728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Minggu, 26 Juni 2016

    Yang Selalu Absen Saat Ramadlan


    Saat Ramadlan baru berjalan kurang dari 10 hari, media massa telah dipenuhi oleh berbagai aksi mengejutkan yang mengusik nalar dan nurani publik. Adalah Ibu Saeni yang menangis terbalut kalut saat segerombolan Satpol PP Serang Banten menyita kasar makanan yang ia jual siang hari.

    Sementara itu ancaman razia warung dan restoran juga dilontarkan oleh Kepala Satpol PP Banjarmasin. Disana sweeping bahkan dilakukan terhadap warung-warung yang menjual makanan bagi non-muslim (babi), yang bahkan konsumennya sangat mungkin bukan muslim.
    Jika puasa merupakan bulan penuh rahmat, benarkah praktek-praktek represif ini mencerminkan keadaban yang ingin dibangun oleh komunitas Islam di Indonesia?
    Ramadlan represif juga diterapkan oleh Camat Leuwiliang Bogor. Ia dengan arogan menghukum push-up 13 warganya yang kedapatan makan saat camat ini menggelar sidak ke warteg-warteg. Fotonya menyebar secara viral di jejaring sosial. Tidak jelas apakah yang dihukum tersebut semuanya muslim yang wajib puasa atau ada diantara mereka boleh tidak berpuasa.

    Yang menyesakkan, berbagai tindakan ini tidak sepenuhnya muncul secara spontan. Alih-alih, upaya ini merupakan konsekuensi atas diberlakukannya regulasi setingkat perda di wilayah-wilayah tersebut. Beberapa regulasi khusus terkait ramadhan diantaranya, Perda Kab. Pasuruan No. 4/2006 tentang Pengaturan Membuka Rumah Makan, Rombong dan sejenisnya pada Bulan Ramadhan, Surat Edaran Walikota Tanggerang (Agustus 2008) tentang Penutupan Sementara Usaha Jasa Hiburan selama Bulan Suci Ramadhan dan Idul Fitri 1429 H IX, Perda Kab. Banjar No. 10/2001 tentang Membuka Restoran, Warung, Rombong dan yang sejenisnya serta Makan, Minum, atau merokok di tempat umum pada Bulan Ramadhan, dan Perda Kab. Hulu Sungai Utara No. 23/2003 tentang Ramadhan. Regulasi sejenis juga telah lama dibuat oleh beberapa kabupaten/kota lain, misalnya Perda Kab. Banjar No. 5/2004 tentang Ramadhan (Perubahan Perda Ramadhan No. 10 tahun 2001), Perda No. 4/2005 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kota Banjarmasin No. 13/2003 tentang Larangan Kegiatan Pada Bulan Ramadhan, serta Peraturan Daerah nomor 5 tahun 2014 Kabupaten Pamekasan tentang Penertiban Kegiatan pada Bulan Ramadhan.

    Jika puasa merupakan bulan penuh rahmat, benarkah praktek-praktek represif ini mencerminkan keadaban yang ingin dibangun oleh komunitas Islam di Indonesia? Mengapa aksi-aksi "suci" ini mendapat perlawanan publik, baik berupa kecaman hingga gerakan donasi yang viral di media sosial dalam kasus Ibu Saeni?

    Untuk menjawab hal itu, agaknya penting untuk menengok kembali ayat agung perintah berpuasa dalam QS. al-Baqarah 183, "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar bertakwa".

    Dalam ayat tersebut, secara gamblang kita  menjumpai pengakuan quranik bahwa puasa kita sebenarnya merupakan proyek kontinum dari apa yang pernah dilakukan oleh umat terdahulu.

    Baik Yahudi maupun Nasrani sama-sama melakukan praktek puasa sebelum Islam hadir. Sebagaimana Islam, keduanya juga menekankan makna puasa sebagai ritus pendidikan individual dalam rangka menahan hawa nafsu. Merestriksi pribadi yang berpuasa adalah sentrum dari ibadah ini, bukan malah mengumbar amarah dengan dalih mencapai kesempurnaan puasa. Dalam kalimat yang lebih sederhana, KH. Mustofa Bisri pernah menyatakan 'puasa-puasamu sendiri kok minta bantuan pengusaha warung. Minta bantuannya maksa lagi'.

    Logika marah kepada warung bisa jadi model berpuasa yang -maaf- manja. Kemanjaan itu bukanlah ciri orang dewasa. Dalam berpuasa, sifat tersebut lebih pantas disematkan pada individu yang rapuh dan –pada level tertentu- butuh pertolongan. Apalagi jika kemanjaan ini bercampur dengan sikap tantrum yang merugikan orang lain.

    Yang patut disesalkan, berbagai destruksi atas kemanusiaan sebagaimana paparan di atas berjalan disponsori Negara. Barangkali kita belum sepenuhnya memahamj bahwa dukungan state-aparatus tidaklah ditemukan basis historiknya dalam sejarah puasa Yahudi, Nasrani maupun Islam awal.

    Alih-alih menggunakan kekuatan politik maupun militernya, Nabi Muhammad misalnya, malah menyerukan setiap muslim yang berpuasa agar mampu menahan nafsunya, termasuk amarah.

    Begitu juga dengan Nabi Musa dan Nabi Isa. Keduanya juga absen mengumbar arogansi agar puasa mereka dihormati oleh kelompok di luar mereka.

    Saya kira, umat Islam sekarang perlu berfikir serius bagaimana menjalani salah satu ibadah paling berat ini secara lebih dewasa. Yakni, fokus berpuasa dan berbuat baik, tanpa perlu kuatir orang lain tidak akan menghormatinya. Memaksa Negara hadir dengan wajah bengis kepada yang dianggap mengganggu ibadah puasa sejatinya membuktikan kita tidak punya kuasa atas diri kita.

    Mengutip Alissa Wahid, kekerdilan jiwa membuat kita menjadi penuntut. Memaksa diberi, bukan memberi. Minta dilayani, bukan melayani. Mencemaskan, bukan menenangkan. Apakah ini merupakan kualitas kemusliman kita saat Ramadlan tiba?. Wallohu a'lam.



    Penulis: Aan Anshori | Presidium Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD) Jawa Timur, pernah nyantri di Darul Hikmah Kedungmaling.

    * Artikel pernah dimuat dalam Rubrik Ngaji Globalisasi Jawa Pos Radar Mojokerto 20 Juni 2016
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Yang Selalu Absen Saat Ramadlan Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top