728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Rabu, 22 Maret 2017

    Kongkow HAM : "Kekerasan Seksual Terhadap Anak" bersama dr. Shopia Hage

      Oleh : Dika Sri Pandanari

      Siang terik berubah teduh. Kunjungan seorang wanita ke gubuk singgah Gusdurian Malang di Oase Coffee and Literacy, memberikan pencerahan kepada pengunjung di sana mengenai bagaimana bersikap tanpa harus melukai. Sophia Hage namanya, seorang doktor asal Surabaya yang juga bekerja di Jakarta dan telah mendirikan sebuah komunitas penyintas (survival) dari kekerasan seksual pada tahun 2011. Dasar dari berdirinya komunitas Lentera Sintas Indonesia ini adalah untuk berbagi dan saling menguatkan. Banyak dari para survival akhirnya bisa mengangkat korban kekerasan seksual lain dari kekelaman. Namun setelah melakukan survei pada tahun 2015, Sophia dan kawan-kawan menemui sebuah kenyataan bahwa angka kekerasan seksual terbesar terdapat pada usia anak-anak. Lebih dari itu, pada usia dini umumnya seseorang tidak mengerti apa dan bagaimana kejadian tersebut berlangsung. Mereka hanya merasakan kesalahan, sebuah kekeliruan sedang terjadi. Pada akhirnya, para korban sering kali melakukan blaming terhadap dirinya atau orang lain.

          Demi mengentas permasalahan ini, Sophia mulai mengumpulkan relawan dan relasi yang sependapat. Maka Lentera Sintas Indonesia bersama dengan kawan-kawan jejaring yang lain langsung bergerak untuk membentuk tim pendidikan seksual dini, guna menemani korban dan berusaha sebaik mungkin demi menciptakan situasi yang baik bagi para korban. “Hal terbaik dari apa yang bisa kita lakukan bagi korban adalah mendengarkan, berada di sampingnya dan tidak menilai.” Sophia melanjutkan, “Usaha untuk menyelesaikan permasalahan ini tidak akan pernah terselesaikan, memang butuh perjuangan tapi itu semua demi kita juga, sesama manusia.”

            Dalam kesempatan bertemu dengan kawan-kawan dari Gusdurian Malang, Gubuk Tulis dan Sabda Perubahan, dr. Sophia berusaha untuk menjelaskan bagaimana usaha paling sederhana yang dapat kita lakukan untuk mengentas permasalahan kekerasan seksual. Perempuan berkacamata ini menyatakan bahwa kita harus melepas semua penilaian, norma dan dalil-dalil ketika menghadapi pengakuan korban. Disamping itu kita harus membuat kondisi yang terpercaya bagi korban untuk dapat berbicara. Dengan berbicara dan didengarkan, korban akan merasa diterima. Dapat juga kita menemani korban untuk melakukan sesuatu yang menjadi hobi positifnya. Dengan penerimaan, korban akan memulihkan diri dengan sendirinya. Hal tersebut akan membuat korban pertama, terselamatkan dari depresi yang dialaminya.

               Selanjutnya Sophia juga mengajak kita untuk tidak membenci pelaku kekerasan seksual. Rata-rata pelaku tersebut menurut Sophia, adalah korban yang dahulunya tidak memiliki tempat yang layak untuk berlindung. Munculnya permasalahan ini bukan perihal penyimpangan seksual atau hormonal semata, namun permasalahan ini tidak lepas dari pengaruh kuasa yang menekan struktur masyarakat bawahnya. Kekerasan seksual juga berakar dari kurangnya pendidikan dan sistem penindasan yang terinstitusikan. Bagi Sophia, hal yang harus selalu kita ingat adalah bahwa kita akan selalu berhadapan dengan manusia. Manusia yang sama dengan kita, yang memiliki harkat yang sama dengan kita pula.

             Kekerasan seksual terutama pada anak tidak hanya terjadi di daerah perkotaan, tetapi juga terjadi di daerah urban dan sub-urban. Hal ini membuktikan bahwa ketimpangan akibat penindasan telah merambah ke segala lini, bahkan ke dalam ruang psikis manusia. Perlu adanya upaya lebih untuk meningkatkan keamanan dan penegakkan hukum terkait dengan kekerasan seksual ini. Namun pada dasarnya, yang perlu kita upayakan terlebih dahulu adalah penghormatan terhadap mereka sebagai insan manusia bukan korban.
             Diskusi sore yang sempat dibalut hujan deras tersebut dihadiri oleh berbagai kalangan seperti mahasiswa, masyarakat umum, dan bahkan para penyintas. Perbincangan selama kurang  lebih dua jam tersebut tidak cukup untuk membawa arus perubahan yang besar. Namun, setidaknya dari pertemuan singkat tersebut kita mendapat kesempatan untuk mengetahui bagaimana harus bersikap. Manusia tidak lebih dari manusia lainnya, masing-masing memiliki nurani untuk saling menghormati. Nalar digunakan untuk menentukan, bagaimana kita harus bersikap tanpa harus menyakiti, bukan untuk menilai dan menghakimi. Maka pertolongan sebaiknya dilakukan dengan memberi rasa aman dan nyaman, bukan dengan mengobjektivasi korban menjadi mereka yang ‘perlu dibantu’. Semua manusia akan mampu mengobati lukanya sendiri apabila manusia lain tidak menjatuhkannya dalam jurang penilaian.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Kongkow HAM : "Kekerasan Seksual Terhadap Anak" bersama dr. Shopia Hage Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top