728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Rabu, 03 Agustus 2016

    Tiga Sungai, Satu Mata Air


    Pada tanggal 18 Juli 2016, Seknas Gusdurian dan ISAIS UIN Yogyakarta mengadakan rangkaian workshop social change dan dilanjutkan dengan diskusi mengenai Perempuan dan Perdamaian bersama Shira Milgrom. Shira Milgrom merupakan seorang Rabbi Yahudi perempuan yang berkarya di Amerika Serikat. Milgrom ingin membagi pengalaman pribadi dan hasil studinya kepada seluruh penggerak Gusdurian. 

    Di awal sesi diskusi, Milgrom memulai dengan mendaraskan doa – doa Yahudi dalam bahasa Ibrani dan Inggris. Pujian tersebut diperuntukkan untuk Allah dan manusia dalam damai. Milgrom menyatakan bahwa tidak satupun manusia yang tidak berhak mendapatkan kedamaian. Oleh karena itu, walaupun peserta terdiri dari berbagai latar belakang yang berbeda namun tetap berhak mendapatkan doa keselamatan melalui tata cara Ibrani.

    Tiga Sungai, Satu Mata Air

    Masuk ke dalam pembahasan utama, Milgrom mengingatkan kepada kita bahwa ketiga agama Abrahamik yaitu Yahudi, Kristen dan Islam merupakan agama yang memiliki satu hulu. Ketiganya berakar dari tradisi dan rumpun yang sama. Walaupun Milgrom menyatakan bahwa terdapat beberapa perbedaan dalam penyajian ayat – ayatnya, namun Taurat (Ibrani), Pentateukh (Kristen) dan Al-Quran (Islam) tetap memiliki garis  besar yang sama.

    Milgrom sendiri berbagi pengalaman dalam perjalanan pemahamannya mengenai kitab suci agama – agama Abrahamik. Ia mengaku bahwa apa yang tertulis di dalam ketiga kitab tersebut adalah pengejawantahan pengalaman manusia yang dituangkan dalam ayat – ayat dalam bahasa mimpi.

    Pengalaman ini bukanlah pengalaman spirit biasa. Pengalaman yang tertulis dalam ketiga kitab tersebut merupakan pengalaman pertemuan manusia dengan Tuhan. Milgrom memberi satu contoh ilustrasi dimana seorang psikolog menerima pasien yang dapat menceritakan masa lalu berbagai orang dalam mimpinya. Mimpi pasien ini tidak hanya merupakan hiasan tidur semata melainkan gambaran fakta dari apa yang telah terjadi pada masa lampau. Psikolog tersebut pada akhirnya percaya saat pasien tersebut mengungkapkan masa lalu sang psikolog, dimana tidak ada seorangpun di daerah tersebut yang mengetahuinya. Ilustrasi Milgrom benar – benar telah terjadi dan dari hal tersebut ia dapat mengambil kesimpulan bahwa, pengalaman manusia tidak terbatas pada waktu dan tempat yang fiskal saja. Kesadaran dapat ‘memanggil kembali’ pertemuan manusia dengan yang lebih besar daripadanya.

    Perempuan dalam Tradisi Agama Abrahamik

    Selepas Milgrom memaparkan akan kesamaan ketiga kitab besar agama Yahudi, Kristen dan Islam, ia menjabarkan bagaimana peran perempuan dalam kitab – kitab tersebut.

    Dalam sesi ini Milgrom memfokuskan perhatian pada ibu dari para keturunan Abraham yaitu Sara dan Hajar (Hagar). Baik Hajar dan Sara memiliki peran yang sama dalam melahirkan keturunan bagi Abraham sekaligus mengembangkan umat Allah. Walaupun tidak terhindarkan dari konflik horizontal (yang diceritakan dalam berbagai versi menurut tradisi agama masing - masing) namun kedua perempuan ini tetap berjasa bagi kehidupan para keturunan Abraham.

    Sara merawat dengan baik Iskak dan haknya, demikian pula Hajar yang memperjuangkan nasib Ismael dipadang gurun. Selain kedua tokoh itu masih terdapat beberapa tokoh perempuan lain yang dapat ditemukan dalam ketiga kitab tersebut seperti Maryam saudara Musa dan Putri Firaun. Perempuan dalam kisah – kisah tersebut bahkan melanggar aturan dan norma zamannya untuk menyelamatkan orang lain.

