728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Jumat, 17 Juni 2016

    Pasar Tradisional­­ dan Kuasa Perempuan


    Hampir sebagian orang pernah ke pasar tradisional. Saya sendiri kalau sedang longgarpun setiap minggu bisa dipastikan belanja ke pasar tradisional untuk kulakan bahan-bahan bisnis kreatif "Sambel Bledeg Mbak Atik." Luput dari itu semua, anda sudah menyadari atau tidak jika pasar tradisional pun dipenuhi oleh para perempuan pelaku usaha. Mulai dari yang tidak punya kios hingga yang punya kios besar.

    Pasar tradisional menjadi gambaran sebuah kuasa perempuan. Mereka memiliki akses ekonomi otonom dan terdistribusi secara dinamis guna mewarnai aktifitas ekonomi masyarakat. Kesetaraan gender yang begitu nyata tercermin secara aktual di pasar tradisional.

    Kuasa perempuan yang terdistribusi di pasar tradisional mengisyaratkan hadirnya nilai kesetaraan. Coba lihat, ada perempuan pelaku usaha yang tidak punya kios dan duduk di pinggiran jalan lorong-lorong pasar. Meski mereka pengusaha dengan modal gurem, mereka tetap diakui eksistensinya. Mereka tidak disingkirkan dan terusir sebagai pelaku ekonomi. Pasar tradisional menyimpan nilai kuasa perempuan, bahwa mereka setara dan diakui perannya sebagai pelaku ekonomi oleh para pemilik kios yang modalnya besar.

    Relasi mereka tidak kompetitif, tetapi koeksistensial. Apa itu? Mereka sama hadir untuk memperoleh kuasa mendagangkan barang-barangnya tanpa ada usaha membangun persaingan yang kontra-produktif. Para perempuan mengambil peran yang cukup signifikan.

    Kehadiran perempuan di pasar tradisional merupakan cerminan bahwa mereka memiliki kemampuan produktif sebagai pemilik modal. Mereka bukan subyek-subyek tereksploitasi atau buruh yang dikuasai oleh para pemilik modal di luar dirinya. Merekalah penguasa atas modal. Para perempuan di pasar tradisional adalah subyek otonom. Mereka mampu menggerakkan alat produksi mereka menggunakan keahliannya atau minat dagang mereka. Para perempuan di pasar tradisional berhubungan satu dengan yang lainnya secara setara tanpa membeda-bedakan posisi mereka. Bahkan mereka telah keluar dari sistem eksploitasi keperempuanan. Maksudnya, kehadiran mereka di pasar tradisional tidak didefinisikan demi kepentingan pemilik modal. Mereka bebas mempresentasikan dirinya. Mereka tidak harus patuh pada cara-cara penyeragaman dan penonjolan seksualitasnya. Mereka bebas menentukan teknik kehadiran tubuhnya tanpa harus didekte oleh pemilik modal.

    Bahkan perempuan-perempuan lansia mampu eksis dan diberi kelonggaran untuk juga mengambil akses ekonomi. Tidak hanya dibatasi oleh perempuan-perempuan muda, pasar tradisional mengakui representasi perempuan lansia sebagai bagian yang turut membangun geliat ekonomi. Inilah bagaimana perempuan hadir di pasar tradisional dengan beragam eksistensi. Para perempuan lansiapun tidak didiskriminasi. Semarak kehadiran mereka menjadi salah satu bagian dari kuasa perempuan yang tidak dibatasi oleh usia-usia produktif.

    Coba kita bandingkan dengan pasar modern seperti Mall. Perempuan hadir dengan diseragamkan dan harus patuh pada pemilik modal. Mereka yang ditonjolkan untuk menarik psikologi konsumerisme bukan kebutuhan bebas yang mereka presentasikan. Kebanyakan perempuan di pasar modern berada dalam kuasa pemilik modal dan sangat kecil sekali mereka hadir oleh karena kepemilikan modal. Kesetaraan perempuan dalam pasar modern sebagian besar adalah kesetaraan kelas pekerja yang diakui oleh karena keahliannya dibutuhkan oleh pemilik modal. Sekali lagi mereka bukan subyek otonom tetapi subyek yang terikat oleh kontrak kerja dengan majikannya. Mereka dilahirkan dari sekolah-sekolah dan boleh jadi lulusan perguruan tinggi, tetapi otonomi mereka harus berada dalam kontrol pemilik modal. Mereka diakui kehadirannya terbatas pada usia-usia peoduktif dan bahkan kerapkali mereka didefinisikan tubuhnya berdasarkan kepentingan pemilik modal. Para lansiapun tidak pernah akan kita jumpai di pasar modern. Ekspektasi geliat ekonomi pasar modern telah melokalisir menjadi identitas istimewa perempuan yang seragam.

