728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Kamis, 30 Juni 2016

    Ngaji Puasa dan Toleransi di Klenteng Eng An Kiong Kota Malang



    Malang- Derasnya hujan Minggu ini (19/06) tidak menghalangi pejalan damai Ramadhan kawan Gusdurian Malang. Safari damai berlanjut menuju lima kilometer, berhenti tepat di Klenteng Eng An Kiong Kota Malang, dekat pasar besar kota Malang.

    Para musafir hadir di klenteng dengan wajah sumringah, karena segera dipertemukan dengan saudara sebangsa dan setanah air. Disamping itu, kami merasa bahagia telah diperkenankan ngaji bareng bersama umat konghucu di kota Malang tentang tradisi puasa dan toleransi.
    Sebagaimana kilometer sebelumnya, saat bertemu umat muslim, katolik dan kristen dalam membincang tradisi puasa masing-masing. Saat itu bersama Bunsu Anton (Ketua Yayasan Klenteng), umat Konghucu dan pemuda konghucu kami dapat wawasan berharga mengenai tradisi puasa dan toleransi.
    Hendrawan, pemuda konghucu mengawali bahasan sore tadi dengan menukil sabda Nabi dalam kitab Zhong Yung Bab XV, “Sungguh Maha Besarlah Kebajikan Gui Shen, dilihat tidak nampak, didengar tidak terdengar, namun tiap wujud tiada yang tanpa Dia. Demikianlah menjadikan umat manusia di dunia berpuasa, membersihkan hati dan mengenakan pakaian lengkap sujud bersembahyang kepada-Nya. Sungguh Maha Besar Dia, terasakan diatas dan di kanan-kiri kita”. Sabda nabi tersebut menganjurkan umat konghucu untuk melakukan puasa. Puasa dalam tradisi konghucu berbeda dengan islam, dalam konghucu puasa tidak bersifat wajib atau lainnya, akan tetapi lebih pada sebuah kebajikan.
    Bunsu Anton menambahkan bahwa dalam konghuchu ada juga ritual menghormati arwah, yang disebut sembahyang rebutan. Sembahyang Rebutan secara etimologi, Jing Hao Peng, yang terdiri atas kata Jing berarti menghormati, sedangkan Hao Peng atau lengkapnya Hao Peng You artinya sahabat baik, suatu istilah atau sebutan bagi para arwah. Ritual tersebut lazim disebut King Ho Peng (Lafal Hokkian), atau Sembahyang Rebutan yang menjadi sebutan yang populer karena suatu ketika saat usai memanjatkan doa, para arwah merasuki tubuh umat yang bersembahyang, serentak memperebutkan sesajian yang ada. Jing Hao Peng sangat erat kaitannya dengan upacara sembahyang Zhong Yuan atau Qi Yue Ban. (Bulan VII : 15 Imlek). Saat sembahyang itu lah, kita dianjurkan pula untuk berpuasa (puasa vegetarian).
    Bunsu Anton melengkapi bahwa umat konghucu tidak terlalu menekankan dalam urusan berpuasa, akan tetapi bagaimana umat bisa berbuat kebajikan, sebagaimana yang diajarkan nabi-nabi konghuchu. Begitu pula dalam agama islam, ketika Muhammad diseru untuk mengajak umatnya berakhlakul karimah (budi luhur) atau keshalihan. Karena segala kebajikan atau keshalihan akan mendapat balasan kebaikan (pahala) pula dari Tuhan. Meskipun umat konghucu tidak mengenal surga dan neraka.
    Setelah menapaktilasi tradisi puasa dan toleransi dalam prespektif konghucu, musafir dari lintas iman memaparkan tradisi puasa dalam agama nya masing-masing. Selanjutnya, dilanjutkan pada aspek toleransi beragama, bahwa hidup berdampingan itu sangat indah ketika kita saling berdialog dan dengan itu kita tidak lagi memperdebatkan perbedaan, akan tetapi yang menjadi hal substansif ialah nilai-nilai kebangsaan yang terus terimplementasikan dalam laku keseharian.
    Diakhir momen itu, kami mengakhiri safari di lima kilometer dengan berbuka bersama lintas iman dan sholat bagi yang muslim. Tak lupa, hal yang paling sakral dalam mengakhiri setiap acara safari ini ialah doa dan foto bersama. Sekian

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Ngaji Puasa dan Toleransi di Klenteng Eng An Kiong Kota Malang Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top