728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Selasa, 31 Mei 2016

    Local Meeting: Forum Evaluasi dan Reformulasi Gerakan Komunitas


    Sabtu, 28 Mei 2016 semestinya menjadi hari libur bagi kebanyakan orang, namun tidak bagi segelintir penggerak perdamaian yang asyik berkumpul di Majelis Agung Balai Wiyata, Sukun – Malang. Tempat yang konon Mendiang Kyai Haji Abdurrahman Wahid rutin memberi pengajaran tentang islamologi kepada para pimpinan (pendeta) disini.

    Mulai pagi, satu persatu peserta berkumpul sejak di jamuan sederhana pembuka Local Meeting Gusdurian Malang ini. Mereka yang hadir dari latar belakang yang sungguh beragam, baik dari agama, ras, suku, profesi dan usia Walau hanya ditemani kopi, teh dan roti sebagai penyangga perut namun seluruh pegiat perdamaian siap untuk terlibat secara langsung mensukseskan pertemuan penting ini .

    Waktu menunjukkan pukul 11.00 dan yang hadir pun bergegas menuju pendopo pertemuan. Semua mulai mengambil tempat yang nyaman agar dapat mengikuti pertemuan dengan baik. Beberapa duduk miring, bersandar, tegak bahkan tiduran menanti dimulainya acara resmi itu. Tak luput juga asap rokok dan secangkir kafein menambah kekhasan dan hangatnya atmosfer agenda para pencinta Gus Dur ini.

    Pengarah acara, Mas Billy Setiady menggenggam mic sebagai penanda diawalinya perjumpaan. Ketika dipersilahkan berdiri, ucap pemandu memimpin hadirin berdiri tegak sambil menyanyikan merdu Indonesia Raya. Lagu kebangsaan yang menjadi nyanyian nasional yang sering dilantunkan pada acara-acara resmi, tidak resmi dan bahkan ada juga yang menyanyikannya di kamar mandi dengan suara lantang dan semangat membara seakan berada di medan juang.

    Hingga dilanjutkan dengan sambutan penuh nada humor seolah tak terpisahkan dalam pertemuan atau nostalgia di “Local Meeting” ini.

    Ketua pelaksana, Saiful Haq menyampaikan selayang pandang tentang agenda local meeting. Menurutnya acara ini diadakan untuk menjawab sekaligus mempertegas keresahan anggota komunitas mengenai timbulnya berbagai macam diaspora gerakan baru ditubuh komunitas ini yang semakin meluas. 


    Tidak hanya itu, pertemuan ini juga berorientasi pada internalisasi nilai dan merapikan kembali komunikasi dalam komunitas Gusdurian Malang. ~Saiful Haq~

    Selanjutnya sesi pemaparan selayang pandang oleh Bapak Tatok tentang tindak lanjut dari forum Rakornas Jaringan GUSDURian Nasional yang sempat digelar di jogjakarta sebelum forum lokal ini diadakan.

    Bapak Pendeta yang terkesan nyentrik dan juga presidium Jaringan GUSDURian Jatim ini menyampaikan beberapa model organisasi (komunitas) diantaranya : organisasi berbasis hobby, fungsional, ritual, aksi dan nilai.

    Gusdurian Malang selama ini telah memilih model heterarki (bukan hierarki) sebagai model jejaring relasi. Beliau menekankan pada kepemimpinan berbasis nilai yang selama ini digunakan sebagai bagian dari ruh perjuangan. Menurutnya banyak dari model tersebut yang jatuh dengan sendirinya karena tidak menjadikan nilai sebagai nafas dalam setiap gerak mereka. Oleh karena itu Gusdurian Malang disarankan untuk terus menggunakan bentuk organisasi tersebut”. Ungkap Pak Pendeta Tatok

    Suasana di forum lokal meeting ini berubah dengan sekejap ketika sosok humoris maju ke depan forum. Dialah Anas Ahimsa yang sering mengocok perut dengan kelakarnya yang unik nan ramah. Dia mengawali dengan bercerita seputar periodesasi Gusdurian Malang. Meski materi yang disampaikan terbilang berat dan disertai keluh kesah dalam merawat dinamika komunitas ini, namun tak sedikit dari pendengar yang terhibur dengan gaya khasnya. Oleh karena itu materi historisitas Gerakan GUSDURian Muda (GARUDA) Malang menjadi bagian yang cukup menarik dalam rangkaian pertemuan lokal tersebut.

    Begitulah dia, pribadi yang hampir tak pernah tampak marah. Anas seakan mengingatkan kepada sosok seperti Nelson Mandela, Mahatma Gandhi dan Gus Dur.

    Anas menambahkan bahwa harus diingat adalah bahwa komunitas ini (Gusdurian Malang) adalah hasil kolaborasi gerakan lama (yang diinisiasi para sesepuh), dengan Garuda sehingga lahirlah nama Gusdurian Malang. Hingga komunitas kebanggan bersama inilah yang ada dalam database SekNas (Sekretariat Nasional) JGD hingga sekarang.

