini menemukan wujudnya yang paling kuat. Masyarakat semakin sadar bahwa mereka memiliki hak dasar untuk membangun relasi, membentuk organisasi, dan mengoperasikan minat terbaiknya dalam organisasi itu dengan sebebas-bebasnya tanpa intervensi dari pihak manapun.

    Sejauh yang penulis amati dan rasakan bergerak bersama dengan macam-macam komunitas itu, ada beberapa bentuk yang paling menonjol:

    KOMUNITAS FUNGSIONAL

    Komunitas fungsional bisa berupa organisasi besar yang berskala nasional maupun internasional. Ciri utama komunitas ini adalah menjalankan fungsi tertentu dari sebuah agenda, ideologi, idea dan utopia tertentu. Karena dia adalah komunitas fungsional, maka seluruh bentuk pengorganisasian dijalankan sebagai fungsi tertentu dari sebuah gerakan dan tujuan besar yang sudah disediakan, direncanakan, dan ditentukan oleh pihak-pihak yang diposisikan sebagai penguasa, pemegang kendali. Pemilik otoritas tertinggi.

    Visi, misi dan nilai-nilai yang disusun oleh komunitas fungsional seringkali rumit bersaling-silang dengan peraturan-peraturan, perundangan, dan kebijakan politik kekuasaan. Mudah sekali komunitas seperti ini membuat legalisasi lengkap dengan dokumen-dokumen yang menguatkan posisinya di muka hukum. Semudah itulah komunitas ini digunakan dan menjadi sangat aktif bergerak bersama dengan masyarakat, semudah kevakuman dan in-absensia mereka saat tidak sedang difungsikan oleh kekuasaan sekalipun pada saat itu sangat dibutuhkan kehadirannya di tengah masyarakat.

    Bentuk organisasi komunitas fungsional biasanya hierarkhis dengan menempatkan orang-orang penting atau public vigur dalam jajaran pucuk pimpinan, orang-orang yang dekat dengan birokrasi pemerintahan atau orang-orang yang bekerja dalam perusahaan baik pemerintah maupun swasta yang memiliki program dan produk barang/jasa sesuai dengan program pemerintah. Mereka bisa duduk di posisi penasehat, barisan ketua, atau pengurus inti dari komunitas fungsional. Dengan bentuk seperti ini komunitas fungsional bekerja dengan sangat efektif karena mendapatkan suport sepenuhnya baik dalam gerak politisnya maupun dalam pendanaan yang mereka butuhkan.

    Kadang dengan legitimasi yang mereka miliki saja, komunitas fungsional seperti ini dengan mudah bisa menggalang dukungan dari berbagai pihak.

    Aktivitas komunitas fungsional bisa meliputi apa saja, mulai dari kegiatan sosial yang berbentuk charity bagi-bagi sembako dan donor darah, sampai kegiatan yang komplek pemberdayaan masyarakat yang menstimulasi pertumbuhan kepandaian, ekonomi, dan kesadaran politik. Dalam tiap aktivitasnya selalu nampak sebuah pesan bahwa masyarakat adalah entitas yang patut dikasihani, ditolong, didorong, dan difasilitasi selain oleh institusi yang resmi juga oleh organisasi-organisasi dari luar realitas masyarakat itu sendiri.

    KOMUNITAS HOBY

    Komunitas ini lebih sederhana dan to the point. Mereka terbangun dari kesamaan kesukaan dan hobi tertentu. Dan keberhasilannya diukur berdasarkan kepuasan yang diperoleh dengan melakukan kesukaan bersama itu. Bentuk kesukaan itu bisa beragam dari yang paling sederhana pada benda-benda kecil hingga benda-benda mahal, bahkan sampai pada kesukaan melakukan hal-hal tertentu dari yang sederhana hingga yang rumit.

    Suporter adalah bentuk paling umum dan paling komplek dari komunitas ini. Militansinya tidak bisa diragukan. Kesetiakawanannya kadang melampaui hubungan persaudaraan. Dan aksi yang dilakukannya bisa memberi pengaruh yang luar biasa terhadap media. Keanggotaan dianggap sebagai identitas penting yang ditunjukkan lewat simbolisasi maupun gaya hidup tertentu.

    Namun selalu jelas, target utama komunitas ini adalah mengeksplorasi kesukaan yang dimiliki semua anggotanya secara maksimal baik itu berpengaruh terhadap masyarakat atau tidak.

