728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Senin, 05 Desember 2016

    Belajar Kesederhanaan Dari Gus Dur



                    Gus Dur memasukkan kurang lebih 25 kacang ke tiap kantung plastik – dan istrinya menutupnya dengan menggerakkan bagian atas kantung di atas lilin yang menyala. Ibu Gus Dur memberikan kepadanya sebuah skuter vespa. Gus Dur menggunakan skuter itu untuk mengantar termos yang diisi penuh es lilin ke tempat-tempat strategis di segenap kota. Es lilin ini cepat menjadi populer dan dikenal sebagai “Es Lilin Gus Dur”[1].
    Begitu gambaran kehidupan awal rumah tangga Gus Dur sewaktu beliau masih tinggal di kota Santri Jombang. Gus Dur tidak memperdulikan citra dirinya bahwa dia adalah orang yang pernah melanglang buana di dataran timur tengah sampai eropa, Dia tidak malu sebagai seorang cucu ulama kharismatik di Indonesia berjualan es lilin keliling kota. Sebagai anak dari Menteri Agama pertama Republik Indonesia tidak menggetarkannya untuk malu berjualan barang yang sangat sederhana.
    Gus Dur memang sosok yang sederhana, kesederhanaannya sangat nampak sekali dan terpancar dari diri Gus Dur. Mulai dari cara berpakaian, apa yang beliau makan, sampai kendaraan pun, konon Gus Dur memakai kendaraan yang didapat dari pinjaman suami Megawati, Taufik Kiemas, dan setelah Gus Dur wafat, kedaraan itu dikebalikan pada pemiliknya.
                Dari harta benda dan kekayaan, jelas Gus Dur sama sekali tidak meninggalkan suatu apapun untuk keluarganya, memang aneh, sekelas mantan presiden tidak mempunyai harta yang bisa ditinggalkan. Namun itulah sosok Gus Dur, yang diwariskannya bukanlah harta benda dan perhiasaan dunia, tetapi mewariskan sesuatu yang lebih berharga dari itu semua, sebuah pemikiran tentang demokrasi dan kebebasan berfikir bangsanya.
                    Menurut berbagai pengakuan sahabat Gus dur yang sudah biasa berinteraksi dengan Gus Dur, seperti yang diceritakan Pak Bondan Gunawan Mantan Mensegneg era Gus Dur yang juga sahabat dekat gus dur pernah berkata "saya dengan Gus dur sudah biasa berbagi uang Rp 10rb Rp.20rb". Pengakuan Pak Ahmad Tohari Penulis novel "Ronggeng Dukuh Paruk" menceritakan bagaimana ketika Gus Dur mampir kerumah beliau dan bermalam,Gus Dur memilih tidur dilantai hanya beralaskan karpet[2].
                Yang menarik lagi dari Gus Dur adalah ketika dirinya menjadi seorang Presiden, Gus Dur nampak biasa-biasa saja seperti Gus Dur sebelum menjadi Presiden. Franz Magnis Suseno seorang filsuf Driyarkara dan seorang Romo, pernah heran melihat tumpukan beberapa kardus Sarimi berisi pakaian yang ada di sebelah ruang makan Istana Negara. "Itu kardus isinnya pakaian siapa sih, kok ditumpuk begitu?" tanya pria kelahiran Jerman itu. "Itu milik Presiden Gus Dur. Mau dibawa lawatan ke Tiongkok." kata seorang staf kepresidenan enteng. Romo Magniz takjub sekaligus geleng-geleng: seorang kepala negara mengemas pakaiannya dalam kardus, persis orang mau mudik?[3]
                Betapa kejadian ini menunjukkan bahwa dalam diri Gus Dur tidak ada hal yang ditutup-tutupi, Gus Dur tetap tampil apa adanya. Bahkan ini menjadi sebuah pelajaran bahwa menjadi apapun kita di masa yang akan datang, kita harus mengerti dan sadar betul sikap diri kita ini. Lebih jauh lagi Gus Dur secara tersirat juga mengajarkan kita untuk tampil percaya sebagai diri sebagai diri sendiri. Mengemas pakaian dalam kardus adalah bentuk kebiasaan Gus Dur, jadi setelah menjadi Presiden lantas kenapa harus berubah, begitu kira-kira penafsiran Gus Dur.
