728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Kamis, 30 Juni 2016

    Pendidikan Kritis untuk Perempuan Desa



    Perempuan desa secara jamak notabene berada dalam akses pendidikan rendah. Keterbatasan ini meniscayakan pengetahuan dan pengalaman terkini tidak mudah diserap sehingga para perempuan desa mengalami berbagai kendala untuk meningkatkan kemampuan dirinya setara menyesuaikan diri dengan perubahan sosial atau tuntutan kehidupan.
    Bahkan perempuan tidak menyadari bahwa dirinya berada dalam zona terabaikan dan terdiskriminasi. Mereka sampai tidak bisa melakukan perlawanan atas pengabaian dan diskriminasi tersebut sampai memunculkan rasa tidak berdaya.
    Lebih dari itu banyak perempuan mengalami intoleransi terhadap segala bentuk-bentuk diskriminasi karena mereka dipaksa merekonstruksi penerimaan dirinya terhadap keadaan tersebut. Mereka dilarang seperti itu, meskipun tidak melakukan perlawanan kelas, kesadaran akan peningkatan pengetahuan dan keterampilan praktik perempuan desa butuh didorong dan dibimbing.
    Upaya ini agar perempuan desa bisa mengakses perkembangan pengetahuan dan turut berkonstribusi untuk produktif berkembang menjadi manusia yang bebas dari berbagai bentuk pengabaian dan diskriminasi.
    Fifi Salma Safitri, sosok perempuan aktivis di Kota Batu, tidak ingin hal itu langgeng bagi perempuan desa. Berdasarkan hal inilah dia merintis Sekolah Perempuan, kalau saya tidak salah ingat, sudah ada di lima desa di wilayah Batu. Menurutnya Sekolah Perempuan merupakan wadah agar perempuan mampu melawan penindasan. Sekolah Perempuan menjadi sangat penting diselenggarakan di desa karena masih banyak para perempuan yang riwayat pendidikannya hanya lulusan sekolah dasar. Sekolah perempuan menjadi wadah bagi perempuan desa untuk memperbaiki diri.
    Untuk itu Fokus pembelajaran Sekolah Perempuan mengacu pada tiga strategi pembelajaran yakni strategi membangun pengetahuan strategis, pengetahuan praktis dan ketrampilan. Tiga strategi ini dilaksanakan secara bertahap dan berkesinambungan. Contohnya parenting. Pengetahuan ini juga bisa dipraktikkan secara langsung. Di bidang kesehatan lingkungan, di sana mereka belajar memahami sanitasi lingkungan dan sekaligus mempraktikkannya.
    Jika mengajarnya melulu teori, akan tidak menarik di mata para perempuan yang notabene mereka adalah lulusan sekolah dasar
    Semakin lengkap belajarnya dan menjadi lebih menarik jika ada keterampilan tertentu. Seperti membuat handycraft, menjahit, membatik dan lain-lain. Cara-cara belajar ini sangat penting bagi mereka.
    Di bidang politik, para perempuan ini juga dilatih berdialog dengan para anggota Dewan Perwakilan Rakyat di kota Batu, mengorganisir dan menggerakan setiap elemen yang ada di lingkungan mereka.
    Semua dilakukan dalam rangka untuk menyelaraskan antara dunia teori dan praktik, selain dikuatkan juga dengan keterampilan handycraft. Bahkan, para perempuan desa ini diajari dan praktik langsung berdemonstrasi untuk menyuarakan kepentingan-kepentingan umum menyangkut hak-hak perempuan.
    Tiga strategi tersebut penting dijadikan sebagai pijakan metodologis Sekolah Perempuan. Sekolah Perempuan menjadi antitesis belajar di sekolah formal atau perguruan tinggi. Fifi menegaskan metode belajar sekolah perempuan diprioritaskan agar sejalan dengan dunia praktis yang bisa diterapkan secara langsung oleh kaum perempuan.
    Cara belajarnya pun juga tidak melulu berjibaku dengan teori-teori yang melangit sebagaimana di sebuah perguruan tinggi. Untuk itu, tiga matra yakni pengetahuan strategis, pengetahuan praktis dan ketrampilan merupakan dasar kurikulum yang dikembangkan untuk memperkaya suasana belajar di Sekolah Perempuan.
    Cara belajar tersebut harus dipahami oleh para pengajarnya. Agar para pengajarnya bisa menyesuaikan diri, maka mereka akan diundang untuk dijelaskan metode yang perlu diterapkan untuk mengajar para peserta Sekolah Perempuan. Jika mengajarnya melulu teori, akan tidak menarik di mata para perempuan yang notabene mereka adalah lulusan sekolah dasar.
    Perempuan dan Volunteerisme
    Sekolah Perempuan bukan Lembaga Swadaya Masyarakat, meskipun Salma Safitri jebolan aktifis lembaga swadaya masyarakat. Inilah yang menarik. Dia katakan, “untuk mengurusi Sekolah Perempuan, saya bagi kegiatan saya 40 persen dan 60 persen untuk mencari nafkah.”
    Sudah banyak lulusan sekolah perempuan yang diselenggarakan secara mandiri. Kemandirian ini tentunya mereka membiayai seluruh proses pelaksanaan sekolah perempuan.

