728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Jumat, 05 Mei 2017

    RAHMAH KEBERAGAMAN AGAMA#

    RAHMAH KEBERAGAMAN AGAMA#[1]
    Ahmad Kholil



    “Pahamilah agama sebagai organisasi, akan kau dapati enam agama di Republik ini. Pahamilah agama sebagai jalan menuju Dia, akan kau dapati jumlah agama yang sama dengan jumlah penduduknya’.[2]

    Pendahuluan

    Agama tidak akan mati, karena ia punya seribu nyawa. Demikian judul sebuah buku yang membicarakan agama, sekaligus hubungannya dengan permasalahan hidup dan kehidupan yang selalu hadir mengiringi keberadaan manusia. Setinggi apapun kemampuan akal dan nalar yang dimiliki manusia, ia tidak akan mampu menyelesaikan semua permasalahan yang dihadapi, terlebih masalah yang menimpa kejiwaannya. Tetapi manusia cenderung memiliki sifat picik, sehingga peran agama sering direduksi demi untuk kepentingannya sendiri. Begitu juga umat Islam, yang disebutkan dalam Alquran sebagai sebaik-baik umat, tidak sedikit yang mengatasnamakan agama untuk tujuan tertentu, di luar tujuan yang dituntun oleh agama. Tetapi bagaimanapun, agama tetap memegang peran penting. Karena itu ia sering dimanfaatkan.
    Sebagai agama pemberian Tuhan, semua agama samawi dalam perjalanan sejarahnya turut diwarnai peran manusia. Agama-agama tersebut, bukan hanya untuk mengatur kehidupan manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, tetapi juga mengatur secara menyeluruh hubungan manusia dengan segala yang ada di alam. Sebagai agama yang mengatur ubudiyah mahdo, Islam sudah sempurna sejak sebelum ditinggal Nabi Saw. Tetapi sebagai produk budaya yang mengatur kehidupan manusia, Islam tidak pernah selesai. Ia terus dituntut untuk dinamis, agar sikap dan tradisi kaum muslimin tidak kolot. Oleh karena itu, umat Islam, dalam hal ini ulama’nya, dituntut untuk terus berijtihad dan berinovasi, demi keabadian dan kelanggengan Islam itu sendiri.
    Dalam sejarah awal diperintahkannya Rasulullah Saw. menyampaikan Islam, bukan ketiadaan pengakuan masyarakat akan keberadaan  Tuhan yang menjadikan Nabi prihatin, hingga ia selalu berkhalwat di gua Hira. Juga bukan karena keyakinan masyarakat yang berbeda dengan tuntunan keimanan Alquran yang menyebabkan beliau bertentangan dengan masyarakat jahiliya, tetapi karena praktik keimanan keagamaan mereka yang disalah-gunakan. Terbukti pada perkembangan selanjutnya dalam kehidupan masyarakat muslim di Madinah, Nabi tetap menjamin keamanan kehidupan non-muslim (Yahudi dan Kristen) yang telah terikat dalam sebuah perjanjian untuk saling menghormati dan melindungi dalam tata kehidupan bermasyarakat.[3]
    Menyikapi situasi mutakhir saat ini, di mana sekelompok orang rela mati, untuk bersyahid di jalan Allah dengan ukurannya sendiri yang sangat subyektif dan fatal, sungguh suatu keadaan yang sangat memprihatinkan. Pada sisi yang lain, sekelompok orang begitu sibuk mencari kelemahan keberagamaan orang lain, untuk mengukur benar tidaknya cara keberagamaannya. Kalau sekadar mengukur untuk dijadikan takaran demi peningkatan kualitas diri tidak masalah, tapi kalau dari situ muncul fatwa, kemudian menggiring orang bertindak destruktif, ini juga suatu keadaan yang memprihatinkan.
    Tulisan ini tidak untuk menganalisis kenapa orang keliru memahami pesan agama, tapi hanya mengajak untuk menengok ke belakang, ke sebuah pandangan keagamaan yang indah, penuh pesona dan menawarkan kasih sayang pada sesama.  Suatu pandangan yang membenarkan perbedaan, merangkulnya untuk menjadi kekuatan, atas nama Tuhan, karena perbedaan itu Dialah yang menciptakan. Itulah pandangan kesatuan agama-agama, wahdatul adyan, yang dalam sejarah pemikiran Islam dipelopori Ibnu Mansur al-Hallaj, kemudian dikibarkan lebih tinggi benderanya, dengan narasi yang lebih indah oleh Syekh Akbar, Muhyiddin Ibn Arabi. Beberapa bagian dalam tulisan ini, penulis ambil dari buku “Pesona Cinta di Persia”[4]
    Pesan Agama
    Manusia lahir ke dunia dalam keadaan yang sangat lemah, tidak memiliki sarana yang lengkap untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah-masalah hidupnya. Manusia memang memiliki naluri, tapi hanya dengan nalurinya manusia tidak akan bisa hidup secara wajar. Demikian juga, nalurinya itu tidak akan bisa menjawab persoalan-persoalan dasar yang menjadi kegelisahan manusia. Persoalan-persoalan dasar itu menyangkut makna keberadaan diri, keberadaan sesama, dan hal-hal yang berkaitan dengan makna hidup ini. Titik klimaks dari semua itu adalah pengakuan akan keberadaan Dzat yang mengatasi hidup manusia, di mana di antaranya  ditemukan dalam agama lewat wahyu dan nabi-Nya.
