728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Jumat, 24 Juni 2016

    Kesadaran Diri Dalam Spiritualitas Budhis



















    Perjalanan Safari Damai Ramadhan Gusdurian Malang tiba di Vihara Dhammadhipa Arama Batu diterima Bhante Jayamedho (20/6/2016). Ulasan puasa menjadi bahan refleksi menarik terutama ditinjau dari sudut pandang laku puasa para pengikut Budhis. Refleksi Bhante Jayamedho menohok dan bisa menjadi asupan spiritual bagi kami yang muslim yang kebetulan menjalankan ibadah ramadhan.

    Puasa, menurut Jayamedho, itu berasal dari tradisi Budhis yang dikenal dengan istilah wasa. Wasa diberlakukan bagi para Bikhu. Mereka mengendap, berdiam diri di Vihara selama tiga bulan. Para Bikhu tidak diperkenankan keluar dari Vihara kecuali memang ada urusan yang benar-benar sangat penting. Kalau terpaksa keluar, maksimal dibatasi selama satu minggu harus kembali ke Vihara.

    Selama tiga bulan, laku wasa dijadikan sebagai kesempatan membangun diri. Wasa menjadi proses peperangan melawan diri sendiri.  Bhante Jayamedho berkata, "berperang melawan orang lain itu mudah, tetapi berperang melawan diri sendiri jauh lebih sulit." Perang melawan orang lain itu lebih mudah apalagi melihat keburukan orang lain akan cepat diketahui sementara jika melihat apa yang ada di diri kita yang jelek akan sulit terlihat. Maka "wasa (puasa) juga jalan bagi manusia untuk lebih banyak mengawasi diri sendiri daripada mengawasi orang lain," sebuah kalimat yang seringkali dikuatkan kembali oleh Bhante Jayamedho yang juga pernah bertemu Gus Dur.

    Mengapa diri sendiri harus diperangi? Ada dorongan keserakahan yang perlu dikenali pada seseorang, khususnya keserakahan negatif. Kalau keserakahan positif masih diperkenankan, seperti keinginan membuat tempat ibadah atau keinginan positif lainnya.  Di sini puasa sebagai upaya mengenali keserakahan kita dan mengendalikannya melalui penglihatan diri. Puasa seharusnya justru seseorang bisa lebih irit dalam mengonsumsi makanan, tetapi banyak dijumpai justru puasa menjadikan seseorang lebih serakah. Biaya makan yang harusnya cukup lima belas ribu, saat puasa justru lebih tinggi biaya konsumsinya. Puasa yang baik justru bisa menekan konsumsi menjadi sepuluh ribu sementara sisa uang lima ribu diberikan kepada orang lain sebagai amal.

    Puncak Budhis bukanlah semangat religiusitas yang berhenti pada praktik-praktik ritual, tetapi puncak Budhis adalah kesadaran diri tertinggi yang mampu mengelola kesadaran pikiran menjadi manusia dengan sepenuh kekuatan pengendalian diri. (Bhante Jayamedho)

    Ini ibarat tamparan bagi kita yang muslim ketika berpuasa, justru kebutuhan konsumsi meningkat tajam. Kondisi itu ibarat kritisisme Jayamedho atas praktik puasa yang tidak mampu mengendalikan keserakahan. Dia katakan mengapa kebutuhan pokok saat Ramadhan menjadi naik, karena puasa memang menstimulasi hasrat makan (keserakahan) yang tidak dikenalinya dengan baik. Ada berbagai fakta keserakahan yang tidak hanya soal hasrat konsumsi, ada berbagai jenis keserakahan lain juga yang perlu dikenali. Penemu kendali keserakahan dapat ditingkatkan melalui puasa sehingga ketika keserakahan mampu dikendalikan, seseorang bisa membersihkan diri atau terjaga dari dosa-dosa.

