728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Senin, 01 Agustus 2016

    PEREMPUAN DAN PERDAMAIAN DALAM TRADISI AGAMA-AGAMA IBRAHIM


    ”Jika ada anggapan bahwa Yahudi adalah Israel, ISIS adalah Islam, dan Donal Trump adalah Amerika, maka bisa dipastikan anggapan itu salah.”Ujar David Elcot, seorang profesor di New York University disaat sesi diskusi bersama Shira. Sama halnya jika ada pendapat yang mengatakan Yahudi kejam, Yahudi jahat, dan Yahudi biadab. Ini hanyalah pendapat yang sangat sempit. Yahudi sebagaimana dengan Islam atau agama lain memiliki potensi yang sama. Di dalam Islam juga terdapat ISIS yang sama kejamnya dengan Israel yang sampai hari ini terus melakukan penekanan terhadap rakyat Palestina.”

    Pada tanggal 18 Juli 2016 kemarin, Jaringan GUSDURian mengadakan diskusi dengan Shira Milgrom, seorang Rabbi (istilah kiai bagi Yahudi) dari Amerika. Diskusi bertempat di kantor ISAIS (Pusat Studi Islam Asia Tenggara) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

    Shira merupakan pendeta wanita yang sangat mencintai agamanya. Tema yang diangkat kali ini adalah “Perempuan dan Perdamaian dalam Tradisi Agama-agama Ibrahim”.

    Perempuan, agama, dan Yahudi merupakan tiga kata kunci dalam diskusi yang berlangsung bersama Shira. Dari penjelasakan Shira, kita akan mendapatkan banyak pengetahuan baru, terlebih terkait keyahudian.

    Shira sangat senang dapat kesempatan bisa berdiskusi bersama teman-teman Jaringan GUSDURian. Ia sangat menghargai gerakan dan perjuangan teman-teman yang terinspirasi dari sosok almarhum Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid) tersebut.

    Berikut adalah poin-poin penting yang penulis sarikan dari diskusi bersama Shira Milgrom.

    Agama bagi Shira Milgrom

    Sudah sepantasnya pemeluk agama menganggap agama adalah hal penting dalam kehidupan. Hanya saja yang membedakannya adalah cara pandang umat beragama terhadap agamanya masing-masing. Hal ini penting karena cara pandang kita terhadap agama akan mempengaruhi cara pandang kita terhadap pemeluk agama lainnya.

    Bagi Shira, Tuhan adalah cahaya putih. Perumpamaannya sama dengan matahari. Kita tidak pernah bisa melihat matahari. Cahaya putih tersebut akan melalui prisma yang kemudian cahayanya berpendar menjadi warna-warna yang indah seperti pelangi.

    Kitab Al-Qur’an, Taurat, dan kitab suci lainnya adalah sebuah prisma yang membantu kita dalam melihat cahaya putih tersebut. Dalam perumpamaan ini, agama adalah cahaya warna-warni terusan dari cahaya putih yang telah melewati prisma.

    Dalam konteks ini, Shira tidak hanya berbicara soal agama-agama Ibrahim tetapi juga agama-agama dunia lainnya. Menurut Shira, yang menjadi berbahaya adalah ketika ada satu warna atau agama yang memaksakan warnanya.

    Dunia ini tidak akan indah jika hanya diwarnai dengan merah saja. Sama halnya dunia ini tidak akan indah jika diisi dengan satu agama saja. Lebih lanjut, Shira mengatakan, agama yang menganggap memiliki seluruh cahaya itu adalah agama yang berbahaya.

    Pendapat Shira tentang Israil dan Yahudi

    Yahudi bukanlah sebutan agama saja, akan tetapi merujuk pada suatu klan keluarga besar. Meski seorang dari anggota keluarga Yahudi berpindah agama, ia tetap dianggap sebagai keluarga Yahudi.

    Dalam konteks yang terjadi di masyarakat, yakni ketika seorang Yahudi menikah dengan Non Yahudi, maka ia akan dianggap Yahudi oleh sebagian Yahudi (terutama bagi Yahudi progesif), dan hal itu berbeda dengan Yahudi jenis lainnya.

    Perlu diketahui, sebagaimana dengan Islam, Yahudi juga terbagi menjadi beberapa golongan. Perbedaan yang paling menonjol adalah dalam masalah otoritas pemutus perkara atau pemberi fatwa. Ada empat golongan besar dalam agama Yahudi.