    Sebelum menemukan atau mendapatkan wahyu, serangkaian upaya telah dilakukan manusia untuk menjawab persoalan di atas, baik dengan pengetahuan positif maupun spekulatif, dengan pengalaman empirik maupun sesuatu yang dipercaya dan diyakini berasal dari Tuhan. Semua kemudian bermuara pada agama dan  keyakinan atas sistem nilai dan norma kebenaran yang mempengaruhi keputusan tindakan manusia. Secara teologis, agama diturunkan oleh Tuhan melalui manusia pilihan atau para nabi dengan tujuan membimbing manusia dalam mendapatkan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan mendasar di atas. Sampai di sini, agama sudah sangat personal dan telah menjadi sistem kepercayaan yang tidak lagi seutuhnya dapat dipahami oleh pemeluk agama lain. Oleh karena itu, keyakinan seseorang harus dijamin (dilindungi), selama tidak mengganggu dan merusak ketentraman hidup bermasyarakat.
    Dalam tinjauan sosiologis, agama seringkali didefinisikan sebagai perangkat nilai yang memberikan ketentuan atau aturan berkenaan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan lingkungannya. Pengertian demikian terkesan doktriner, sehingga keterlibatan manusia dalam mewarnai agama tidak tampak. Padahal secara historis, jelas ada keterlibatan manusia sebagai subyek aktif dalam mewarnai agama.[5] Supaya tidak terkesan doktriner dan mengakui keterlibatan manusia dalam mewarnai, agama seharusnya diberi pengertian sebagai suatu keyakinan yang dianut dan sistem moral yang diimplementasikan oleh suatu kelompok atau masyarakat dalam menginterpretasikan serta memberi tanggapan terhadap apa yang dirasakan dan diyakini sebagai hal yang gaib dan suci. Dalam pengertian yang demikian, agama sebagai sistem keyakinan akhirnya dapat menjadi bagian dari sistem yang ada dalam kebudayaan dari masyarakat yang bersangkutan, menjadi pendorong sekaligus pengendali bagi masyarakat pemilik tersebut agar tetap sesuai dengan nlai-nilai agama dan kebudayaannya.
    Dilihat dari sisi teologis, agama menuntun orang pada sikap percaya terhadap kehidupan abadi di hari kemudian, yang dengan kepercayaan itu orang akan rela mengabdikan dirinya untuk kemaslahatan dunia. Sementara dalam terminologi ilmu sosial, agama dapat dilihat sebagai nilai-nilai yang mempengaruhi perilaku dan tindakan manusia. Mengacu pada pandangan ini, wilayah peran agama menjadi sangat luas, karena meliputi seluruh aspek kehidupan manusia. Wilayah peran dan fungsi agama itu memang konkrit-historis, dari lahir sampai mati, individual maupun sosial. Agama adalah "ruh" atau jiwa dari kewajiban-kewajiban mutlak yang harus ditunaikan pemeluknya, serta spirit dari sesuatu yang mengandung tujuan bagi penentuan titik orientasi hidup pemeluknya.[6]
    Perkembangan ilmu dan kemampuan rasionalitas manusia yang dianggap telah menunjukkan kemandirian, bahkan juga dirasa telah mulai merambah pada bidang perubahan hukum alam, menjadikan manusia saat ini seperti membuat jarak dengan Tuhan atau bahkan merasa tidak membutuhkan lagi. Agama yang sepanjang sejarah menjadi sistem nilai dan norma manusia, akhirnya ditantang untuk menyesuaikan diri dengan ambisi-ambisi manusia, dengan keinginan-keinginannya yang hampir tiada batas. Konsepsi agama kemudian dihadapkan pada prinsip yang didasarkan atas tuntutan fungsionalitas agama untuk menyelesaikan masalah-masalah konkrit yang dihadapi manusia.
    Kenyataannya, agama sebagai sistem nilai dan norma bagi manusia dalam berkebudayaan memang tidak bebas dari masalah. Fenomena aktual yang terjadi saat ini, seperti beberapa kekerasan yang mengatasnamakan agama, demikian juga upaya rekrutmen para relawan-mujahid "awam" untuk bertindak yang tidak sesuai dengan norma agama, seperti kekerasan dan klaim sesat atas keyakinan yang berbeda, menjadikan agama seolah-olah melegitimasi tindakan-tindakan yang tidak pada tempatnya, memaksa penganutnya untuk bertindak amoral, melecehkan keberagaman pikiran dan kebudayaan. Padahal di era sekarang ini, masyarakat hidup dalam kemajemukan, baik kebudayaan, nilai maupun agama. Kemajemukan ini adalah fakta yang tidak bisa dirubah, tapi harus diterima begitu saja. Masyarakat yang berperadaban harus mengakui adanya berbagai macam tradisi moral dan filosofis, selama semuanya memiliki kontribusi untuk membentuk jalinan sosial dengan interaksi yang terbuka.
    Masyarakat modern memang cenderung mengurangi kendala-kendala tradisional, misalnya dengan menghormati individualitas. Dalam waktu bersamaan, modernitas telah mengakibatkan sistem-sistem relijius dan moral mengalami sekularisasi. Sekularisasi, yang dalam Islam sejatinya tidak ada, kemudian membuka suatu kawasan netral, di mana nilai-nilai seperti toleransi dan sobjektivitas dijunjung tinggi atas dasar kebebasan untuk memilih dan menentukan sikap dan tindakannya sendiri. Di sini kemudian tidak ada penilaian, adakah itu suatu kemajuan, atau justru kemerosotan. Tekanan pada kebebasan individu ini terwujud dalam suatu liberalisasi tingkah laku dan ukuran yang menyangkut nilai tentang moralitas. Dengan melupakan esensi dan substansi dirinya, manusia modern cenderung menekankan pada efisiensi dan hasil konkrit yang bersifat empirik dan pragmatik.
