728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Senin, 27 Juni 2016

    Pluralisme Sowan dan Makanan



    Dalam sebuah buku berjudul “Fatwa dan Canda Gus Dur” karya Kang Maman Imanulhaq Faqieh, saya dapati gagasan Gus Dur yang unik saat berdialog di buku itu, namun saya hanya bisa tuliskan kembali dengan ungkapan yang tidak sama persis. Bahwa,  Gus Dur “Sang Kiai idola” anak-anak muda lintas iman ini mengatakan saat kita (orang jawa) mencicipi makanan padang, orang Kalimantan menikmati makanan jawa, orang lamongan menyantap sate Madura, dan lain-lain sebagainya.

    Disitu tanpa disadari kita telah mempraktikkan tentang Pluralisme dari contoh paling sederhana, dengan saling mengenal aneka makanan yang beragam dan dinikmati pula oleh orang-orang yang berbeda satu sama lain.

    Pluralisme makanan, menurut Gus Dur, merupakan jalan untuk menjaga keindonesiaan, yang sejak semula di antara warganya mempunyai komitmen untuk hidup berdampingan secara damai, tanpa ada konflik. Diantara setiap kelompok..

    Bertepatan momentum “Bulan Suci” Ramadhan tahun 2016 ini, saya bersama kawan-kawan komunitas Gusdurian Malang yang menginisiasi sebuah kegiatan bertajuk SAFARI DAMAI RAMADHAN. Kegiatan yang bisa dibilang sedikit unik, karena Safari ini bertujuan untuk mengupas filosofi serta tradisi puasa perspektif agama-agama dan kepercayaan.

    Dengan melakukan silaturrahmi (sowan) ke komunitas yang sungguh beragam seperti Syiah, Pemuda Katholik, Pondok Pesantren Sabilurrosyad, GKI Tumapel, Klenteng En Ang Kiong (Konghucu), Vihara Dhammadipa Arama (Budha), Baha’i, Kejawen Boworoso, Jemaat Ahmadiyah.

    Saat berdialog, mungkin saya yang tidak begitu fokus mengikuti karena sering jalan-jalan untuk mengambil foto (dokumentasi), namun saya dapat mengambil pesan (refleksi kecil) yang barangkali saja penting dari tradisi dan makna puasa perspektif lintas agama dan kepercayaan itu, bahwa; Hakikat utama umat manusia menjalani puasa ialah untuk belajar menahan diri, agar mampu menjadi manusia yang ber”taqwa”.

    Mengikuti Safari alias keliling lintas komunitas yang beragam ini, saya mendapati “suguhan” yang khas dan mengesankan. Mulai dari keramahan tuan rumah, suasana obrolan dialog tentang tradisi puasa yang tentunya juga tidak luput dari anekdot dan humor-humor yang menghadirkan gelak tawa. Serta ciri khas “jamuan” ramah tamah yang dihidangkan kepada kami (muslim yang sedang berpuasa ramadhan) saat tiba adzan maghrib untuk berbuka. Meski, beberapa agenda Safari Damai Ramadhan juga ada yang dilakukan seusai sholat isya’ dan tarawih.





    Dari setiap putaran jadwal Safari ini yang saya ikuti, saya mendapati rasa kenikmatan tersendiri sajian makanan yang diberikan, seperti saat berkunjung ke Klenteng saya merasakan Kolak dan Nasi Sayur Sop dalam racikan “khas” orang cina. Ketika bersafari ke komunitas boworoso saya juga merasakan suasana dan menu makanan yang sedikit khas balutan tradisi jawa. Dihari berikutnya, saat bersafari dan “ngaji” ke Pesantren Syabilurrosyad, saya seperti bernostalgia kembali dengan sebuah masa dimana saya pernah hidup sebagai “anak nakal” alias santri didalamnya. Dalam tradisi Santri atau Pesantren, adalah momentum berkah saat ada waktu untuk makan-makan yang biasanya disantap secara berbarengan dengan satu “nampan” atau tempat makan ala kadarnya, seringkali juga beralaskan daun pisang, dan tentunya yang paling mengesankan bagi saya ialah “kompetisi” secara sehat, rebutan makan antar santri. 

    Sementara pada kesempatan bersafari yang lain kemantapan konsumsi hidangan kecilnya tidak jauh beda, untuk menggambarkan, Inilah Indonesia yang Plural”!

    Safari Damai Ramadhan juga sebagai sarana untuk saling berkenalan dalam perjumpaan secara langsung (sowan), karena beberapa tempat atau komunitas yang yang dikunjungi belum rasanya dikenali orang per orang, dan sebagian yang lain bisa dikata sudah saling kenal cukup lama.

    Barangkali saja untuk satu hal diatas, jika diambil point manfaat itu adalah bagian dari gebrakan kecil dalam bahasa komunitas Gusdurian Malang, untuk memperluas jaringan persaudaraan, memperkuat “hubungan emosional” dan tentunya semakin menghidupkan sumbu 9 (songo) nilai pemikiran Gus Dur, di tengah-tengah komunitas kita sendiri yakni, masyarakat kota malang.

    Yang pasti, ini adalah pengalaman pertama saya menjalani ibadah puasa ramadhan dalam suasana jamuan (silaturahim dan makan) dengan lintas menu, lintas suasana, dalam keakraban dan persaudaraan lintas manusia yang beda agama dan kepercayaan.

    Jika Pluralisme hanya diartikan saling memahami antar perbedaan dalam konteks agama, itu akan menjadi sesuatu yang menakutkan

    Safari Ramadhan – Kunjungan Natal

    Embrio dari Safari Ramadhan ini sebenarnya saya perhatikan, bisa bercermin dari rutinitas yang “istiqomah” dilakukan saban tahun oleh barisan gusdurian muda malang ini, berupa kunjungan damai pada perayaan hari besar umat Kristen, Natal.

    Kunjungan (sowan) Natal, yang telah berjalan tiga tahun terakhir besar kemungkinan akan berjejak dengan munculnya Safari Ramadhan dalam balutan tali perdamaian ini. Di awal, memang  berjalan ala kadarnya alias “amburadul”, hingga berdiaspora kebeberapa titik lokasi yang lain hingga semakin mantap, rapi dan mengesankan.

    Dan, langkah kecil dalam kepercayaan diri yang cukup besar dari anak-anak muda pecinta Gus Dur (Garuda) di kota “satu hati” Malang ini menjadi penting untuk terus disulut nyala apinya, hingga tak pernak padam menerangi.

    Singkat kata, tentang Safari Ramadhan dan Kunjungan Natal, hemat saya itu spiritnya kurang lebih sama. Hanya saja beda waktu dan tempat.

    Terakhir….

    Semoga saja, apa yang dilakukan oleh komunitas yang bersumbu nilai Ketauhidan, Kemanusiaan, Keadilan, Kesetaraan, pembebasan, persaudraan, ksederhanaan, keksatriaan serta kearifan lokal seperti Gusdurian Malang yang terinspirasi dari “Sang Kiai Idola” Gus Dur ini, mampu selalu menebar damai dan keberkahan, seperti datangnya bulan suci Ramadhan yang katanya penuh rahmat bertebaran ini. Hanya Tuhan yang Maha Tahu!!

    “Teruslah semangat dalam mengerakkan tradisi kultural, untuk semakin meneguhkan Indonesia yang plural”.


    Salam Damai Pembebasan
    Anas Ahimsa
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Pluralisme Sowan dan Makanan Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top