    Pertama, Yahudi Ortodok. Di dalam kelompok Yahudi Ortodok ini, pendeta memiliki otoritas penuh dalam memutuskan sesuatu. Biasanya mereka akan mendasarkan keputusannya pada pendeta terdahulu. Hal ini hampir serupa dengan qiyas dalam Islam.

    Kedua, Yahudi Konservatif. Bagi kelompok Yahudi konservatif, ia mendasarkan keputusannya merujuk kepada tradisi. Tradisi dianggap memiliki nilai luhur dan penting dalam kehidupan mereka. Segala apapun yang berbentuk penafsiran atau interpretasi, selalu disandarkan kepada tradisi atau adat istiadat masyarakat setempat.

    Ketiga, Yahudi Rekonstruktif. Sementara menurut Yahudi Rekonstruktif, dalam hal memutuskan segala sesuatu dilakukan secara bersama-sama. Kolektif dan berjamaah. Golongan ini dianggap kelompok yang paling demokratis.

    Keempat, Yahudi Reformis (Progesif). Yahudi Reformis dianggap sebagai golongan paling progesif. Shira dan jamaatnya termasuk didalamnya. Setiap individu boleh memutuskan atau berijtihad sendiri dan bertanggungjawab atas keputusannya. Hanya saja hal ini membuat umat susah bersatu. Sebab, masing-masing kepala memiliki pilihan-pilihan sendiri.

    Shira Milgrom bercerita, ia lahir pada tahun 1948, setelah negara Israel Modern berdiri. Pada awalnya Shira Milgrom menganggap bahwa Israel adalah wujud sempurna dari apa yang digambarkan oleh Taurat. Tetapi realitas mengehendaki lain. Shira Milgrom patah hati dengan kondisi Israel Modern. Dia frustasi, impiannya hancur dan Israel tidak sesuai dengan apa yang dia bayangkannya selama ini.

    Israel sama dengan Indonesia. Ketika ada sebagian orang menindas maka akan ada sebagian orang lainnya melakukan perlawanan. Di Israel banyak juga organisasi yang mengupayakan perdamaian dengan Palestina, termasuk organisasinya Shira. Mereka tidak setuju dengan penindasan yang dilakukan pemerintah terhadap masyarakat Palestina.

    Salah satu upaya yang dilakukan adalah mendirikan Simon Perez Foundation oleh perdana Menteri Simon Perez dan Gus Dur sendiri juga pernah terlibat didalamnya. Upaya ini merupakan inisiatif murni dalam membangun perdamaian. Mereka membuka perkebunan yang dikelola langsung oleh masyarakat Palestina dan masyarakat Israel. Mereka percaya bahwa perdamaian tanpa keadilan adalah ilusi.

    Sama halnya di Indonesia. Dalam masalah Papua kita mendukung pemerintah untuk tidak melepaskan Papua, akan tetapi di waktu yang sama kita juga marah terhadap pemerintah atas penindasan yang dilakukan kepada masyarakat Papua. Jadi persoalannya adalah soal perjuangan atas keadilan.

    Kejelian dan ketelitian dalam melihat sesuatu itu penting. Sikap obyektif harus dikedepankan dalam memandang masalah. Kita tidak bisa memukul rata (istilah jawanya: gebyah uyah) dalam menghakimi sesuatu.

    Dalam kasus ini, kita harus bisa mebedakan antara agama, negara dan penindasan. Israel bukanlah agama Yahudi, sama halnya dengan ISIS bukanlah Islam dan Donald Trump bukanlah Amerika.

    Saat ini terjadi krisis kepercayaan terhadap Israel. Jemaat Shira terbagi menjadi dua golongan. Yang pertama, golongan yang melihat pemerintah Israel tidak hidup dengan nilai keyahudian. Sementara golongan yang lain menganggap bahwa ajaran-ajaran Yahudi sudah banyak diamalkan oleh Israel.



    Peran Perempuan dalam Agama-agama Ibrahim

    Shira mengisahkan isi dalam Kitab Taurat yang banyak bercerita tentang peran perempuan dalam agama-agama Ibrahim.  Salah satu yang dikisahkan Shira adalah cerita Nabi Musa dan Nabi Ibrahim.