    Dalam pandangan agama dan kosmologi tradisional, manusia dan alam ini adalah suatu kesemestaan yang diciptakan Tuhan, memiliki ruang, dan memiliki batas waktu awal dan akhir. Ilmu pengetahuan mengajarkan suatu gambaran kosmos yang berbeda dengan yang diajarkan guru tradisional, termasuk guru agama. Agama dan orang-orang tradisional mempunyai konsep, pandangan, interpretasi tentang apa yang disebut materi, alam semesta, hidup-mati, awal jaman dan kiamat. Semua itu merupakan gugusan informasi yang mereka anggap nyata, objektif, serta merupakan sumber kebijaksanaan hidup. Gugusan informasi itu meliputi nilai-nilai dan maknanya, sehingga dengan itu manusia dapat mengenal diri, menemukan tempat, situasi, status dan identitas diri sendiri serta orientasinya  dalam suatu totalitas integral dengan semesta.[7] Tetapi oleh ilmu pengetahuan dan teknologi modern, pemahaman tentang manusia beserta seluruh tata-nilai dan tata pemaknaannya itu kini dirubah, diganti dengan tatanan baru yang asing, sehingga tidak sedikit manusia mengalami keterasingan, termasuk asing dengan dirinya sendiri.
    Mengutip pendapat Fazlur Rahman, agama yang diturunkan lewat nabi-Nya merupakan bentuk kasih-sayang Tuhan kepada umat manusia di satu sisi, dan merupakan bukti ketidak-dewasaan manusia dalam persepsi dan motivasi etisnya pada sisi yang lain.[8] Ada kaitan yang erat antara  agama dengan kepengasihan Tuhan di satu pihak, dan agama dengan kelemahan manusia di pihak yang lain. Dengan ungkapan lain, manusia adalah makhluk yang memiliki kemampuan terbatas, karena itu manusia membutuhkan bimbingan dan peringatan agar tidak menyimpang dari jalan yang benar. Wujud bimbingan Allah itu adalah diutusnya para rasul yang diringi dengan pedoman berperilaku dalam kehidupannya.[9]
    Kelemahan manusia, sebagaimana disebutkan Alquran, adalah kepicikan (dla'if) dan kesempitan pikirannya (qithr). Karena menusia picik, ia bersifat terburu-buru, panik dan tidak mengetahui akibat jangka panjang dari tindakan-tindakannya. Karena suka terburu-buru, manusia menjadi sombong atau malah gampang berputus asa.[10] Adanya kelemahan itu membuat manusia mudah keluar dari kesadaran serta tidak mampu bersikap sesuai dengan hati nuraninya. Dalam kondisi yang demikian, manusia akan mudah melupakan Tuhan, tidak memiliki pandangan yang berdimensi transendental, serta tidak mampu menangkap nilai-nilai kehidupan dalam pengertian yang sebenarnya.
    Dalam sebuah Hadits disebutkan, ketika seseorang berada di tengah kebimbangan menentukan antara yang benar dan yang salah, dianjurkan untuk bertanya kepada hati nuraninya. Ini berarti, setiap individu atau masyarakat harus terus-menerus mendengarkan bisikan nurani dan menjaga keseimbangan moralnya dengan jalan mengingat Tuhan. Tanpa upaya itu, manusia dengan kemampuannya yang terbatas, tidak akan mampu menangkap nilai-nilai kebenaran yang hakiki. Tanpa mengingat Tuhan dan bertanya kepada nurani, manusia terjerumus dalam suatu kehidupan yang tidak hanya bertentangan dengan nilai-nilai yang telah digariskan oleh agama, tetapi juga oleh nilai-nilai etis kehidupan itu sendiri. Sampai di sini, masihkah dipertanyakan urgensi agama sebagai sarana untuk mengantarkan manusia pada hakikat keberadaannya yang tidak hanya sebagai makhluk yang berdimensi fisik, tapi juga spiritual.
    Beragama dengan Bijaksana
    Seorang tokoh filsafat analitis, Thomas Hobbes (1588-1679) memiliki pandangan yang miris terhadap sesamanya. Manusia dalam pandangan Hobbes adalah serigala bagi manusia yang lain (homo homini lupus). Pandangan tokoh ini seakan-akan menvonis seluruh manusia sebagai rival bagi lainnya, sehingga permusuhan, persengketaan, pertumpahan darah dan sikap-sikap destruktif lainnya yang terjadi di antara manusia merupakan sebuah keniscayaan, seraya mengeliminasi kecenderungan bekerjasama dan saling membutuhkan sebagai perangai fitrawi manusia.
    Secara umum dan naluriyah, dalam diri manusia selalu terdapat dua sifat yang berlawanan. Keduanya seperti dua sisi dari sekeping uang. Pertama sisi kebaikan sebagai sifat positif manusia dan kedua kejahatan sebagai sifat negatif. Keduanya senantiasa bergejolak saling berkompetisi untuk merebut dan menguasai diri manusia. Pertarungan di antara keduanya akan mudah dimenangkan oleh kejahatan dibawah kendali nafsu. Kenapa kejahatan mudah menang, karena ia seringkali diliputi oleh kenikmatan. Demikian juga kejahatan dalam berbagai modus operandinya sangat mudah dilakukan. Berbeda halnya dengan kebaikan, selain harus melewati berbagai rintangan yang sulit dilakukan dengan kendali hati nurani, ketika berhadapan dengan kejahatan ia terseok-seok, kalaupun menang hasilnya tidak selalu memuaskan.