    Samadi, kesadaran diri menuju puncak spiritulitas

    Bagaimana memerangi diri sendiri? Menurut Jayamedho memerangi diri sendiri dapat dilatih dengan cara Samadi. Samadi adalah jalan melihat diri sendiri dengan cara mengenali pikiran-pikirannya sendiri. Samadi bukanlah mengosongkan pikiran atau menemukan keheningan tanpa suatu isi. Samadi menjadi jalan bagi pikiran untuk mengenali apa yang dipikirkan seseorang, baik yang positif maupun yang negatif. Obyek pikir negatif dikenali untuk kemudian disingkirkan agar tidak menguasai diri. Pikiran positif terus dikenali untuk dipupuk sebagai kekuatan diri. Samadi berarti bisa juga sebuah momentum mengelola pikiran sebagai suatu aktifitas meningkatkan kesadaran diri secara penuh. Menurut Jayamedho, pikiranlah pusat dari tindakan baik dan buruk. Pikiran merupakan sebuah pijakan yang melahirkan perilaku karena segala sesuatu yang menyangkut kehidupan selalu bersumber dari pikiran.

    Pengelolaan pikiran ini dilakukan dengan duduk-diam. Sebuah aktifitas penyadaran pikiran dalam rangka mengawasi diri sendiri. Semakin rumit kiranya cara ini ketika pikiran kita berkecamuk. Kecamuk tersebut perlu terus dikenali dan ditata dalam pikiran sehingga akan diperoleh sejumlah peta pemikiran yang baik dan yang buruk. Kegiatan ini juga disebut sebagai aktifitas meditasi, yakni suatu cara bagaimana seseorang mengawasi (memonitoring) dirinya sendiri. Saya bisa menangkap kegiatan ini seperti sebuah refleksi intrapersonal. Dialog intrapersonal untuk memosisikan pikiran kita kedalam cara berpikir otentik, bahkan melahirkan kebijaksanaan.

    Dialog intrapersonal ini saya tafsirkan sebagai penemuan orisinalitas berpikir. Namun demikian meditasi ini akan sampai pada dimensi Moha. Yaitu kenyataan dimungkinkan seseorang mengalami yang salah pandangan atau pengertian. Suatu misal, pandangan yang baik dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Begitu sebaliknya, pandangan yang buruk dianggap sebagai sesuatu yang baik. Agar supaya tidak terjadi hal demikian, oleh karena itu hasil meditasi ini perlu dikonsultasikan kepada seorang guru.

    Proses ini semua sebagai salah satu usaha para Bikkhu untuk mengendalikan pikiran dan dalam rangka untuk meningkatkan kesadaran. Inilah momentum penting dalam agama Budha bagaimana spiritualitas diri sangat ditentukan oleh kesadaran tertinggi pemikiran seseorang.

    Setelah puasa, para Bikhu berlanjut untuk bergegas ke orang lain untuk melakukan permintaan maaf. Cara meminta maafnya dimulai dari yang tua ke yang muda. Senior ke yunior. Ini adalah niat baik melawan tradisi paternalistik, bahwa yang tua adalah yang selalu benar dan dihormati. Bagi para Budhis, tidak demikian. Konsep yang tua meminta maaf ke yang muda tidak lain adalah sikap rendah hati. Lalu yang muda baru meminta maaf dan petunjuk. Cara meminta maaf seperti ini bagian dari membangun keteladanan.

    Keutamaan lain dari ajaran Budha adalah membantu dan jangan mengganggu. Ini adalah perasan dari keutamaan hidup yang perlu dipahami untuk meningkatkan kesadaran diri. Menurut Jayamedho, kebanyakan dari kita lebih mudah mengganggu orang lain tetapi jarang mau membantu orang lain. Membantu orang lain untuk meningkatkan peran-peran baik, dan jika tidak demikian maka manusia dianjurkan tidak boleh mengganggu. Sudut pandang orang lain dengan demikian ditempatkan sebagai satu usaha pro-aktif dalam berhubungan dengan orang lain dan dilarang kehadiran kita dalam peran-peran publik merugikan orang lain dengan berbagai.



    Penutup

    Banyak orang-orang beragama, tetapi belum laku, yakni memiliki perangai yang tidak mencerminkan nilai-nilai keagamaannya oleh karena proses muhasabah (menurut bahasa islam) yang tidak dikedepankan dalam kerangka menemukan pikiran-pikiran yang otentik. Kemampuan menguasai diri sendiri adalah suatu pijakan spiritualitas yang berpusat pada kemampuan menyucikan pikiran jernih bagi setiap pribadi.

