728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Minggu, 04 Desember 2016

    Gusdurian Menurut Abraham Maslow


    Saya menulis ini bukan karena saya sudah sah jadi sarjana psikologi, bukan! Saya juga ndak ada maksud menyaingi penelitian si Ipung soal sisi psikologis Gusdurian, sumpah bukan! Atau karena tekanan Pak Mahpur selaku dosen wali saya, sekali lagi bukan! Saya nulis ini karena pengen nulis aja, itu thok! Jadi saran saya lebih baik jaga stabilitas hati atau berhenti di paragraf ini daripada menyesal di akhir paragraf lantaran membaca tulisan yang ngawur dan ndak ilmiah blas ini.

    Saya meyakini bahwa Gusdurian Malang adalah salah satu ruang yang pas untuk aktualisasi diri. Kalau mau di komparasikan, salah satu teori kebutuhan Maslow mungkin bisa jadi alasannya. Pakdhe Maslow dulu ngomong kalau pengen Aktualisasi diri, empat kebutuhan harus terpenuhi terlebih dahulu. Lha karena alasan inilah saya berani berfatwa mendahului MUI bahwa Gusdurian adalah salah satu ruang yang pas untuk aktualisasi diri.

    Pakdhe Maslow membungkus teorinya dengan piramida kebutuhan, mungkin Pakdhe ingin menggambarkan bahwa ketika kebutuhan yang satu belum tercukupi maka mustahil memenuhi kebutuhan selanjutnya apalagi aktualisasi diri. lha disini saya akan mencoba menjelaskan bagaimana Gusdurian memenuhi kebutuhannya untuk mengafirmasi statement saya sebelumnya.

    Kebutuhan Fisiologis
    Pakdhe Maslow meletakkan kebutuhan Fisiologis pada urutan pertama pada piramida kebutuhan. Dalam Gusdurian karena nilai ke-6 (kesederhanaan) dan nilai ke-7 (persaudaraan) inilah mengapa kebutuhan pertama Maslow bisa sangat dilalui dengan mudah. Nilai ke-6 secara tidak langsung membuat kami para anggota Gusdurian ngopinya warkop bukan Caffe, bagi kami bukan harga kopi yang membuat rasanya maknyus namun bagaimana kopi bisa menjadi salah satu sarana untuk melebur kasta, itu sih kalau lagi awal bulan hehe, tapi kalau akhir bulan ya ngopi di rumah pak Tatok bisa menjadi pilihan atau ngajak mas Wasis ngopi berharap di traktir dengan dalih diskusi juga bisa hehehe. Peran nilai ke-7 juga begitu penting dalam memenuhi kebutuhan ini. Rasa persaudaraan antar anggota tanpa di intruksi sekalipun pasti ada. Dalam soal per-perutan (maklum ini masih bahas kebutuhan fisiologis) kami tak pernah khawatir. Siapa yang tak mengamini bahwa ada hubungan romantis antara promag dan mahasiswa perantauan. Namun bagaimana kami anggota Gusdurian memenuhi kebutuhan??? Di awal bulan tentu kami masih bisa makan normal, lalu pertengahan tradisi bantingan nusantara selalu menjadi alternatif sampai akhir bulan atau silahturahim ke rumah pak Mahpur juga bisa menjadi salah satu solusi untuk kebutuhan ini hehe. Saya kira sudah jelas alasan mengapa kebutuhan ini terpenuhi kan?

    Kebutuhan Rasa Aman
    “karena ketakutan akan membuat kita hidup dalam kesengsaraan”-Mesut Ozan

    Entah karena apa omongan mas Fauzan selalu saja meneduhkan, untung saja dia laki-laki, saya tak bisa membayangkan kalau mas Fauzan adalah seorang mahasiswi, hmm...Muiz dkk pasti akan mengantri bribik mas Fauzan lantaran kata yang terlontar dari bibirnya selalu bisa menghipnotis siapa saja yang mendengarkan, sekalipun bagi mereka yang memakai headset.

