728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Jumat, 24 Maret 2017

    Nilai Kebangsaan dan Keberagaman dalam Studium Generale HIKMAHBUDHI X


    Oleh : Dika Sri Pandanari

    Hujan tidak menghalangi para penggerak untuk datang ke Studium Generale Hikmahbudhi X di Pendopo Agung Kabupaten Malang. Dialog terbuka berajuk “Meningkatkan Peran HIKMAHBUDHI Terhadap Aktualisasi Pancasila” ini dihadiri oleh beberapa tokoh masyarakat, diantaranya Ketua Sangha Theravada Indonesia, Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Dosen Fakultas Hukum Universitas Brawijaya dan Ketua Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika. Tujuan utama dari dialog ini adalah mengkaji kembali bagaimana peran kawan-kawan penggerak dapat menegakkan Pancasila diantara gerakan ekstrim yang sedang marak belakangan ini.
    Gusdurian Malang mendapat kesempatan untuk mengikuti dialog ini bersama dengan kawan komunitas lainnya. Sebagai salah satu komunitas yang bergerak untuk menebarkan nilai-nilai kebaikan universal, Gusdurian Malang datang dan menjalin tali silaturahmi sekaligus bergabung dalam diskusi kali ini. Pemantik pertama memaparkan sejarah sentakan kata “Merdeka!” yang biasa dikumandangkan para aktivis. “Salam ini bukan milik salah satu golongan atau kelompok saja, salam ini milik orang Indonesia, milik semua yang merindukan kemerdekaan dan keadilan bagi bangsa Indonesia”, kata seorang pemateri. Hal ini setara dengan salah satu nilai utama Gus Dur yaitu Pembebasan. Pembebasan  ini dapat dimulai dari pembebasan diri untuk berpikir dan berorganisasi. Oleh karena itu, gerakan organ-organ pemuda dan mahasiswa patut diteruskan, demi terciptanya bangsa yang merdeka kembali.
    Mengapa dikatakan ‘kembali’? Menurut para pemapar, Indonesia kini sedang mengalami ancaman. Identitasnya sebagai negara kesatuan dipertanyakan, Pancasila sebagai dasar negara dicemooh dan tidak dihargai, bahkan undang-undang sebagai dasar hukum sedang digoyangkan untuk digantikan dengan sumber hukum wahyu. Hal ini mengingatkan kita kembali kepada politik devide et impera yang berusaha memecah kesatuan kerajaan-kerajaan di Indonesia demi kelancaran usaha para penjajah. Setelah kebangkitan nasional, dilanjutkan dengan perjuangan bangsa Indonesia, akhirnya Indonesia dapat bersatu kembali menjadi sebuah negara yang merdeka. Kini kita mewariskan kemerdekaan bapak-ibu bangsa. Namun, sekali lagi kemerdekaan terancam direngguh. Semakin banyak isu yang membuat masyarakat terpecah belah. Ideologi dan kepercayaan bukan digunakan untuk menguatkan dasar bermasyarakat melainkan justru untuk blaiming dan hating.
     Dalam diskusi ini juga dijelaskan tentang sejarah pembentukan Pancasila oleh pemateri. Pancasila sebagai dasar negara Indonesia, pada awalnya digagas oleh BPUPKI, yang mana anggotanya terdiri dari berbagai macam suku, etnis, agama. Maka tidak revelan rasanya apabila ada sebuah dogma yang menyatakan bahwa Indonesia hanya boleh dipimpin oleh salah satu latar belakang etnis, suku, ataupun agama. Maka pemuda HIKMAHBUDHI dengan ideologi perdamaian Buddist-nya sesungguh punya peranan penting di dalam menjaga Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara Indonesia, serta menjaga keutuhan NKRI. 
    Tantangan pemuda saat ini bukan hanya mempertahankan kesatuan NKRI, namun juga menjaga perdamaian bangsa. Keduanya saling berhubungan. Negara yang memiliki taraf konflik horizontal tinggi, dengan mudah dapat dikuasai oleh pihak asing. Selama kita dengan mudah menekan sesama, saat itu pula para penindas dengan mudah memanfaatkan kita. Masyarakat dapat diombang-ambingkan dan dikondisikan untuk memusuhi satu sama lain. Bagi para penggerak yang sekaligus pemuda Indonesia, ini merupakan suatu tanggung jawab untuk menjaga kesatuan dan ketahanan bangsa. Sejarah Indonesia tidak hanya dibangun oleh satu kaum saja. Indonesia dibangun oleh bapak-ibu bangsa yang terdiri dari berbagai macam suku, ras, agama dan golongan.

    Sebagai kesimpulan sederhana dari dialog kebangsaan tersebut, dapat ditarik garis tengah bahwa belajar dari sejarah dan menjaga perdamaian adalah bagian dari menjaga kesatuan bangsa. Diskusi bersama beberapa tokoh masyarakat, berbagai komunitas dan kawan-kawan penggerak di Kota Malang ini mengingatkan kita kepada ajaran Gus Dur yang teranngkum dalam 9 Nilai Gus Dur. Ketauhidan, Kemanusiaan, Keadian, Kesetaraan, Pembebasan, Kesederhanaan, Persaudaraan, Keksatriaan, dan Kearifan Lokal telah terangkum dalam way of life bangsa Indonesia yaitu Pancasila.  Dengan mengamini Pancasila, maka kita sebagai para santri Gus Dur juga melaksanakan 9 Nilai Utama Gus Dur. 
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Nilai Kebangsaan dan Keberagaman dalam Studium Generale HIKMAHBUDHI X Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top