    Mereka boleh jadi bergaji besar tetapi representasinya tidak membebaskan perempuan.

    Suatu misal kita lihat dalam konteks ekspresi emosi. Perempuan di pasar modern boleh jadi kemerdekaan emosinya juga tidak boleh heterogen. Mereka dituntun menjadi pelayan dengan keseragaman ekspresi dan berbagai tata-cara mengelola ekspresi menggunakan gerak tubuh dan kata-kata verbal yang seragam. Semua berada dalam kerangka mengamankan pemilik modal agar para pelanggan mampu dilayani dengan baik. Bukan berdialog merdeka dan bebas, tetapi dialog dengan pelanggan perlu dibatasi dalam koridor melayani saja, dan menjamin kepuasan pelanggan dengan menyanjung atau memperlakukan laksana raja. Hubungan-hubungan di dalam proses pelayanan dengan demikian sebuah pertanda hubungan-hubungan penuh dramaturgi, yakni sebuah pola relasi yang harus diatur sedemikian rupa, bukan relasi natural.

    Relasi yang syarat dengan skenario dramaturgi tersebut tidaklah menguasai perempuan di pasar tradisional. Mereka memiliki ekspresi emosi sebagai penjual, bukan sebagai pelayan. Ekspresi mereka lebih original merepresentasikan kehidupan secara alamiah. Bagi yang memang memiliki watak cair dengan orang lain, maka dia akan cenderung melayani pelanggan dengan renyah dan penuh prinsip relasional yang baik. Ada juga yang ekspresinya tidak ramah dalam kesehariannya, boleh jadi akan menjadi karakter bagi proses menjalin relasi dengan para pelanggannya. Di sini perempuan heterogen ditemui sebagai bukti kehadiran diri yang otonom. Mereka pun bukan subyek pasif dalam membangun relasi dengan pelanggan. Mereka memiliki hubungan komunikatif dengan pelanggan. Produk-produk mereka bisa ditawar dan tidak mengenal harga pas sebagaimana di pasar modern. Di pasar tradisional ada nilai transaksi yang dinamis untuk membangun kesesuaian ekspektasi atas barang dagangan. Relasi ini menghidupkan hubungan antara penjual dan pembeli sebagai subyek aktif yang memiliki ruang negosiasi untuk menyamakan nilai atas barang. Ini merupakan mekanisme jual beli yang pro-aktif. Relasi seperti ini pun direpresentasikan oleh para perempuan di pasar tradisional. Mereka terlibat sebagai pelaku dan subyek aktif dalam berelasi dengan pelanggan.

    Untuk itulah, sebenarnya spektrum otonomi perempuan di bidang ekonomi bisa kita temui di sejumlah pasar tradisional dan tidak semerata jika di banding dengan pasar modern. Namun, kerap kali pasar tradisional sering menjadi obyek penghancuran melalui alasan-alasan renovasi menuju pasar modern. Pasar modern seperti Mall Dinoyo sebenarnya telah menghancurkan kebebasan otonomi perempuan. Mereka harus disingkirkan demi sebuah privilege pemilik modal maskulin yang mendiskriminasi kehadiran perempuan ke arena-arena pinggir.

    Pasar tradisional menyimpan representasi perempuan yang mandiri secara ekonomi tetapi minim keberpihakan. Pasar tradisional dengan begitu menghidupi ekonomi masyarakat lebih meluas yang berbeda dengan sistem kapitalisme. Oleh karena itu, pemerintah perlu membuat kerangka kebijakan mengenai peremajaan pasar tradisional yang seharusnya memihak kegiatan ekonomi perempuan. Jika demikian, peremajaan pasar selama ini masih kental terjadinya kekerasan gender, yakni memihak pemilik modal (investor) yang didominasi oleh kekuatan maskulin dan meniadakan para perempuan otonom yang terlibat aktif sebagai pelaku ekonomi di pasar tradisional.

    Para perempuan tradisional mampu bersuara, bukan perempuan pesuruh yang semata-mata menjadi pelayan majikan.

    Semoga tulisan ini memberikan inspirasi kebijakan dan pengelolaan pasar tradisional sebagai ruang menjamin sustainabilitas otonomi perempuan sebagai pelaku ekonomi.


    Penulis: Mohammad Mahpur (Penasihat Gusdurian Kota Malang)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Pasar Tradisional­­ dan Kuasa Perempuan Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top