    Kemenangan yang mudah kejahatan atas kebaikan dalam diri manusia lambat laun akan melahirkan kesemrawutan (chaos) dalam kehidupan. Dengan kehidupan yang semerawut, ketidak-harmonisan di antara mereka tidak terelakkan lagi. Karena itu, Tuhan Yang Mahakuasa, dengan segala kebijaksanaan-Nya membuat peraturan-peraturan lewat agama dan menurunkannya dengan perantara para utusan (Rasul) sebagai pedoman hidup yang wajib dipatuhi, dalam arti diimplementasikan ajaran-ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.
    Sayangnya, agama yang merupakan titah suci Tuhan bagi umat manusia ini tidak lagi menebarkan ruh kemaslahatan demi kehidupan manusia. Ini terjadi karena faktor intervensi manusia dengan segala kekurangan dan interest-personalnya atas teks-teks keagamaan. Seakan-akan kebenaran agama hanyalah milik kalangan tertentu saja, agama kemudian diseret ke sana ke mari sesuai seleranya sendiri, sehingga klaim-klaim kebenaran penafsiran bak pedang tajam terhunus yang selalu siap memenggal keyakinan pihak lain yang berbeda.
    Itulah fakta kehidupan sosial keagamaan yang ada di dunia kita saat ini, dan itu juga yang kita lihat dan dengar di sebagian kecil wilayah negara kita. Peristiwa konflik yang disebabkan oleh faktor kesalahan dalam memahami pesan vital agama sesungguhnya amatlah kecil dibanding dengan kenyataan kehidupan yang harmonis dan tentram di balik payung-payung nilai agama yang berbeda. Namun sering berita yang bernada menciderai agama tersebut menjadi lebih besar dari kenyataan yang sebenarnya. Meskipun terbilang kecil, tindakan sedikit orang di wilayah yang tidak luas itu perlu terus diupayakan berkurang, bahkan sebisanya dihindari dengan melakukan tindakan preventif. Salah satu cara, adalah menyelami pemahaman agama masyarakat untuk kemudian membentuk pemahaman tersebut sesuai dengan kaidah keagamaan yang benar, yaitu agama yang membawa kedamaian dan kerukunan kehidupan sosial.[11]
    Urgensi agama adalah pembimbing sekaligus pengikat manusia demi terwujudnya ketenangan, kedamaian dan kesejahteraan dalam hidupnya. Setiap agama membawa misi suci ini, namun pada tataran implementasi ia tereduksi oleh sikap dan tindakan penganutnya sendiri. Ketidak-sinkronan antara fakta normatif dan historis ini disebabkan karena pandangan dan pemahaman yang berbeda terhadap pesan agama, di samping karena kepentingan tertentu di luar agama. Hal ini terjadi pada agama apapun, tidak terkecuali Islam, seperti yang sering diberitakan media informasi.
    Agama bagi setiap orang adalah prinsip yang utama. Oleh karena itu, jangan mengganggu dan mengangap remeh keagamaan orang lain. Perbedaan keyakinan memang telah menjadi sesuatu yang harus dimaklumi karena memang demikian itulah ‘takdir’ Tuhan.[12] Di ruang sosial, agama yang berbeda itu adalah milik bersama. Karena itu, di ruang itu harus tercipta suasana damai dan saling menghormati, tidak boleh terjadi sikap melecehkan antara satu dengan lainnya. Menyinggung perasaan dan melecehkan agama orang lain, sama halnya dengan melecehkan agamanya sendiri. Seperti di sebuah ruangan, kata-kata yang terucap akan memantul dan terdengar oleh telinga sendiri.
    Ekspresi keagamaan yang ditampilkan sekelompok orang terkadang memang mencerminkan wawasan keagamaan yang tidak lengkap dengan hanya menekankan sisi dari sifat jalaliyah atau keagungan Tuhan, sehingga hati tergiring pada perasaan takut kepada-Nya. Dengan menekankan pada sisi ini, penyebaran agama sering dilakukan dengan wajah meyeramkan, bahkan pemeluk agama itu sendiri berwajah kurang ramah bahkan tidak jarang menggunakan cara kekerasann dengan alasan berdakwah. Ekspresi dan cara demikian melupakan substansi agama itu sendiri yang semestinya mengajak pada kebaikan dengan keramahan dan menampilkan wajah Tuhan  dari sisi sifat jamaliyah-Nya. Dengan menekankan pada sisi jamaliyah itu, Tuhan ditampilkan dengan cara mempesona, indah dan mengundang kerinduan. 
    Berdakawah dengan cara kekerasan, baik fisik maupun verbal, sangat berlawanan dengan misi suci agama. Secara teks, seperti yang termuat dalam ayat-ayat Alquran, Agama (Islam) senantiasa menghormati keragaman. Keragaman itu sendiri, dari persoalan keyakinan yang berada di hati sampai pada masalah ukuran nilai baik dan buruk adalah kehendak Tuhan.[13] Penyangkalan terhadap fakta keragaman itu membuat pribadi pemeluk agama tertentu menjadi eksklusif. Kehadiran agama dalam ruang sosial kemudian sering dicurigai, karena sikap yang tidak santun, tidak toleran, merasa benar sendiri, dan suka menampilkan sikap berlawanan terhadap cita-cita sosial.