    Secara manajerial, “Sekolah Perempuan digerakkan oleh tiga perempuan yang dibagi secara berbeda. Salma mengurusi materi pengetahuan strategis, Siti Yulaikah mengurusi materi pengetahuan praktis dan Dinna Sari bertanggungjawab atas materi ketrampilan,” tutur perempuan yang juga aktifis Gusdurian Kota Batu.
    Sekolah Perempuan digerakkan oleh para perempuan dengan semangat mandiri dan kegotongroyongan. Mereka mencari pendanaan dengan cara event organizer ala perempuan desa, yakni bazar. Hasil bazar ini akan menjadi uang kas untuk operasional Sekolah Perempuan. Dimana semuanya direncanakan dan diorganisasi oleh para alumni Sekolah Perempuan. Uang ini cukup untuk membantu operasional seperti membeli alat tulis, membiayai pulsa dan bensin dari pengurus inti.
    Bagi saya di dalam kerelawanan terkandung nilai kekesatriaan dalam melakukan gerakan meningkatkan kualitas hidup perempuan desa melalui percepatan pengetahuan dan keahlian di berbagai bidang kehidupan yang dapat dipraktikkan secara langsung oleh para perempuan.
    Usaha ini menjadikan perempuan mampu mengembangkan diri secara mandiri dan bebas dari ketergantungan donor. Mereka berani mengubah hidupnya sendiri dengan caranya sendiri tetapi dilakukan secara berkelompok (gotong royong).
    Padahal Fifi merupakan jebolan lembaga swadaya masyarakat yang lebih banyak bertumpu kegiatan pendampingan seperti ini disokong oleh pendonor. Namun Dia mampu keluar dari pengalaman masa lalu dan melakukan gerakan perempuan desa untuk maju. Semangat mengelola Sekolah Perempuan antara lain adalah semangat kepedulian bagi nasib sesama.
    Perempuan yang bisu ketika mengalami penindasan, tetapi bagi Fifi dengan keterlibatan mereka pada Sekolah Perempuan, setidaknya mereka tidak diam dan bahkan bisa melawan dengan gerakan sadar bersama. Sekolah perempuan kemudian menjadi bagian dari bentuk-bentuk penyadaran domestik dan publik bahkan politik bagi para perempuan desa ini.
    Spirit lainnya adalah mandiri. Semua kegiatan Sekolah Perempuan dibidangi oleh para perempuan desa. Mereka diajak untuk mengurus, mengatur dan menghidupkan secara bersama-sama sekolah tersebut sehingga tumbuh kesadaran personal dan tanggungjawab komunal.
    Suatu contoh sebagaimana dikisahkan oleh Fifi, saat belajar handycraft, bahan untuk belajar lebih dulu dibelanjakan oleh panitia, setelah itu diganti oleh masing-masing peserta. Uang gantinya biasanya iuran dua ribu sudah cukup, tetapi karena terlalu kecil, maka mereka mengakumulasikan iurannya menjadi lima ribu. Semangat persaudaraan, kegotongroyongan dan kesetaraan menjadi kekuatan mandiri keberlangsungan Sekolah Perempuan.