    Lupakan ngelindur soal mas Fauzan, mari kembali ke konteks. Nilai ke-5 disini akan menjawab kenapa kebutuhan rasa aman kawan-kawan gusdurian Malang terpenuhi, bahkan bisa menciptakan ruang-ruang aman untuk orang lain. Bagaimana gusdurian secara tidak langsung mendorong tumbuhnya jiwa-jiwa merdeka yang tak pernah takut bergaul dengan siapapun atau mendiskusikan apapun karena kami yakin ini adalah salah satu bentuk wujud syukur kepada Tuhan sang pencipta. Perbedaan disini bukan menjadi penghambat namun sebagai pelengkap satu dengan lainnya, layaknya kopi dan gula yang selalu maknyus kala bersatu walaupun berbeda unsur.

    Kebutuhan Kasih Sayang atau Cinta
    Pada bagian ini saya mencoba bersabar dan membuang segala  jenis ke-baper-an yang ada. Bismillah...
    Cinta dan indomie memang seringkali mengalami penyempitan makna. indomie  misalnya, mayoritas orang memaknainya tak lebih sebagai makanan instan. Padahal di waktu tertentu indomie adalah mesias, penyelamat hidup manusia lapar di kesunyian malam. Persis dengan cinta, yang sering dimaknai hanya sebatas rasa sayang dengan lawan jenis semata. Padahal cinta lebih dari itu.

    Kalau kata bung Erich Fromm, cinta itu memiliki 3 unsur yaitu saling menghargai, menghomati dan tanggung jawab. Lha jadi terjawab sudah kalau status beberapa penggerak gusdurian yang bersolo asmara bukan penghambat untuk memenuhi kebutuhan cintanya dan juga ketiga unsur cinta menurut bung Erich pun termasuk dalam Sembilan nilai utama gus dur. Alhamdulillah tak perlu menjelaskan panjang lebar hehehe.

    Kebutuhan Apresiasi
    Kalau kalian tau, apresiasi disini sudah jadi makanan wajib di komunitas ini. Ndak usah muluk-muluk memaknai apresiasi adalah sebuah penghargaan terhadap karya hebat seperti di tipi-tipi. Bagi kami hidup itu soal bagaimana saling menghargai dan menghormati lantaran kami meyakini memuliakan manusia sama saja memuliakan penciptanya seperti yang tercantum dalam nilai kedua dari sembilan nilai utama Gus dur. Garuda rising misalnya, bagaimana kami selalu saling mensupport untuk bisa berbahasa inggris bahkan sampai ada peraturan untuk saling menghargai teman yang praktek bahasa inggris. Hmm... Kalau boleh saya analogikan, gusdurian adalah gudang apresiasi segala hal. Bagaimana, Masih ragu bergabung dengan kami menyuarakan perdamaian?

    Aktualisasi Diri
    Kalau keempat kebutuhan diatas sudah bisa terpenuhi, masak iya saya harus menjelaskan kenapa gusdurian malang sebagai tempat paling nyaman untuk beratualisasi diri lagi?

    Karena di paragraf kedua sudah saya peringatkan untuk tidak membaca tulisan ini, kalau ada yang menyesal membaca  tulisan ini sekali lagi saya minta maaf lantaran lupa mengingatkan kembali di pertengahan tulisan untuk berhenti membaca tulisan remeh ini.


    Oh ya lupa, maaf juga kalau judul tulisan terlalu serius nan wah, sumpah saya ndak bermaksud meniru media-media hoax. Sungguh, ini murni karna saya bingung mau ngasih judul apa, sekali lagi maafken hamba yang masih belajar ini.

    Penulis: Viki Maulana (ia adalah sarjana psikologi yang suka baper - tapi dalam memperjuangkan 9 nilai utama Gus Dur, ia sangat tangguh)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Gusdurian Menurut Abraham Maslow Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top