    Penyebaran informasi tentang ajaran agama memiliki pengaruh yang sangat besar dalam menciptakan pola pemahaman dan citra keagamaan di tengah masyarakat. Karena informasi inilah yang kerap dijadikan titik kesadaran dan pemahaman keagamaan masyarakat. Karena itu, strategi penyebaran informasi ajaran agama dan bentuk kesadaran dari pemuka agama memiliki keterkaitan yang erat dalam menghiasi wajah agama di masyarakat. Keras-lunak dan moderat-radikalnya masyarakat dalam beragama sebenarnya sangat ditentukan oleh strategi penyebaran informasi tentang ajaran agama dan pemahaman keagamaan yang diyakini oleh para pemuka agama. Oleh karena itu, elemen ini perlu memberi contoh bagi model keberagamaan yang benar. Elemen ini juga perlu menjalin kerjasama dengan pihak terkait, yaitu pemerintah dan tokoh organisasi kemasyarakatan dalam mewujudkan suasana kehidupan keberagamaan yang ramah dan penuh kesantunan.
    Upaya tersebut tidak lain adalah untuk menjadikan agama yang ada di tengah masyarakat sebagai ruh atau spirit perdamaian dan pembebasan rohani dari godaan kepentingan duniawi. Di samping itu, agama saat ini juga harus mampu memberi jawaban bagi problem kemanusiaan, seperti ketidak-adilan, penindasan, kesewenang-wenangan, korupsi, dan kemiskinan struktural yang terjadi di masyarakat. Agama harus mampu eksis dengan mempertahankan orientasi horisontalnya dalam menjaga hubungan dengan sesama manusia. Dengan demikian, korupsi dan buruknya sistem birokrasi dalam pemerintahan juga menjadi tanggungjawab bersama umat beragama. Agama yang mempunyai orientasi vertikal dan horisontal seperti ini merupakan karakter yang inklusif, sehingga tidak akan lekang oleh segala bentuk perubahan. Sejarah tersebarnya agama-agama di dunia telah membuktikan bahwa agama yang memiliki orientasi kemanusiaan yang kuat untuk terciptanya tatanan sosial yang kondusif akan bisa bertahan.
    Agama memang hanya ajaran moral, namun jika ajaran itu mampu diimplimentasikan nilainya secara optimal akan berdampak pada kehidupan umat manusia. Dengan pola aktualisasi yang demikian, agama akan berperan membawa peradaban pada tatanan yang lebih baik. Ini sebenarnya adalah soal internalisasi ajaran agama, bukan sekedar simbol, pendeklarasian ataupun formalisasi ajarannya, tetapi melampaui batas simbol-simbol formal, yang akhir-akhir ini justru kerap menjadi ‘sesembahan’.
    Rahmah Keragaman Agama
    Ada dialog menarik yang terjadi antara ‘seorang lelaki’ yang ingin bertaubat dengan tokoh-tokoh agama. Pertama yang didatangi adalah pendeta di Vatikan yang sedang merayakan hari natal di gereja. Percakapan terjadi panjang lebar karena sang pendeta bingung, tidak berani memberi keputusan atas keinginan lelaki tersebut. Bahkan pendeta mempertanyakan kenapa memilih datang ke gereja,’Kenapa kau memilih agama kami, tidak ke agama yang lain ? “Ya, karena perayaan natal ini mengingatkanku akan janji kemurahan Tuhan pada pengakuan dosa hamba-Nya, sebagaimana yang diceritakan al-Masih. Kata si lelaki. Tapi kamu lain, sang pendeta menimpali. Pada akhirnya pendeta memutuskan bahwa gereja Vatikan menolak keinginan sang  lelaki tersebut untuk bertaubat. Pendeta kemudian menyuruh pergi ke tokoh agama yang lain.
    Lelaki itu kemudian keluar dari Vatikan, penuh iba dan merasa hina. Tapi ia tidak putus asa. Ia tahu bahwa pintu pertaubatan selalu terbuka, karena Tuhan sangat pemurah. Ia kemudian pergi meninggalkan Vatikan menuju Israil, ke sinagog di mana orang-orang Yahudi melakukan ritualnya. Ia temui pemimpin agama Yahudi. Rupanya ia sudah mengenal siapa yang datang dan terjadilah dialog di antara keduanya :
    -          : ‘Kamu ingin menjadi yahudi ?’
    -          : ‘Ya, saya ingin bersama kalian’.
    Sang pemimpin Yahudi berpikir, jika orang ini diampuni Tuhan, bagaimana membedakan antara orang-orang Israil dengan bangsa yang lain. Bukankah bangsa Israil ini kaum pilihan yang menandakan bahwa mereka lebih unggul dari yang lain. Jika orang ini diampuni, tidak ada lagi penguasaan satu bangsa atas bangsa yang lain. Tidak ada lagi egoisme dan ketamakan sebagai wujud rasa lebih dan ambisi pada seseorang. Tidak ada lagi kemulyaan orang-orang yahudi atas penganut agama yang lain. Bahkan superioritas Bani Israil atas bangsa yang lain juga akan sirna. Demikian pikiran yang berkecamuk di benak pemimpin yahudi. Seperti yang terjadi di Vatikan, orang ini akhirnya diusir keluar dari sinagog. ‘Bukanlah tradisi kami untuk berbasa-basi. Kami tidak merasa perlu untuk menerimamu ke kelompok agama kami. ‘Pergilah ke tempat lain ! Caarilah orang lain yang mau menerimamu ! Demikian kata-kata yang keluar dari mulut pendeta yahudi, yang menutup harapan si lelaki menjadi bagian dari orang yang bisa berlaku baik dalam agama yahudi.