    KOMUNITAS AKSI

    Dulunya model komunitas ini didominasi oleh gerakan-gerakan mahasiswa dan petani/buruh. Sekalipun diterpa oleh perubahan iklim politik tertentu yang dengan mudah memanipulasi bentuk yang mereka bangun, komunitas berbasis aksi selalu memiliki target jangka pendek yang jelas, tegas dan kadang dipaksakan untuk segera terjadi.

    Kadang ada visi besar dan penanaman idiologis misi yang sangat kuat dalam komunitas ini yang bisa jadi menghasilkan revolusi dan reformasi pada sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. Pada kenyataannya komunitas aksi adalah gerakan strategis untuk melakukan perubahan atau menghalanginya tergantung pada tujuan jangka pendek yang diperjuangkan.

    Komunitas terbangun karena empati yang mendalam, dan bentuk paling riil dari aktivitasnya adalah gerakan masa. Sekalipun dibutuhkan proses yang tidak mudah untuk membangkitkan komunitas seperti ini, kehadirannya selalu menjadi perhatian istimewa karena kekuatan isu yang disuarakannya dan sekaligus juga kekuatan masa yang dimilikinya. Komunitas aksi adalah bentuk paling efektif untuk mempromosikan ide dan gagasan yang menjadi suara hati dari kebanyakan orang. Oleh karena itulah, ide dan gagasan baru yang ditopang oleh kharisma para relawan pemimpin masa adalah kunci keberhasilan dari komunitas aksi.

    KOMUNITAS BERBASIS RITUAL

    Berkaitan dengan agama atau tidak, pada kenyataannya ada kelompok-kelompok yang terbangun berdasarkan ritual tertentu. Ritual disini dalam pengertian yang sangat luas, yaitu sebuah urutan upacara tertentu yang dijalani secara masif oleh masyarakat dan yang prakteknya didorong secara terus menerus oleh para penggerak intinya. Mereka bisa disebut agamawan, budayawan, paranormal, penyiar TV, salesman/women, guru/dosen, boss/juragan, tetua kampung, siapa saja yang kata-kata dan tindakannya mempengaruhi pikiran banyak orang untuk melakukan hal-hal yang sama, mengkonsumsi hal-hal yang sama, dan bergaya hidup sama.

    Bentuk ritual juga beragam, tergantung pada selera, kemauan, dan dorongan hati masing-masing kelompok. Dari bentuk yang paling sederhana keinginan untuk membuat rambut semakin berkilau atau menemukan rasa aman, hingga yang paling kompleks tak mudah dimengerti untuk bisa sukses, hidup bahagia, atau masuk sorga. Komunitas berbasis ritual menempatkan prasyarat upacara-upacara itu sebagai cara terbaik mencapai tujuan yang diinginkan. Prasyarat upacara itu memiliki keluasan interpretasi pemaknaan dan intensitas simbolik yang sangat beragam pula.

    Namun satu hal yang bisa dipastikan, orang secara bersama-sama menjalaninya dengan kesungguhan hati, pikiran dan bahkan perasaan baik itu dengan kesadaran penuh ataupun dengan keraguan yang tak pernah terpuaskan.

    Model kepemimpinan dalam komunitas berbasis ritual adalah yang paling kuno, paling langgeng (hingga sekarang masih ada), paling diminati oleh komunitas apapun, namun sekaligus juga yang paling berbahaya. Karena dalam komunitas ini kharisma dan power diletakkan di tangan pihak-pihak yang paling mampu (atau dianggap mampu) memahami, memiliki, dan menjelaskan akumulasi aset terbaik komunitas itu. Jadi alasan utama dibangunnya secara struktural model kepemimpinan sebenarnya seperti sebuah piramida korban, yang paling bawah adalah yang paling menanggung beban terberatnya.

    KOMUNITAS BERBASIS NILAI

    Setiap orang menjalani pilihan hidupnya – yang entah disadari atau tidak – berdasarkan nilai-nilai keutamaan yang secara personal dipercayai dan terinternalisasi secara utuh dalam dirinya. Nilai-nilai itu bisa positif dan negatif. Nilai yang negatif akan dengan sendirinya membentuk kepribadian dan tindakan yang negatif pula. Sekalipun selalu kontekstual ukuran sebuah nilai keutamaan itu mengejawantah menjadi positif atau negatif, setidaknya bisa ditengarai kecenderungannya. Oleh karena itu nilai-nilai keutamaan hidup ukuran utamanya juga terletak pada gambaran kehidupan yang dibangun dan hendak dituju.