    Bagaimana menghadirkan para pengajar Sekolah Perempuan? Semangat kerelawananlah yang juga dikedepankan. Fifi mengajak dan menggunakan jejaring profesional dari berbagai kalangan untuk mendedikasikan diri kedalam spirit kerelawanan professional, bisa datang dari pegawai pemerintahan, lembaga swadaya masyarakat, para praktisi, dan perguruan tinggi. Semangatnya menggeret mereka ke Sekolah Perempuan, lagi-lagi menurut Fifi adalah semangat melawan langit biru pengetahuan.
    Semakin pengetahuan itu hanya diajarkan di kampus, atau di pusat-pusat pembelajaran formal, pengetahuan semakin berjarak dengan realitas. Sekolah Perempuan menjadi antitesis langit biru pengetahuan. Para profesional yang digeret ke Sekolah Perempuan setidaknya mereka akan bisa memahami bagaimana kesinambungan ilmu pengetahuan dengan realitas mampu dijadikan sebagai tonggak perubahan masyarakat. Melalui kekuatan jejaring, Salma Safitri bergegas melakukan perjumpaan yang menyelamatkan pengetahuan dari menara gading kampus, tembok LSM, atau hantu birokrat.
    Volunteerisme menjadi ruh menejemen Sekolah Perempuan dan sebagai kekuatan yang berkelanjutan. Apalagi para alumni Sekolah Perempuan pun pada akhirnya juga menjadi bagian penting dari tenaga-tenaga baru di desa untuk merawat Sekolah Perempuan
    Kekuatan ini tidak hanya ada di Desa Sidomulyo atau Dusun Kapru Desa Gunungsari Kota Batu, tetapi sudah ada pilarnya di dua desa lainnya.
    Kerelawanan (volunteerisme) adalah kekuatan demokrasi yang penting untuk memajukan perempuan. Pada konteks Sekolah Perempuan, kerelawanan menjadi kekuatan mandiri membangun keberdayaan perempuan untuk setara dengan yang lain. Meskipun mereka hanya berijazah sekolah dasar, tetapi pelibatan mereka telah memberikan konstribusi perlawanan dari ketertinggalan pengetahuan berikut berbagai realitas yang mengancamnya oleh karena ketidaktahuannya.
    Bagi saya sendiri Sekolah Perempuan adalah wadah bagi setiap warga untuk aktif berperan melibatkan diri kedalam perubahan dan meningkatkan daya ungkit perempuan menjadi berpengetahuan, kompeten, mandiri dan berkonstribusi. Tidak perlu dikhawatirkan ini menjadi perlawanan gender. Keberadaan mereka perlu diapresiasi bagi pengembangan perempuan desa yang acapkali tidak pernah memiliki akses terhadap perbaikan kualitas hidup mereka karena setelah mereka lulus sekolah, menikah dan masuk dalam ruang domestik, akses terhadap pengetahuan dan inovasi diri terputus dalam peran-peran domestik yang absolut.
    Begitulah persaksian saya kali ini, mendatangi pembukaan bazar Sekolah Perempuan, yang dibuka bukan oleh para pejabat publik, tetapi justru dibuka oleh punggawa Gusdurian Batu, Mas Ahmad Jazuli. Ini yang menurut saya keren.

    Joyogrand, Rabu 29 Juni 2016
    ___________________________________________________________________________

    Penulis : Mohammad Mahpur (Konsen di Psikologi Komunitas Desa dan Gusdurian Malang)
    Editor   : Amri As




    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Pendidikan Kritis untuk Perempuan Desa Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top