    Lelaki itupun berlalu dari sinagog. Ia terhina dan merasa dirinya penuh kotoran. Namun ia pantang menyerah, pintu kebaikan masih terbuka, begitu yang tersirat di batinnya. Ia kemudian pergi ke Mesir, menuju Universitas al-Azhar, menemui seorang Syekh di Perguruan Tinggi Islam termasyhur di dunia itu. Ia diterima dengan baik. Kemudian Syekh berkata, ‘Jika kamu beriman itu suatu perbuatan yang bagus, tetapi….’ Syekh terdiam lama, sehingga lelaki itu kemudian menimpali. ‘ Tetapi apa…?, bukankah hak setiap makhluk Allah untuk masuk ke agama-Nya ? Bukankah demikian yang ditegaskan dalam kitab-Nya ? Aku mensucikan nama dan memuji-Nya. Aku bermohon ampun kepada-Nya. Aku ingin masuk ke agamamu dan aku ingin masuk dalam golongan orang-orang yang mendapatkan petunjuk.
    Sang syekh bingung, tidak berani memberi keputusan untuk menjawab keinginan orang yang berkemauan keras mengakhiri pengembaraannya dalam dosa. Pantas saja syekh tidak berani tegas, karena yang datang itu adalah Iblis, pengibar bendera Syaithan dalam diri manusia. Tetapi ia sungguh-sungguh, ingin meninggalkan perbuatan jelek dan merasakan bagaimana masuk dalam kelompok orang-orang baik. Rupanya syekh tahu, ia kalah senior dan untuk memberi keputusan atas keinginannya bukan menjadi otoritasnya. “Kalau syaithan ini taubat, masuk Islam, apakah kaum muslimin tetap akan mengucapkan audzubillahi minassyaithaniirojim ketika membaca Alquran. Bukankah perintah untuk menjaga diri dari godaannya banyak mewarnai  doa-doa dan bacaan pada ayat suci ? Begitu yang berkecamuk dalam benak syekh. Ia menyadari keterbatasannya yang jika dijawab ya akan berkonsekuensi pada banyak hal. Syekh mengankat kepalanya, dan berkata, ‘Kamu datang ke sini membawa masalah yang bukan menjadi wewenangku. Ini di atas kemampuanku, apa yang kamu inginka tidak pada saya jawabannya. Saya tidak bisa memenuhi keinginanmu, bahkan memberi saranpun saya tidak bisa. Demikian jawaban syekh al-Azhar, yang akhirnya menjadikan putus asa si lelaki untuk mencari jawaban di bumi.
    Akhirnya lelaki tersebut terbang mengetuk pintu-pintu langit, barangkali ada malaikat yang bisa memberi solusi atas permasalahan yang ia alami.  Ketukannya membawa hasil, malaikat Jibril muncul menemuinya.
    -          : ‘Kamu, ada apa ?’
    -          : ‘Aku ingin taubat !’
    -          : ‘Sekarang ?’
    -          : ‘Apa saya datang terlambat ?’
    -          : ‘Bahkan kamu ada sebelum diciptakannya semesta’. Tidak ada hal yang bisa diubah dari apa yang telah ditentukan. Kembalilah ke tempat asal di mana kamu berangkat. Kembalilah ke bumi dan hiduplah sebagaimana biasanya !’
    -          : ‘Saya ingin mencicipi kebaikan’
    -          :‘Kebaikan terhalang untukmu, janganlah kamu coba-coba untuk mendekatinya !
    -          :’Seperti pohon khuldi ?
    -          ;’Ya larangan ini berlaku seperti Adam dan Hawa yang kau rayu dengan pohon itu.
    -          :’Bukankah ada kasih sayang dan pengampunan dari Allah ?
    -          : ‘Keduanya tidak ada atas titah penciptaan bagimu’
    -          ; ‘Saya sungguh  makhluk yang terhina’
    -          : ‘Ketiadaanmu akan merubah struktur kehidupan yang sudah tertata. Tidak ada lagi dinding pemisah, tidak ada simbol-simbol yang membedakan antara baik-buruk, keutamaan-kehinaan, tidak ada hitam-putih. Semua akan bercampur jadi satu tidak bisa dibedakan. Bukankah cahaya kebenaran akan terlihat di tengah kegelapan, bukankah kebenaran bisa terlihat jika ada kebatilan, bukankah sesuatu bisa disebut buruk karena ada yang jelek. Keberadaanmu adalah keniscayaan yang tidak bisa ditolak.