    Cerita bermula pada kisah Ibrahim yang menikah dengan Sarah, namun ia tidak memiliki anak. Sarah kemudian meminta Hajar menjadi wanita kedua dari Ibrahim dan akhirnya mereka dikarunia anak yang bernama Ismail. Tak lama kemudian, Sarah pun hamil dan melahirkan Ishak. Lalu Sarah cemburu, ia menginginkan Ishak menjadi putra semata Ibrahim, dan Sarah meminta Ibrahim untuk mengusir Hajar.

    Dalam kisah yang digambarkan Taurat, Hajar dan Ismail diusir ke padang pasir dan hanya berbekal sepotong roti. Dalam perjalanan nan panjang Hajar tidak kuasa melihat Ismail perlahan mati kelaparan dan kehausan. Ia tinggalkan Ismail pada semak belukar, lalu Ismail menangis dan Tuhan pun mendengarnya. Tuhan berkata pada Hajar, bukalah matamu dan engkau akan menemukan air.

    Dalam kumpulan cerita lainnya, Nabi Ibrahim diminta untuk mengorbankan anaknya yang tersisa, yakni Ishak (dalam tradisi Yahudi, banyak yang meyakini bahwa sosok yang dikorbankan Ibrahim bukanlah Ismail, melainkan Ishak). Cerita ini akan selalu dibacakan di awal tahun dalam tradisi Rashashana.

    Dalam ceritanya, Ismail dan Ishak bertemu hanya sekali, yakni pada saat pemakaman Nabi Ibrahim. Kejadian ini menuntut kita untuk berpikir, kepada siapa kita akan berpihak? Tentunya kita akan cenderung berpihak pada Hajar.

    Selain kisah Ibrahim, Shira juga bercerita tentang peran perempuan dalam penyelamatan Nabi Musa. Kisah Nabi Musa merupakan kisah yang menginspirasi lahirnya hak-hak sipil dan hak orang kulit hitam di Amerika.

    Kisahnya bermula dari Fir’aun yang menginstruksikan untuk membuang dan membunuh semua bayi laki-laki. Perlawanan muncul dari dua perempuan. Ibu Musa menaruh Musa di keranjang, dan Ratu Mesir yang menyelamatkan Musa dari sungai dan bibi Musa yang menjaga dia selama kecil.

    Perempuan-perempuan tersebut tergolong kelompok anti mainstream yang berani mengambil sikap berbeda dalam melawan kekuasaan yang mapan. Dengan menyelamatkan Musa, ia berarti menyelamatkan nyawa dan menyelamatkan harapan.

    Shira juga berbicara soal peran perempuan dalam agama Yahudi. Selama ini, perempuan bisa menjadi Rabbi di agama Yahudi baru sekitar 49 tahun terkahir ini dan hanya beberapa kelompok saja yang membolehkan, seperti Yahudi Progresif misalnya.

    Di golongan Yahudi Ortodok sayap paling kanan tidak mengakui pendeta perempuan. Bagi Shira, perempuan sama halnya dengan laki-laki, ia juga memancarkan pancaran sinar Tuhan. Secara spiritual kita sama. Dan ini merupakan tantangan dan perkembangan yang baik.

    Tradisi Yahudi sangat dekat dengan tradisi Islam, maka dari situ sering terjadi gesekan yang tak mengenakkan antara keduanya.

    Nilai dan Tradisi Yahudi

    Yahudi memiliki sebuah nilai yang ditanamkan pada setiap pemeluknya. Mereka percaya bahwa manusia itu bekerjasama dengan Tuhan untuk menyempurnakan semesta. Umat Yahudi didorong melakukan sesuatu untuk memperbaiki dunia ini. Mereka tidak diajari untuk menerima dunia ini apa adanya, akan tetapi mereka berupaya untuk mengolah apa yang ada di dunia ini menjadi sesuatu yang lebih baik dalam posisi apapun. Baik menjadi penulis, dokter, ilmuan, pendeta, guru dan lainnya.

    Memperbaiki dunia tidak cukup hanya dengan membuatnya lebih baik. Dibutuhkan cinta serta kasih sayang untuk lebih menghidupkan dunia, dan hal itu jauh lebih penting. Shira bercerita bahwa dia tumbuh di keluarga Yahudi yang penuh dedikasi dan keinginan untuk membuat dunia lebih baik.

    Sayangnya, keluarga Shira tumbuh tidak dibarengi dengan kehangatan cinta dan pada akhirnya membuat keluarga Shira dirundung berbagai masalah. Maka Shira berpendapat bahwa tidak cukup membangun dunia hanya dengan kerja keras serta dedikasi semata, akan tetapi cinta dan kasih itu jauh lebih penting.