    Sebagaimana spirit kembali kepada diri itulah kemudian nilai-nilai Budhis pun mengedepankan pada kemampuan seseorang untuk membantu orang lain. Ini merupakan sebuah kendali agar setiap orang tidak terjebak pada keserakahan atau terjebak pada hasrat kepemilikan.

    Bantu, jangan ganggu. Penegasan kalimat ini bahwa beragama adalah proses aktif dalam rangka mendorong peran-peran yang membantu orang lain untuk memperoleh kebahagiaan tidak hanya menunggalkan kepemilikan diri, alias keserakahan.

    Saya mencoba membandingkan dengan praktik beragama dalam sudut pandang pengalaman pelaku-pelaku agama Samawi dengan agama Timur seperti Budhis yang lebih antroposentris. Sebagaimana dikatakan Jayamedho, puncak Budhis bukanlah semangat religiusitas yang berhenti pada praktik-praktik ritual, tetapi puncak Budhis adalah kesadaran diri tertinggi yang mampu mengelola kesadaran pikiran menjadi manusia dengan sepenuh kekuatan pengendalian diri dari doktrin keakuan dan mengejawantahkan afirmasi perilaku berbagi, membantu orang lain dan tiadanya tabiat yang selalu suka menggangu orang lain. Saya kemudian menilai bahwa penekanan Budhis lebih pada suatu pencapaian pertemuan daya pikir yang mampu menjernihkan diri sendiri dan berdarma untuk kehidupan.

    Sementara laku agama Samawi yang terlalu berkutat secara religius (berpatokan pada laku syariat yang formalistik), dan terlalu mengunggulkan hasrat eskatologis (menuju Tuhan), kerapkali menimbulkan ketidakhadiran secara lebih pro-aktif dalam darma kemanusiaan, tetapi lebih cenderung pada tingkatan paling ekstrem terjerembab pada konflik kebenaran tentang Tuhan. Agama Samawi, dalam kasus-kasus konflik, lebih berorientasi melakukan pemtasbihan (penyucian) tentang ketuhanan sehingga titik tengkar ini menghabiskan energi debat dan perebutan atas nama Tuhan yang mengabaikan dialog-dialog kemanusiaan.

    Bagi agama-agama Timur, pergulatan kesadaran diri yang berfokus pada pencarian kehadiran manusia yang otentik di kehidupan realitas menjadi lebih riil bisa dirasakan karena laku terakhir ada di pencapaian kemaslahatan kehidupan manusia yang bisa dirasakan langsung. Laku ajaran tidak berlaku untuk mencari jalan suci menuju Tuhan tetapi jalan suci menjadi manusia yang baik di kehidupan, manusia yang bersih secara diri dan berkonstribusi secara sosial. Meskipun tetap ada pembedaan terhadap dinamika denominasi (aliran/mazhab) tetapi tidak menimbulkan eskalasi konflik yang masif. Bagi agama Samawi, eskatologisme, yang berarti perjuangan menuju kemuliaan di sisi Tuhan dan usaha mendapatkan kemuliaan akhirat dan syurga, tidak jarang telah melahirkan obsesi pembelaan itu hingga menimbulkan destruksi kemanusiaan. Saya perlu tegaskan ini adalah sebuah contoh kasuistis dan bukan pandangan generalisasi. Namun, banyak sekali agama-agama Samawi yang ujung tombak pertikaian teologis membawa implikasi pada konflik hidup, bahkan menjadi laten.

    Inilah sebuah makna yang saya simpulkan dari sekilas hasil dialog bersama Bhante Jayamedho sebagai bagian afirmasi spiritualitas bersama para Budhis. Semoga bisa menjadi renungan untuk kesalehan kemanusiaan kita.

    Jombang, 21 Juni 2016


    Penulis: Mohammad Mahpur (Inisiator dan Penasihat Gusdurian Malang)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Kesadaran Diri Dalam Spiritualitas Budhis Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top