                Selain beberapa contoh kasus di atas, Gus Dur juga dikenal sebagai orang yang suka memberi apapun kepada orang lain, tidak terkecuali memberikan uang. Seperti suatu ketika Gus Dur menjadi presiden. Arifin Junaidi, anggota DPR RI dan sekretaris Dewan Syuro PKB, menceritakan kepada Menteri Pertahanan Mahfud MD bahwa gaji Gus Dur sebagai presiden sering diserahkan begitu saja kepada orang yang ada di dekatnya. “Pada bulan pertama menjadi presiden, Gus Dur menerima gaji dengan amplop coklat ketika dia sedang duduk bersama Alwi Shihab dan Arifin Junaidi,” kata Mahfud dalam Setahun Bersama Gus Dur. Sesudah menandatangani bukti penerimaan gaji tersebut, Gus Dur menyerahkan amplop coklat itu kepada Alwi Shihab. “Ente harus membeli jas yang bagus. Menteri luar negeri jangan memalukan,” kata Gus Dur bergurau.
    Gus Dur menyerahkan gaji bulan berikutnya kepada menteri negara riset dan teknologi (Menristek), AS Hikam yang ketika itu sedang di Istana. “Nih, beli sepatu dan jas. Masak, Menristek sepatunya jelek,” kata Gus Dur bercanda. Arifin Junaidi merasa heran. Ketika dia tanya kepada Gus Dur, mengapa gajinya diserahkan kepada orang lain. Gus Dur malah menjawab, “Ya sudah, gaji bulan berikutnya untuk kamu saja.
    Arifin Junaidi kaget dan berkata, “Bukan begitu, Gus. Maksud saya, Gus Dur harus menyimpan gaji itu untuk kebutuhan Gus Dur karena itu adalah gaji Gus Dur sebagai presiden.
    Gus Dur dengan santai menjawab, “Lha, semua kebutuhan saya sudah disediakan di sini (Istana). Saya tak butuh apa-apa, biar dipakai oleh yang butuh saja.[4]
                Begitulah sosok Gus Dur, selain dari banyak hal-hal kontroversial yang menyelimuti kehidupannya. Sikap hidup yang ditampilkannya selalu mengundang perhatian banyak orang. Betapa sederhananya apa yang ditampilkannya dalam kesehariannya. Gus Dur juga sangat humanis dan perhatian sekali dengan orang-orang di sekitarnya. Jika apa yang menjadi kebutuhan primernya telah terpenuhi, maka tak segan-segan memberikan apapun yang diilikinya kepada orang lain.
                Semoga apa yang sudah dicontohkan oleh Gus Dur dapat kita lakukan, minimal sikap humanisnya. Bahwa kita hidup di dunia ini tidak sendirian, maka bersosialisasi  dan menjaga toleransi dengan orang lain. Gus Dur pernah berkata bahwa kita harus menerima manusia dengan apapun latar belakang suku, agama, serta adat kebiasaanya. Beliau melanjutkan, kita harus meniru Tuhan, bahwa Tuhan menerima semua manusia. Wallahua’lam


    Oleh: Raudlatul Fikri (Santri Gus Dur dan aktivis di kota Malang)



    [1] Greg Barton: Gus Dur: The Authorized Biography of ABDURRAHMAN WAHID, 2002 Hal 116
    [2] Sukma Adi Atmaja, “Catatan Kecil Gus Dur Kesederhanaan” diakses dari http://www.kompasiana.com/sukmaadi/catatan-kecil-gus-dur-kesederhanaan.html pada tanggal 25 Juni 2015, pukul 21.05
    [3] Rijal Mumazziq Z, “Kesederhanaan Gus Dur Sang Presiden” diakses dari http://www.dakwah.web.id/2016/06/kesederhanaan-gus-dur-sang-presiden.html pada tanggal 5 juni 2016, pukul 21.20

    [4] Gus Dur Berikan Gaji Pertamanya Sebagai Presiden Kepada Orang Lain” diakses dari http://jelajahsejarah.co/gus-dur-berikan-gaji-pertamanya-sebagai-presiden-kepada-orang-lain/, pukul 15.05
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Belajar Kesederhanaan Dari Gus Dur Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top