    Gambaran Tuhan Mempengaruhi Cara Pandang terhadap Diri

    Agama memiliki kekuatan yang luar biasa dalam mempengaruhi pemeluknya. Terkadang ia bersikap sangat ekslusif. Cara pandang terhadap Tuhan sangat mempengaruhi pikiran dan sikap terhadap diri sendiri. Lebih lanjut Shira Milgrom bercerita tentang putri bungsunya. Ketika si bungsu baru berumur tiga tahun, David Elcot (suami Shira) memandikannya. Pada saat itu si bungsu tiba-tiba bertanya “kenapa Tuhan lebih suka terhadap laki-laki?” mendapat pertanyaan yang mengejutkan itu, lalu David bertanya balik “kenapa kamu bertanya demikian?” Si bungsu menjawab “karena Tuhan punya penis, laki-laki punya penis dan aku tidak memiliki penis”.

    Dari percakapan tersebut Shira menganggap bahwa cara pandang putrinya—yang menganggap Tuhan itu laki-laki—bermula dari kata ganti “he” yang sering digunakan dalam menyebut atau merujuk kata Tuhan. Hal ini berdampak pada cara pandang putrinya terhadap dirinya sendiri. Sebagai perempuan, ia merasa tidak lebih baik dan berharga dibanding dengan laki-laki. Padahal tidak demikian.

    Membangun Jembatan Perdamaian

    Akhir-kahir ini kita sering melihat fenomena radikalisme di setiap agama. Namun yang perlu dicatat di sini adalah radikal Hindu bukanlah agama hindu, radikal Islam bukanlah agama Islam, dan radikal Yahudi bukanlah agama Yahudi.

    Sering juga kita mendengar bahasa-bahasa kebencian yang keluar dari kelompok umat beragama. Hal ini terjadi karena kedekatan di antara keduanya. Sedangkan sesuatu yang dekat dengan kita justru berpotensi besar mengecewakan atau membuat marah kita.

    Tradisi Yahudi sangat dekat dengan tradisi Islam, maka dari situ sering terjadi gesekan yang tak mengenakkan antara keduanya. Dari sinilah Shira memahami bahwa gesekan itu harus diredam oleh semuanya.

    Ia pun selalu mengupayakan perdamaian antara Yahudi dan Islam. Shira berupaya agar bisa menjembatani dan membuka dialog antar keduanya. Shira banyak menjalin kerja sama dengan komunitas muslim di Amerika. Di peringatan hari-hari besar agama Yahudi, Shira mendatangkan muslim Palestina di Sinagognya. Hal ini dilakukan supaya muslim Palestina berbagi kisah mereka kepada jamaatnya yang berjumlah 2500 orang. 

    Pada sesi akhir diskusi, Shira bercerita tentang dua Srigala yang mendiami jiwa manusia. Cerita ini berasal dari penduduk asli Amerika. Pada suatu hari seorang kakek bercerita pada cucunya. “Wahai cucu, di dalam diri kakek ini ada dua srigala yang selalu bertengkar setiap saat.

    Satu srigala adalah srigala kemarahan, kebencian, kepicikan, kejahatan, permusuhan dan keserakahan. Dan satu srigala adalah srigala kebaikan, kedermawanan, cinta dan kasih.” Lalu si cucu tersebut bertanya “bagaimana kakek bisa tahu, srigala mana yang menang?” kemudian kakek menjawab, Srigala yang menang adalah srigala yang kakek beri makan (dalam hal ini adalah Srigala yang diberi kesempatan untuk muncul).

    Kemudian Shira menutup diskusi dengan mengucap banyak terimakasih dan kesan tiada henti kepada Jaringan GUSDURian. Sebab, Shira merasa pertemuan dengan teman-teman GUSDURian seperti halnya ia sedang memberi makan Srigala baik dalam dirinya. Karena baginya apa yang dilakukan anak-anak ideologis Gus Dur  tersebut adalah hal yang luar biasa dan ia sangat menghargai perjuangan Jaringan GUSDURian. 

    Wallahhu a’lam.


    Penulis: Isna Latifa ( Seorang Perempaun aktifis di Komunitas Santri Gus Dur Yogyakarta)


    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: PEREMPUAN DAN PERDAMAIAN DALAM TRADISI AGAMA-AGAMA IBRAHIM Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top