728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Selasa, 07 Maret 2017

    Ngopi, Syiah dan Ukhuwah Wathoniyyah


    Oleh: Winartono*


    Ada tiga hal yang saya sebut pada judul di atas; "Ngopi", "Syiah", dan "Ukhuwah Wathoniyyah". Menggabung ke tiganya dengan urutan susunan demikian itu adalah bentuk respon atas permintaan yang mendadak untuk orang yang jauh dari keahlian ini—meski hanya—berbicara soal tersebut. Kecuali perihal "ngopi", saya sulit dipaksakan untuk diberi 'gelar' pakar (expert) bukan lain, hanya sebab sedikitnya literatur yang saya baca—itu pun sudah lama—dan malas yang menjangkiti saya untuk sibuk membincang topik perdebatan (khilafiyah) keagamaan yang masih dianggap sensitif. Terkait alasan yang terakhir ini semakin ke belakang sulit saya bedakan dengan urusan politik kekuasaan yang nadanya semakin fals: terlebih sumbang di telinga rakyat kecil, para buruh, dan petani melarat.
    Terus, apa hubungan dari ke tiga kata di atas? Bisa nyambung bisa tidak sama sekali. Oleh sudut pandang yang sempit dan sektarian, judul di atas termasuk contoh "Jaka Sembung naik ojek". Seolah ada luka sejarah yang harus terus diwarisi, terutama terkait kata kedua: Syiah. Bagi yang mengalami tentu masih bisa dimaklumi; barangkali ada sisa luka traumatik. Pemakluman yang saya maksud di sini kurang-lebih seperti sikap seorang cewek yang masih menyimpan dendam (atau bahkan sedikit sisa cinta) pada seorang cowok mantan yang pernah melukai dan menciderai cintanya.
    Yang menjadi masalah adalah kisah (luka) tersebut sepenuhnya 'diimpor' tanpa sadar bahwa di bumi yang kita pijak ini tersusun dari 'adonan' tanah dan air—bukan darah. Tiada masalah sebenarnya soal impor-mengimpor. Yang menjadi masalah tiada mengindahkan pertimbangan nilai arif lokal dan budaya tepa-slira. Tanah dan air butuh sentuhan jalinan persaudaraan yang kuat dan kerja nyata, bukan melulu pertentangan kelompok (firqah) yang bahaya latennya tak kalah dengan kepongahan deru industrialisasi dalam hal menandus-keringkan tanah-air.
    Fenomena (anti-pati) Syiah tentu bukan satu-satunya contoh, masih banyak wacana atau isu khilafiah lain yang daya gemanya sejauh ini bisa menanggalkan kewarasan nalar dan mengkesampingkan jalinan persaudaraan (ukhuwah). Dalam kasus perdebatan Syiah ini semestinya sebagai sesama muslim misalnya kita bisa mengupayakan dialog dengan didasari spirit ukhuwah Islamiyah. Lebih cair lagi, dalam konteks Indonesia bukan tidak mungkin dan tidak ada salahnya untuk terus mengembangkan jalinan ukhuwah wathoniyiah; sebangsa Indonesia.
    Soal tuduhan 'sesat' dan bahaya Syiah--barangkali sebagai sebuah gerakan internasional—bagi Islam (di) Indonesia dan apakah eksistensinya memberi lebih banyak madlarat atau manfaat bagi kemajuan NKRI, jujur saya masih awam. Dan oleh karena itu saya kali ini mengapresiasi undangan kawan-kawan GusDur-ian Malang. Pendek kata, saya siap menyimak; silaturahim  dan ngangsu kaweruh.
    Jangan-jangan 'perseteruan' selama ini tidak mencerminkan sajian narasi al-milal wa an-nihal nya Abu Al-Fath Muhammad Abdul Karim ibn Abi Bakr Ahmad Asy-Syahrostani bahwa munculnya firqah-firqah tersebut secara dominan lebih didasari oleh perbedaan pandangan dalam hal teologis. Apakah yang terjadi di Indonesia juga bermotif sama; apakah biang permusuhannya lebih banyak disebabkan oleh beda pendapat atau sepenuhnya didasari oleh beda pendapatan, saya jujur juga masih awam.
    Yang bisa kita lakukan secara pribadi setidaknya adalah belajar membuka pikiran. Terkait ini nuansa ngopi perlu dihadirkan. Tanpa 'mengernyitkan dahi' dan adu gengsi kita bisa menciptakan harmoni. Meski sifatnya alternatif, dengan ngopi kita bisa mereduksi friksi. Memang seolah tanpa aturan atau etika komunikasi, tetapi salah satu yang kentara dari ngopi adalah membangun 'keintiman' untuk menghasilkan titik temu; saling menghargai. Dengan begitu ngopi menjadi representasi terbukanya pandangan (open mind). Dengan begitu tidak mustahil menghubungkan tiga kata yang mengisi judul di atas. Kuncinya satu: sebelum membincang topik di atas, awali dulu dengan spirit kebersamaan ngopi.
    Lantas yang menjadi masalah baru adalah kelompok-kelompok garda depan perdamaian--yang salah satu jargonnya "menjaga negeri" tercinta NKRI dan didasari spirit ukhuwah (Islamiyah, Wathoniyah, Basyariah)—dihuni dan diwarnai oleh invidu-individu yang terjangkit syndrome “kagetan” dan "serba antipati". Kalau sudah begini, saya jadi diserang "demam rindu" (sosok) Gus Dur, yang serba ramah dan ngayomi.

    Biar tidak terlalu lama demamnya, mari ngopi dengan tuma'ninah.
    (Allahu a'lam. Salam)
    -Catatan untuk acara diskusi GUSDURian Malang- 07 Maret 2017


    *Penulis adalah Penikmat Kopi Pinggiran Kota
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Ngopi, Syiah dan Ukhuwah Wathoniyyah Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top