728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Minggu, 19 Maret 2017

    Beda Suku, Hati Menyatu

    sumber: citraindonesia com.

    Oleh: Masbahur Roziqi*

    Namanya Paul Marinus Yarangga. Siswa asli Papua, daerah Abepura. Aktivitasnya saat ini menjadi siswa SMKN 1 Probolinggo. Bertepatan dengan hari kemerdekaan RI (17 Agustus  2016)  lalu dia menjadi petugas upacara. Tugasnya membaca pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Dengan lantang, dia menyuarakan tekad bangsa Indonesia dalam pembukaan. Berseragam putih dan berslayer merah, penampilannya khas paskibraka.

    Selain tugas seremonial itu, Paul juga menjalani kehidupan bersekolah dengan teman-teman SMKN 1 Probolinggo. Tentu karena berada di daerah Jawa Timur, dia berbaur dengan teman-teman dari latar belakang budaya dan suku yang beda dengannya. Di Probolinggo, dia berteman dengan siswa dari latar belakang suku Jawa, Madura, dan Tionghoa.

    Statusnya sebagai anak Papua tak menghalanginya berinteraksi dengan teman-teman sekolahnya. Bercanda bersama dengan teman sekelas, hingga pelesir (jalan-jalan) ke berbagai daerah bersama. Foto selfie (swafoto) tak lupa selalu bertengger di media sosial si Paul. Mulai dari Display Picture (DP) BBM hingga foto kiriman facebook maupun Instagram.

    “Awalnya saya kira akan sulit beradaptasi dengan teman-teman Jawa. Karena saya tidak pernah keluar Jawa. Namun bayangan itu sirna seiring sikap teman-teman yang sangat menghargai saya,” ujar Paul kepada penulis saat sedang bercengkrama selepas pelajaran.

    Lain lagi dengan cerita Yuni Enumbi. Siswa Papua asal kabupaten Puncak Jaya yang juga bersekolah di SMKN 1 Probolinggo ini sempat mengalami trauma ketika akan bersekolah di Jawa. Yuni memiliki masa kelam dengan “orang Jawa”. Ceritanya saat dia masih bersekolah di salah satu SMP Papua, dia mengalami kekerasan fisik. Pelakunya adalah beberapa aparat militer yang menjaga pos di sebuah daerah di kabupaten Puncak Jaya. Ketika itu Yuni nyambi ngojek mengantarkan pelanggannya ke sebuah daerah. Nah, saat itu Yuni tidak tahu jika lewat sana harus lapor tentara. Akhirnya saat kembali melewati pos itu dia diminta turun. Ditanya sebentar, kemudian dia dipukul menggunakan kayu batangan pohon, tak lupa kepalanya juga dibenamkan air. Akibat perlakuan itu, dia sempat memeriksakan diri ke rumah sakit. Hasilnya ada beberapa luka memar yang perlu mendapat perawatan.

    “Sejak saat itu saya agak trauma jika melihat orang Jawa. Apalagi tentara,” ujar Yuni saat penulis mengisi di kelasnya pada pertengahan Oktober 2016 lalu.

    Namun rasa trauma Yuni itu mulai pudar secara perlahan. Penyebabnya tak lain karena kehangatan yang dirasakannya di kelas barunya. Sejak kelas X hingga saat ini kelas XII. Berada di kelas XII Administrasi Perkantoran 4 membuatnya nyaman. Teman-teman selalu menanyakan kabarnya. Mengajaknya berdiskusi saat kerja kelompok. Menyemangatinya untuk selalu mengerjakan tugas dan masuk sekolah tepat waktu. Bahkan sempat pula bermain drama bersama.

    “Yuni memang temperamen pak, emosian. Tapi kami semua sayang dia. Teman satu kelas adalah keluarga kedua kami selain keluarga di rumah,” tutur Siti Nur Azizah, salah satu teman sekelas Yuni Enumbi.

    Pernah saat Yuni teringat lagi kejadian kekerasan yang dialaminya, dia langsung dikerubungi teman sekelas. Mereka menghiburnya. Menunjukkan rasa empati kepadanya. Alhasil dia tidak jadi jengkel. Dia menatap tajam teman-temannya. Dan tak kuasa menahan rasa harunya. “Terima kasih teman-teman,” katanya dengan nada suara lirih.

    Cerita Paul dan Yuni itu hanyalah segelintir kisah dari siswa Papua yang belajar di SMKN 1 Probolinggo. Ada sekitar tiga puluh siswa afirmasi asal Papua yang menemani Paul dan Yuni. Mereka berasal dari berbagai kabupaten di Papua maupun Papua Barat. Latar belakang ekonominya pun bermacam-macam. Ada yang anak petani, nelayan, bahkan sampai anak pejabat di dinas pendidikan. Pertamina Foundation menjadi pihak yang mengirim mereka. Tujuannya satu; menjadikan mereka calon pemimpin dan penggerak perubahan di daerahnya.

    Sebagai kaum muhajirin, siswa Papua merupakan pendatang baru sekolah ini. Agama dan suku mereka juga berbeda dengan mayoritas para siswa.  Rata-rata siswa Papua beragama kristen dan katolik. Suku mereka bermacam-macam. Mulai suku dhani hingga suku asmat. Ada beragam. Karakter fisik dan suara juga sangat berbeda.

    Namun segala perbedaan itu tidak menghambat para siswa lain untuk berinteraksi dengan mereka. Para anak muda usia 16-18 tahun tersebut mampu memahami dan menyikapi saudara-saudaranya dari Papua. Mereka menerapkan nilai-nilai utama Gus Dur dalam menjalani aktivitas bersama teman Papuanya.

    Beberapa nilai itu antara lain persaudaraan, kesetaraan, dan kemanusiaan. Umi Hanik contohnya. Salah satu siswa berprestasi SMKN 1 Probolinggo ini berasal dari kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo. Sebuah daerah dengan mayoritas bersuku Madura. Latar belakang lingkungannya itu tidak menghalanginya mengayomi teman Papua di sekolahnya. Dia berkawan akrab dengan siswa Papua bernama Sara Marlis Youwe. Keduanya akrab sejak kelas X, awal kedatangan siswa afirmasi Papua. Keakraban terjalin dalam banyak hal. Mulai dari belajar pembelajaran, hingga pergaulan sehari-hari. Umi tidak canggung mengajak Sara beradaptasi perlahan.

    “Saya ingin membuktikan bahwa teman-teman Papua juga bisa berprestasi dan berbaur bersama anak-anak lain yang kebanyakan dari Jawa dan Madura. Kan kami sama-sama anak Indonesia. Cuma beda daerah saja,” tandas putri seorang nelayan ini.


    Sikap dan pemikiran Umi adalah manifestasi prinsip Gus Dur yang sangat mengayomi warga dari berbagai suku dan agama. Dia menjadikan anak Papua saudaranya, dan memperlakukan mereka setara. Tak merendahkan mereka. Merangkul dengan penuh kasih. Menyatukan hati demi Indonesia. Merawat Indonesia, menjaga kebhinekaan.

    *Penulis adalah pengagum Gus Dur. Walau tidak pernah bertemu dengan beliau, namun pemikiran beliau selalu selaras dengan zaman. Dan menyejukkan. Bersyukur bisa menjadi bagian dari pengagum beliau. 
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Beda Suku, Hati Menyatu Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top