728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Senin, 27 Maret 2017

    Ngaji Agraria dalam Bingkai Sosiologi Agama


    Oleh : Dika Sri Pandanari 

    Dialektika mengenai sosiologi Weber memang menarik bagi banyak kaum, baik aktivis sosial hingga agamawan. Beberapa pemahaman menemukan simpul-simpul antara kadar keimanan suatu kelompok masyarakat dengan perilaku bermasyarakat. Hal yang sama juga dapat ditemui pada keseharian saat ini. Agama dapat menentukan gerakan masyarakat. Bahkan, suatu agama dapat secara radikal menentukan berjalannya suatu agama seperti pada beberapa negara di Timur Tengah. GUSDURian Malang, Gubuk Tulis, Sabda Perubahan, Kristern Hijau dan  Daulat Hijau pada suatu sore hangat di bulan Maret berkesempatan untuk membahas perihal tersebut melalui sudut pandang Max Weber dalam bukunya yang berjudul Etika Protestan dan Spirit Kapitalisme.
    Menurut pemantik utama yang juga merupakan aktivis FNKSDA Malang, Mahalli Hatim Hadzir, definisi Weber pasti sudah bergeser karena diterbitkan pada tahun 1904. Dalam tulisan-tulisannya, Weber banyak berbicara mengenai perilaku masyarakat pada abad 16-17 M. Namun apabila kita dapat menyelami lebih dalam, detail-detail tulisan Weber masih terpaut dengan konteks zaman ini. Ambil saja satu contoh, bahwa kepercayaan dan iman masih berpengaruh pada perilaku sosial dan ekonomi masyarakat. Sementara itu, kapitalisme merupakan sistem rasional dari sistem ekonomi seperti mendapat sesuatu untuk memperoleh keuntungan. Hingga hari ini, tesis-tesis Weber memimpin peran dalam penelitian sosiologi agama sebagai salah satu bilah analisis populer.
    Tambahan dari Daniel Sihombing, salah satu punggawa Kristen Hijau, tesis penting Weber yang masih dapat dipakai pada era ini adalah, pertama; resepsi luas mengenai konsep Weber mengenai kapitalisme menerima perbedaan bagi banyak pihak, masing-masing menimbulkan kecurigaan bagi satu pihak ke pihak  yang lainnya. Resepsi ini terkadang bias sehingga satu pihak dapat berbangga diri bahwa mereka adalah kaum yang menyuburkan kapitalisme. Sementara kaum lainnya merasa dirugikan, karena Protestanisme (terutama Calvinisme) telah menyuburkan kaptalisme. Yang kedua; Gerakan dorongan bagi Calvinisme untuk menjauhi kapitalisme sehingga menimbukan perubahan yang progresif.  Umat Protestan dapat dengan lugas mengambil sikap untuk hidup dengan baik, bukan hanya dengan mengumpulkan kekayaan duniawi namun juga kebaikan bagi sesama. Sebaliknya, umat juga harus bersikap kritis terhadap aturan-aturan yang mengatasnamakan gereja. Keselamatan yang didapati dalam kehidupan kini dan esok bukan mengenai kehidupan yang menindas, namun setara. Ibadah yang indah merupakan ibadah di tengah masyarakat, bukan di dalam kokohnya dinding gereja.

    Tanggapan dan pertanyaan muncul seiring dengan semakin bertambahnya peserta. Pembicaraan tidak semata berkutat pada tulisan Weber namun juga mengenai proses-proses masyarakat dalam menanggapi munculnya berbagai dogma dan gerakan radikal. Komunitas minoritas dapat tumbuh menjadi gerakan yang masif selama ia dapat menjawab permasalahan masyarakat.  Gambar besar pembicaraan sore itu senada dengan pemikiran Gus kita, Gus Absurrahman Wahid yang menyatakan, “Tidak penting apa pun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya agamamu.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Ngaji Agraria dalam Bingkai Sosiologi Agama Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top