    Si lelaki yang merupakan reprensentasi Syaithan itupun akhirnya menerima nasibnya. Ia kemudian turun ke bumi menyandang gelar yang sedari dulu disandangnya. Sambil meluncur ia berteriak menegaskan keberadaannya, Inni al-syahiid, inni al-syahiid, ‘sayalah martir sejati, sayalah martir sejati.[14]
    kutipan cerita di atas sedikit memberi gambaran, bagaimana perbedaan itu ada dan memang harus ada. Bukan hanya pada aspek ideologi atau aliran pemikiran dalam keagamaan, bahkan sampai yang ekstrimpun juga menjadi bagian yang tidak boleh tidak ada. Menolak perbedaan sama halnya dengan menolak ketentuaan hukum Allah. Demikian juga memaksakan harus memiliki keyakinan yang sama adalah penentangan terhadap ketentuan ayat suci. Alquran menegaskan tidak ada pemaksaan dalam masalah agama.[15]Dalam hal ini, Thabathaba’I berpendapat bahwa karena agama merupakan dalil ilmiah yang diikuti amaliyah dari keyakinan di hati (I’tiqad), maka agama tidak boleh dipaksakan oleh sipapun.[16]
    Penegasan Alquran terhadap keberadaan agama-agama lain yang sekaligus menandakan pengakuannya terhadap para pemeluknya tercantum antara lain pada kutipan berikut :
    Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.[17]

    “Janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan Setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.”[18]

    Dalam tradisi kenabian, sejarah Islam juga menunjukkan bagaimana Kanjeng Nabi Saw. membentuk masyarakat yang beragam tanpa gesekan mendistorsi satu sama lain. Nabi menyusun konstitusi yang menjamin kehidupan yang aman bagi berbagai pemeluk agama yang berbeda-beda. Itulah yang tercermin dalam watsiqah Madinah (piagam Madinah), yang disusun secara demokratis bersama masyarakat madinah. Ada lima aspek yang dijamin bagi warga mayarakat Madinah di bawah kepemimpinan Rasulullah yang muslim. 1) bertetangga yang baik ; 2) saling membantu menghadapi musuh bersama ; 3) membela merek Yng teraniaya ; 4) saling menasihati ; dan 5) menghormati kebebasan beragama. [19]
    Sejarah penjaminan dan pengakuan bagi keberadaan agama lain terus dijalankan oleh para khalifah penerus Rasulullah. Demikianlah perjanjian yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin al-Khattab di Yerusalem, yang penduduknya tidak hanya warga muslim. Dalam perjanjian itu, ada jaminan untuk keamanan jiwa, harta, gereja, lambang salib, dan  untuk agama Narsrani secara keseluruhan. Dengan demikian mereka tidak dipaksa untuk meninggalkan agamanya dan mereka tetap merasa aman di tengah masyarakat yang mayoritas muslim.[20]
    Untain yang mempesona dalam kehidupan yang beragam juga disenandungkan oleh sufi agung yang mendapat gelar al-Syekh al-Akbar, Muhyiddin Ibn Arabi. Sufi pengarang Fushush al-Hikam dan al-Futuhat al-Makiyah ini mengatakan :
     لقد كنت قبل اليوم أنكر صاحبي  *  إذا لم يكن ديني إلي دينه دان
    لقد صار قلبي قابلا  كل صورة    *    فمرعى لغزلان ودير لرهبا ن

    وبيت لأوثان  وكعبة  طائـف       *   وألواح توراة ومصحف قرآن
    أدين بدين الحب أنى توجهـت      *   ركائبه فالحب ديني وإيماني [21]

    Sebelum ini saya mengingkari temanku, jika agamanya berbeda denganku
    Namun sekarang hatiku menerima segala bentuk dan  rupa, ia adalah padang rumput bagi kijang dan biara bagi para rahib.
    Kuil anjungan berhala dan kabah bagi para petawaf. Batu tulis untuk Taurat dan mushaf bagi Alquran
    Agamaku adalah agama cinta, yang senantiasa kuikuti ke mana pun langkahnya; itulah agama dan keimananku:”

    Bila ditelusuri dalam sejarah, hubungan Islam dengan agama-agama lain memang tidak selamanya  berjalan baik, mulus tanpa konflik. Di jaman Nabipun pernah terjadi peperanngan dengan kaum Yahudi dan Nashrani di Madinah. Demikian  juga pada masa pemerintahan Islam dipegang Dinasti Umaiyah dan Abasiyah, terjadi hubungan yang disharmonis antara pemeluk agama yang berbeda. Namun demikian, hubungan yang harmonis lebih dominan bila disbanding denngan disharmonisnya. Demikian pula, bila ditelusuri lebih jauh, konflik dan peperangan yang terjadi antara pemeluk agama bukan karena agama mengajarkan demikian, melainkan pemahaman umat yang keliru akan sebuah ajaran. 
     Adalah kewajiban setiap pemeluk agama menjadikan agama sebagai sarana pemersatu, bukan pemecah belah. Itulah amanat yang diajarkan dari sebuah  Hadits ‘Ikhtillafu ummati rahmatun’. Perbedaan bukan musibah, tetapi berkah yang dengan itu orang atau suatu komunitas bisa terpacu untuk maju dan berkembang. Kejayaan Islam di masa Abasiyah dulu karena gesekan-gesekan tradisi, ilmu dan perdaban bahkan agama dan keyakinan yang bermacam-macam. Persoalannya kemudian adalah bagaimana dalam perbedaan itu tidak saling menjatuhkan, tapi justru saling menguatkan.
    Penutup
    Agama menjadi dasar dari segala sikap dan tindakan manusia. ia mencakup aspek yang amat luas dan terkadang tidak terjangkau nalar. Begitu luasnya hingga agama  hanya bisa dijabarkan dengan tindakan yang dapat diamati. Agama merupakan pengalaman personal yang seringkali sulit dibahasakan. Pada level personal tersebut, agama berkaitan dengan apa yang diimani secara pribadi oleh seseorang dan bagaimana kemudian ia berpengaruh pada apa yang dipikirkan, yang dirasakan, yang diucapkan dan yang dilakukan.
    Mengajak kepada jalan yang benar, sesuai dengan keyakinan agama tertentu adalah tugas pokok setiap pemeluknya. Itu juga merupakan implementasi kesetiaan pada risalah yang dibawa agama. Namun kesetiaan itu tidak boleh sampai melahirkan klaim bahwa satu-satunya kebenaran adalah ajaran yang ia pahami, dengan menapikan yang lain. Seumpama rumah, agama memiliki banyak pintu. Karena itu, untuk masuk ke dalamnya ada banyak pilihan. Cara yang tepat untuk mengajak orang masuk ke dalam rumah keimanan itu adalah dengan dialog egaliter dan kearifan.
    Dalam perspektif kesejarahan Islam, semua konsep, kaidah dan rumusan yang mengarah pada penanaman nilai moral bagi umatnya selalu merujuk kepada Alquran dan Sunah Nabi, meskipun demikian, masing-masing memiliki kekhasannya sendiri.. Dalam hal ini, keragaman, termasuk dalam persoalan agama adalah warna yang harus ada dan dihargai untuk menjadi sarana introspeksi dan berlomba menuju kebaikan. Dari situ, keragaman bisa menjadi sarana menularkan rahmah atau kasih sayang Tuhan.