    Perempuan tidak boleh takut untuk melakukan suatu dobrakan perubahan demi kesejahteraan bersama. Tradisi yang ada pada saat ini juga merupakan hasil dari proses evolusi budaya yang dilakukan oleh para reformis – yang juga di dalam bagiannya merupakan para perempuan pemberani. –Shira Milgrom-

    Pemahaman Kontekstual

    Kembali kedalam konteks zaman. Milgrom ingin mengajak para penggerak perempuan khususnya para aktifis di Jaringan Gusdurian untuk terus melaksanakan aksinya menentang kekerasan dan ketidakadilan. Milgrom memberi dorongan dan contoh melalui tradisi kuno Yahudi dalam berdoa yang masih diterapkan hingga saat ini.

    Dalam tradisi keluarga Yahudi, kedua orang tua memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk mendoakan anak-anaknya. Agama Yahudi memilih keluarga sebagai basis umatnya, hal ini ditunjukkan oleh Milgrom dalam potongan film ‘Fidller on the Roof’.

    Di dalam tata cara beragama, orang tua mengambil peran penting sehingga porsi laki – laki dan perempuan dalam tradisi Yahudi dianggap sama semenjak dini. Dengan kata lain laki - laki dan perempuan memiliki kesetaraan dalam hidup spiritual. Bahkan dalam beberapa aliran Yahudi, terdapat aliran yang memperbolehkan perempuan uuntuk menjadi guru kepercayaan Yahudi (Rabbi). Dalam aliran Yahudi Reformis, perempuan memiliki hak yang sama untuk mempelajari kitab sama seperti laki – laki.

    Pesan Akhir

    Dalam kesempatan terakhir Milgrom mengizinkan para peserta diskusi untuk menanyakan hal apapun. Ia menyatakan bahwa tidak ada keburukan dalam setiap pertanyaan, keburukan hanya ada pada saat tidak adanya pertanyaan.

    Melalui kesempatan tersebut peserta menanyakan berbagai hal baik yang universal maupun spesifik. Namun pada akhirnya diskusi mengkerucut pada bagaimana posisi Yahudi dalam kampanye perdamaian di dunia dan apa yang dapat perempuan lakukan untuk menciptakan kesejahteraan.

    Dalam hal ini Milgrom menyatakan bahwa Yahudi merupakan agama damai, sama seperti semua agama lainnya. Mengenai apa yang terjadi di ‘Tanah Perjanjian’ Israel – Palestina adalah suatu kesedihan yang mendalam. Seluruh umat Yahudi memimpikan Tanah Terjanji yang penuh dengan kedamaian, bukan area yang mengalami perang selama beberapa dekade tanpa henti. Milgrom menyatakan penyesalannya atas apa yang terjadi di Israel – Palestina dan mengingatkan kita bahwa Yahudi bukan merupakan kesamaan arti dari Israel. Bagi Milgrom, menjadi Yahudi berarti menciptakan Tanah Terjanji bagi seluruh manusia, tanpa terbatas batas – batas geografis.

    Statemen akhir Milgrom untuk perempuan adalah agar terus mengembangkan perjuangannya melawan ketidakadilan bagi siapapun, karena laki – laki dan perempuan memiliki tugas yang sama dalam menerangi dunia. Perempuan memiliki hak yang sama dalam mengembangkan kehidupan spiritualitas. Perempuan juga hidup berdampingan dengan laki – laki dalam suatu keluarga atau komunitas untuk menciptakan keseimbangan kehidupan yang damai.

    Bagi Milgrom, perempuan tidak boleh takut untuk melakukan suatu dobrakan perubahan demi kesejahteraan bersama. Tradisi yang ada pada saat ini juga merupakan hasil dari proses evolusi budaya yang dilakukan oleh para reformis – yang juga di dalam bagiannya merupakan para perempuan pemberani.



    Penulis: Dika S.P (Perempuan Aktifis di Komunitas Gusdurian Muda Malang)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Tiga Sungai, Satu Mata Air Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top