728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Sabtu, 10 Desember 2016

    Menjadi Seorang Kosmopolitan untuk Masa Depan Islam



    Oleh: Raudlatul Fikri*

    Agama Islam diturunkan menjadi rahmat bagi sekalian alam. Artinya Islam turun dan menjadi sebuah sistem keagaman bukan serta merta hanya untuk kaumnya saja yaitu kaum Muslim, tetapi juga diperuntukkan bagi non Muslim. Menjadi keniscayaan bagi seluruh orang Muslim untuk mengikuti panji ini dan menjadikannya sebagai realitas dalam kehidupan sehari-hari.

    Tetapi kenyataannya, islam semakin hari semakin jauh dari harapan untuk menjadi Rahmat bagi alam semesta. Ingin memberikan manfaat, justru umat hari ini yang membutuhkan rahmat itu sendiri. Mengapa demikian?, coba kita lihat sekarang bagaimana keadaan umat yang cenderung mengalami penurunan. Entah itu dalam keilmuan misalnya, referensi yang kita pakai sebagai rujukan ilmiah adalah dari buku-buku orang barat. Dari teknologi, contoh yang kita jadikan pedoman adalah produk barat. Segi budaya dan seni cenderung mengkultuskan kebudayaan dan seni orang-orang barat. Darimana hulu ini mengalir jika bukan dari pola pemikiran umat Islam yang ekslusif dan selalu mengarah kepada kejumudan.

    Dari sisi lain, kaum muslim hari ini dipandang sebagai kaum yang terbelakang, suka berperang dan penuh dengan kekerasan. Agama yang sejatinya menawarkan berbagai kebahagiaan hidup, disalahartikan dan ditafsirkan dengan hal-hal yang bersifat politis penuh dengan kekerasan. Kita lihat saja konflik perang saudara di Syiria yang tak kunjung selesai, munculnya Islamic State In Irak and Syiria/Syam atau lebih akrab kita sebut ISIS juga menambah kericuhan. Bahkan sampai hari ini kota Allepo masih diperebutkan oleh pasukan ISIS dan pemerintahan yang sah. Kaum muslim juga menjadi kaum yang mudah diadu domba oleh orang-orang barat. Betapa rendahnya kita di mata barat, belum lagi soal kemiskinan di negara-negara mayoritas penduduk beragama Islam.

    Hal ini disebabkan karena ummat Islam dewasa ini tidak begitu menyeluruh dalam memahami agamanya sendiri, sehingga terkadang Islam hanya dimbil kulitnya saja, seperti cara berpakaian ala ke-arab-an dan lain sebagainya. Bukan lagi melihat pada esensi dari ajaran Islam itu sendiri. Dari keresahan ini salah satunya, mengutip kata kaum rasionalis Muhammad Abduh mengatakan bahwa sesungguhnya ayat/teks keagamaan itu diturunkan dengan makna-maknanya (esensi), bukan hanya terpaku pada teksnya (sempit).[1]

    Bukan berarti lalu kita menilai segala sesuatu dengan esensi dan maknanya saja, bukan seperti itu, tetapi kita harus bijak dan porposional dalam memahami teks agama itu sendiri agar tidak terlampau jauh dari maksud tujuan diturunkannya. Baiknya itu dilakukan dengan penuh kesadaran dan penyadaran. Sehingga tidak terjadi kesalahpahaman dalam mengkaji teks.

    Zaman dahulu ketika umat Islam menjadi pemegang peradaban tertinggi di dunia, penerimaan atas perbedaan pandangan disikapi dengan bijak dan apresiatif. Tidak kemudian langsung berperang dan saling pukul ketika terjadi berbedaan pandangan. Perbedaan pandangan justru dijadikan sebagai khazanah untuk selalu menjaga dinamisasi ilmu pengetahuan yang terus berkembang dari waktu ke waktu.

    Lebih lanjut, Harun Nasution menerangkan bahwa kegiatan keberagamaan seorang Muslim itu bermuara pada penjauhan diri dari pelaksanaan hal-hal yang tidak baik.[2] Al Qur’an mengatakan, Shalat menjauhkan orang dari perbuatan jahat dan tidak baik.[3] Dalam sebuah Hadis dijelaskan, Puasa bukanlah menahan diri dari makan dan minum, tetapi menahan diri dari kata-kata yang sia-sia dan tak sopan; jika kamu dimaki atau tak dihargai orang, katakanlah: “aku puasa”. Haji adalah bulan-bulan yang dikenal dan siapa yang memutuskan untuk haji, maka pada waktu itu tidak ada lagi kata-kata tidak sopan, cacian, dan pertengkaran. [4] Ambillah zakat dari harta mereka dan dengan demikian engkau bersihkan dan sucikan mereka.[5]

    Dari ayat dan dalil di atas, jelas bahwa ketika muslim itu melaksanakan ajaran Islam secara menyeluruh dan bersungguh-sungguh dalam pelaksanaanya. Maka, muslim tersebut akan semakin baik dalam tindak sosialnya di dalam masyarakat.

    Kalau dalam argumennya, dan konteks Indonesia khususnya, Gus Dur menyatakan perlu adanya pribumisasi Islam, yaitu Islam yang universal dengan wataknya yang kosmopolitanisme, yang memang sudah tampak sejak awal kemunculannya. Ditandai dengan cara-cara Nabi Muhamad SAW mengatur pengorganisasian masyarakat Madinah, dengan menyerap peradaban-peradaban lain di sekitar dunia Islam waktu itu.[6] Tentunya tidak bertentangan dengan tujuan disyariatkannya hukum Islam yang termaktub dalam maqasidusy syar’i (tujuan-tujuan ditegakkannya syari’at) yaitu, (1)  keselamatan fisik warga masyarakat dari tindakan badani diluar ketentuan hukum (hifdzu an-nafs); (2) keselamatan keyakinan agama masing-masing, tanpa ada paksaan untuk berpindah agama (hifdzu ad-din); (3) keselamatan keluarga dan keturunan (hifdzu an-nasl); (4) keselamatan harta benda dan milik pribadi dari gangguan atau menggusuran di luar prosedur hukum (hifdzu al-mal); dan (5) keselamatan hak milik dan profesi (hifdzu al-aql).

    Berangkat dari nilai-nilai yang mendasar ini Islam bisa dipakai sebagai cara pandang, world of view, atau weltanchauung. Karena dalam bermasyarakat secara majemuk, pandangan tentang keadaan sosial lah yang paling terlihat nilai universalitasnya.

    Dengan ini nilai kosmopolit dari Islam akan terpancar. Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin akan menggema ke seluruh penjuru negeri. Sehingga pandangan tentang Islam yang kaku, kolot, suka kekerasan sedikit demi sedikit akan segera memudar. Amin, Wallahua’lam

    *Santri Gus Dur dan aktivis di kota Malang



    [1] Rif’at Syauqi Nawawi, Rasionalitas Tafsir Muhammad Abduh. Penerbit Paramadina:2002 hlm.77
    [2] Harun Nasution, Islam Rasional. Penerbit Mizan: 1996 hlm. 58
    [3] QS Al ‘Ankabuut: 45
    [4] QS Al Baqarah: 197
    [5] QS Al Taubat: 13 dan 103
    [6] Abdurrahman Wahid, Islam Kosmopolitan; Nilai-nilai Indonesia dan Transformasi Kebudayaan. The Wahid Institute: 2007 hlm.9
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Menjadi Seorang Kosmopolitan untuk Masa Depan Islam Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top