728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Senin, 20 Maret 2017

    Gus Dur dan Spirit Kebangsaan


    Oleh: Matroni Muserang*

    K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memang masih terngiang di khalayak umum, masyarakat Indonesia sampai saat ini. Seolah-olah Gus Dur masih hidup sampai sekarang. Dalam konteks kekinian memang kita membutuhkan spirit Gus Dur baik di ranah politik, budaya, lebih-lebih di ranah keagamaan dan keberagaman.

    Mengingat berbagai problem sosial-kemanusiaan yang terus memoles wajah bangsa dari jeratan luka pembunuhan, kemiskinan, pelecehan, korupsi, ketidakadilan dan kekerasan atas nama agama dan pemikiran. Spirit apa yang kemudian bisa kita hisap dari Gus Dur dalam menyuburkan inklusifitas sosial-kemanusiaan.

    Sebenarnya spirit politik Gus Dur lahir dari sosok figur K.H Hasyim Asy’ari yang sejak dulu memperjuangkan rakyat. Spirit itulah yang mengalir terhadap Gus Dur sehingga perjuangan untuk rakyat tetap dilanjutkan Gus Dur melalui jembatan politik, salah satunya. 

    Bagi Gus Dur politik bukan dimaknai sebagai ajang bisnis mencari duit dan kursi kekuasaan, bukan dijadikan bisnis jangka panjang, akan tetapi kursi kekuasaan dijadikan alat untuk memperbaiki keadaan keluarga sendiri. Gus Dur lebih substansial memaknai dan menjalankan spirit kebangsaan. Bangsa dilihat dan dimaknai sebagai sebuah alat untuk masuk ke ranah politik, karena sulit bagi kita untuk menjadi tokoh politik Indonesia tanpa melalui jalur partai, jadi PKB bukanlah bagian mutlak dari perjalanan politik Gus Dur dan selama menjadi presiden, akan tetapi bagian dari cara Gus Dur dalam membaca politik global.

    Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah ada spirit itu hari ini? Spirit yang diwariskan Gus Dur terhadap para generasi bangsa? Pertanyaan ini penting untuk kita refleksikan bersama, agar bangsa dan Spirit Gus Dur tidak menjadi hampa di mata pemuda bangsa ke depan.

    Karena kalau mau masuk dunia politik maka kita harus memiliki partai, walau pun prosedur ini sangat formal, sebenarnya untuk menjadi pemimpin tidak harus lewat partai, tapi apa mau di kata, ketika Indonesia sudah demikian. Jadi bagaimana memperbaiki partai itu dengan memasukkan spirit K.H. Hasyim Asy’ari dan Gus Dur dan tokoh NU yang sejak dulu memperjuangkan habis-habis untuk rakyat. Pertanyaanya apakah kita mampu?

    Kalau kita mau belajar dan mau untuk berpikir, spirit itu pasti didapat dan bisa dijadikan dasar pemikiran dalam menjalankan roda spirit kebangsaan, karena kalau ingin mendapatkan spirit kebangsaan yang pernah diperjuangkan Gus Dur maka dari spirit itulah kita memberikan ide segar dan formula yang kontekstual dalam menata rakyat dan bangsa yang sudah semraut ini.  

    Maka cara yang baik adalah melanjutkan ide atau pemikiran, spirit kebangsaan yang pernah dilakukan Gus Dur, walau pun tidak menutup kemungkinan adanya formula baru atau pemikiran baru untuk dimasukkan ke ruang pemikiran pemerintahan demi tercapainya cita-cita bangsa yang damai, makmur, sentosa. Bukan waktunya kita mengedepankan duit, terlalu sakit rakyat Indonesia, karena adanya ketidakadilan, koruptor, kasus para pemimpin Indonesia, dan seks komersial yang terus terjadi. 

    Ide yang segar sangat dibutuhkan saat ini untuk menyejukkan ladang percaturan pemikiran kebangsaan Indonesia. Untuk menyadarkan para elit politik yang sejauh ini sudah jauh menyimpang dari Undang-Undang, Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila. Maka formula untuk menyembuhkan penyakit “ambisi” kekuasaan tidak terjadi, karena kalau ini terus-menerus terjadi jangan harap bangsa kita akan damai, makmur dan sentosa seperti yang dicita-citakan bangsa yang kaya ini.

    Kita tahu kewajiban negara adalah menjaga keamanan, menjaga ketentraman, menjaga kedamaian. Tapi mengapa seakan negara “mati” tak berdaya. Ini salah satu bukti nyata bahwa sendi-sendi negara sedang ada yang lumpuh.  bagi siapa pun termasuk aparat penegak hukum untuk mengerti wawasan sosiologis. Kalau ini tidak diajarkan di dunia pendidikan tersebut maka tidak heran kalau kita berfikir parsial, padahal ilmu harus ada korelasi dengan ilmu-ilmu yang lain.  

    Karena ada indikasi negara gagal, salah satunya adalah kontruksi keamanan gagal, kontruksi ekonomi dan politik gagal, dan kontruksi sosial gagal. Korporasi internasional sedang mengusai negara, akhirnya yang terjadi adalah politik transaksional. Serangan yang sifatnya “membunuh” itu merupakan dampak dari politik transaksional yang kini masih nyaris tak bisa dibendung. Karena dalam politik transaksional, siapa akan dikorbankan demi satu kekuasan. Itulah ironinya kekuasaan. Politik demikian itulah yang disayangkan Gus Dur. Bagi Gus Dur, “Yang Lebih Penting Dari Politik Adalah Kemanusiaan”.


    *Aktivis Lesbumi MWCNU Gapura
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Gus Dur dan Spirit Kebangsaan Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top