    Komunitas berbasis nilai menyibukkan dirinya untuk mempraktekkan nilai-nilai keutamaan hidup itu dalam konteks tertentu. Sifat kontekstualnya tidak hanya terdapat pada cara terbaik yang bisa dan mampu dilakukannya tetapi juga tujuan-tujuan yang hendak dicapainya. Oleh karenanya, komunitas berbasis nilai selalu fleksibel dalam bentuk pengorganisasian dan pergerakannya, namun selalu mengikatkan keseluruhan susunan komunitas pada usaha menghidupi nilai-nilai dan mengabarkannya.

    Visi komunitas berbasis nilai terutama pada utopia ideal yang nyaris bersifat ilahi; sebaik-baiknya kehidupan bersama orang lain dalam alam semesta.

    Oleh karenanya misi komunitas berbasis nilai, atau alasan orang-orangnya berada dalam komunitas itu bisa sangat luas beragam pula. Dia tidak tergantung pada latar belakang yang sama, dia tidak pusing dengan kesukaan atau selera yang bertentangan, dia tidak terganggu dengan ide-ide baik itu yang sangat kuno maupun yang sangat progresif. Para anggotanya merasa nyaman dengan beribu perbedaan, karena justru perbedaan itulah yang dipercaya akan terus menerus menguji nilai-nilai keutamaan itu mengejawantah menjadi sesuatu yang positif atau tidak.

    Sistem dan struktur organisasi komunitas berbasis nilai juga tidak bisa diukur dengan komponen-komponen model pengorganisasian pada umumnya, apalagi model pengorganisasian yang diatur dan dikendalikan oleh sistem kekuasaan. Apakah itu kekuasaan birokratis-politis maupun kekuasaan sosial-ekonomis. Dua hal yang selalu menjadi batu sandungan keberadaan sebuah komunitas. Struktur dan sistem komunitas berbasis nilai sangat fleksibel, mudah menemukan relevansinya dalam beragam konteks dan dalam tiap pelaksanaan birokratisnya menekankan untuk sebanyak-banyaknya menimba pesan reflektif daripada keberhasilan teknisnya.

    Model kepemimpinan yang dikembangkan adalah heterarchy daripada hierarchy. Yaitu kepemimpinan yang menempatkan kesetaraan dalam berelasi personal sebagai dasar dari sistemnya. Tidak ada ordinasi dan subordinasi, karena fungsi seperti itu hanya akan menghambat pelaksanaan dan penebaran nilai-nilai. Bentuknya selalu seperti rembugan, jagongan, cangkrukan meja bundar atau kotak. Semua orang menemukan kebebasan dalam perasaan terbaiknya untuk bisa dengan minatnya masing-masing mengekspresikan nilai-nilai hidupnya pada orang lain. Selalu ada jendela dan pintu yang terbuka untuk dapat menghirup udara ide dan pemikiran baru, bahkan untuk jalan keluar dan masuk siapapun menentukan pilihannya.

    EVALUASI SEMENTARA

    Tentu saja tidak akan ada yang berani menyebut bahwa sebuah komunitas bentuknya adalah yang terbaik dan melampui yang lainnya. Tiap-tiap bentuk komunitas memiliki kekuatan dan kelemahannya masing-masing. Tiap orang bisa memilih bentuk tertentu untuk tujuan tertentu, untuk alasan tertentu, dan untuk membangun jatidiri tertentu sesuai yang dikehendaki. Deskripsi singkat ini adalah upaya untuk secara terbuka berani menilai terutama diri sendiri. Sedang berada dimanakah kita?

    Dengan kesadaran bahwa tiap-tiap tindakan orang merepresentasikan sebuah dasar/basis dari komunitas, setidaknya kita bisa belajar bahwa yang namanya komunitas itu dimulai dari diri kita sendiri, dari apa yang ada di pikiran dan perasaan kita. Dimana kita berada (dalam komunitas seperti apa), itu akan memperlihatkan siapa diri kita, bukan apa komunitas kita itu.


    Penulis: Kristanto Budiprabowo (Penggerak Lintas Komunitas- dan Presidium Jaringan GUSDURian Jatim)


    Tulisan awal ini termuat di~> http://bit.ly/1TT7qSy ditulis sebagai pengantar di forum Local Meeting Komunitas Gusdurian Malang, 28 Mei 2016 di Majelis Agung Balewiyata.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Komunitas Berbasis Nilai-Nilai Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top