    Sesi berikutnya dilanjutkan dengan Selayang Pandang tentang Komunitas Gusdurian Malang dalam konteks hari ini dan Masa Depan, yang dipaparkan oleh Moh Fauzan (Kordinator) Gusdurian Malang, ia menuturkan perjalanan sejarah gerakan komunitas dari waktu ke waktu melalui rekam gambar.

    Dari sana nampak bahwa komunitas ini terus berupaya memperjuangkan perdamaian, salah satunya GMuP yang dalam waktu dekat ini akan mengorbitkan buku berjudul; JALAN DAMAI KITA “Sebuah Inspirasi dari Gerakan Menulis untuk Perdamaian”, berkunjung ke tempat ibadah, dialog dengan tokoh agama, dan tokoh masyarakat tentang berbagai hal, advokasi lingkungan, bantuan kemanusiaan, diskusi lintas iman, Garuda Rising, kegiatan sosial dan budaya serta agenda lain.

    Hal ini setidaknya mencerminkan sosok Gus Dur yang multidimensi dan kita senantiasa terus belajar darinya. Perlu dilakukan proses untuk mengatur pola komunikasi yang  telah lama terjalin dengan spirit nilai yang telah diyakini oleh Gusdurian Malang.


    Dalam forum local meeting ini juga diadakan diskusi panel dengan yang diisi materi, mendengar sudut pandang Komunitas Gusdurian dari perwakilan peserta Kelas Pemikiran Gus Dur (KPG) Mas Rouf Hanif, embrio komunitas Ngaji Literasi (NgaLit) Mbak Ria A.S, Gubuk Tulis Mas Muis Liddinillah, Jaringan Kampus Bapak Trianom Suryandharu, dan Pendeta Suwignyo dari IPT Balewiyata. 

    Hingga saat sore, dari pojok muncul suara dari tubuh tegap, berkaca mata sambil melinting tembakau khas hasil keringat petani negeri ini, dengan racikan sesuai selera sehingga kepulan asap menari di awal sambutannya. Dia biasa disapa mas Wasis, seorang lelaki yang aktif dalam pengolahan biogas dari kotoran hewan ini menjadi fasilitator local meeting di sesi evalusasi dan reformulasi gerakan komunitas.

    Menurut Mas Wasis, Setiap komunitas atau organisasi pasti memiliki semacam visi, misi, nilai, strategi, taktik, aksi, dan sebagainya yang menjadi kesepakatan atau pemahaman bersama bagi seluruh anggotanya. Poin nilai inilah yang seringkali diabaikan oleh organisasi, hanya biasanya diganti dengan motto, yang biasanya digunakan sebagai acuan untuk membuat strategi. Sedangkan komunitas ini harus memikirkan isu strategis, reformulasi gerakan dan strategi planning dalam jangka waktu satu tahun bahkan beberapa tahun ke depan. Komunitas ini juga harus menjadi komunitas intelektual organik yang mengedepankan nilai sebagai spirit utama.

    Salah satu sesepuh (Pak Mahfur) menyampaikan bahwa apa yang kita lakukan saat ini, bersilaturrahim, berada dalam satu forum dengan misal kelompok baha’i, akhmadiyah, dll, merupakan salah satu rupa pembelaan kita kepada kelompok-kelompok yang perlu dibela. Pembelaan tidak selalu harus turun ke daerah mereka.


    Dengan pendekatan atau apa yang telah terjadi hari ini merupakan pembelaan yang levelnya lebih tinggi daripada pembelaan yang harus turun ke lapangan. Dapat berkumpul bersama mereka telah melakukan nilai kesetaraan. ~Moh Mahfur~

    Tak terasa akhirnya ice breaking selama satu jam menjadi penengah kala ibadah tiba dan lapar dahaga mulai terasa. Ada yang melakukan salat (bagi muslim), makan, ngopi, nonton televisi dan ada pula yang asyik ngobrol. Perjamuan singkat itu mereka gunakan sebagai wahana penambah mesra, kebersamaan, persaudaraan dan nostalgia. Memang beginilah kiranya mereka yang selama ini komunikasi dan koordinasi lewat dunia maya.

    Semua melangkah menuju aula hingga tidak ada kursi pun yang tersisa. Sesi ini semakin hangat dengan membahas strategic planning dan bagaimana merapikan Gusdurian Malang yang tetap difasilitasi oleh Mas Wasis.

    Semua yang hadir, termasuk para penggerak Komunitas Gusdurian Batu yang terlihat penuh semangat hingga akhir forum, menyampaikan pendapatnya satu persatu sehingga diperoleh konsep pola komunikasi dan koordinasi,  Internalisasi, eksternalisasi dan diseminasi 9 nilai, serta strategic empowering dan aktualisasi secara personal dan komunal.

    Dan, sekitar pukul 21.30 wib agenda local meeting Gusdurian Malang 2016 ini di akhiri dengan doa bersama lintas iman, yang dipimpin oleh Mas Viky Maulana.

    _____________________________________________________________________

    Pewarta: Amri A.s
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Local Meeting: Forum Evaluasi dan Reformulasi Gerakan Komunitas Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top