    DAFTAR  PUSTAKA
    Abdul A'la. 2009. Dari Neo Modernisme ke Islam Liberal. Dian Rakyat. Jakarta.
    Al-Dzahabi. Tt. Al-Tafsir wa al-Mufassirin. Vol. 1. Maktabah Syamilah
    Al-Husna,  Ahmad b. Muhammad b. Ujaibah. 1266 H. Iqadh al-Himam fi Syarh al-Hikam. Jiddah, al-Haramain.
    Ali, Yunasril. 1997. Manusia Citra Ilahi. Jakarta. Paramadina.
    Al-Sya'roni, Syaikh Abd Wahhab. 2006. Terapi Spiritual. Terj  E. Kusdian. Pustaka Hidayah. Bandung.
    Amstrong, Karen. 2002. Sejarah Tuhan. Terj. Zaimul Am. Bandung. Mizan, 2002.
    Bertens, Kees. 2002. Etika. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
    Esposito, John.  dkk. 2002. Dialetika Peradaban : Modernisme Politik dan Budaya di Akhir Abad ke-20. Terj. Ahmad Syahidah. Qalam. Yogyakarta.
    Hidayat, Komaruddin. 2012. Agama Punya Seribu Nyawa. Jakarta.  Noura Books.
    Majdi al-Hilali. 2009. Hancurkan Egomu. Terj. Mahfud Hidayat. Pustaka al-Kautsar. Jakarta.
    Russel, Betrand. 2004. Sejarah Filsafat Barat. Terj. Sigit Jatmiko dkk. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.
    Rahman, Fazlur. 1989.  Major Themes. Chicago University Press.Chicago. Shubhi, Ahmad Mahmud Tt. Falsafah Akhlaqiyah fi al-Fikri al-Islami. Daar al-Ma'arif. Kairo.
    Sayyid Quthub. 2002. Manhaj Islam Keselarasan Agama dengan Fitrah Manusia. Terj. Ahmad Wajih Fiddaraini. Madani Pustaka Hikmah. Yogyakarta.
    Thabathaba Muhammad Hasan’i. 1300. al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an. Jilid 2. Qum. al-Muqaddas Iran Jamaah alMudarrisin fi Hauzaat al-Ilmiyah.
    Utsman, Fatimah. 2002.  Wahdat Al-Adya. Yogyakarta.  LKiS.
    Zubair, Achmad Charrir. Tt. “Agama dan Kekerasan” Menemukan Kembali Makna Spiritualitas Manusia (Makalah Refleksi)





    [1] Tulisan pernah dimuat dalam buku “Santri & Kyai”
    [2]Pesan Guru Rukin kepada Kukuh Purwanto, santrinya yang menjuarai penulisan esai Budaya Damai 2015. 
    [3] Inilah yang terkandung dalam Watsiqah Madinan, Piagam Madinah, sebagai konstitusi masyarakat di masa kepemimpinan Kanjeng Nabi Saw.
    [4] Ahmad Kholil, Pesona Cinta di Persia, 2014. Diterbitkan Gunung Samudera, Malang.
    [5] Lihat Karen Amstrong, Sejarah Tuhan. Terj. Zaimul Am. (Bandung. Mizan, 2002)
    [6] Zubair, Achmad Charris, tt . “Agama dan Kekerasan” Menemukan Kembali Makna Spiritualitas Manusia (Makalah Refleksi)

    [7] Betrand Russel, Sejarah Filsafat Barat. Terj. Sigit Jatmiko dkk  (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2004),  959
    [8] Fazlur Rahman,. Major Themes (Chicago : Chicago University Press, 1989), 82.
    [9] Al-Dzahabi. Tt. Al-Tafsir wa al-Mufassirin. Vol. 1. Maktabah Syamilah
    [10] Alquran surat al-Ma'arij ; 19-21.
    [11] Komaruddin Hidayat, Agama Punya Seribu Nyawa (Jakarta :  Noura Books, 2012), 27.
    [12] Alquran surat al-Nahl (16) : 93.
    [13] Alquran surat al-Maidah ; 48
    [14] Dari cerpen Taufik al-Hakim ‘al-Syahiid”
    [15] Surat al-Baqarah ; 256.
    [16] Muhammad Hasan Thabathaba’i<, al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an. Jilid 2 (Qum : al-Muqaddas Iran Jamaah alMudarrisin fi Hauzaat al-Ilmiyah. 1300), 342.
    [17] Surat al-Baqarah ; 62
    [18] Surat al-Nahl ; 108
    [19] Fatimah Utsman, Wahdat Al-Adyan (Yogyakarta : LKiS, 2002), 77.
    [20] Ibid, 79
    [21] Muhyiddin Ibn Arabi, TheTarjuman Al-Ashwaq (London Asiatic Society.  1911), 19
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 komentar:

    1. ASS..WR.WB.SAYA pak alresky TKI BRUNAY DARUSALAM INGIN BERTERIMA KASIH BANYAK KEPADA EYANG WORO MANGGOLO,YANG SUDAH MEMBANTU ORANG TUA SAYA KARNA SELAMA INI ORANG TUA SAYA SEDANG TERLILIT HUTANG YANG BANYAK,BERKAT BANTUAN AKI SEKARAN ORANG TUA SAYA SUDAH BISA MELUNASI SEMUA HUTAN2NYA,DAN SAWAH YANG DULUNYA SEMPAT DI GADAIKAN SEKARAN ALHAMDULILLAH SUDAH BISA DI TEBUS KEMBALI,ITU SEMUA ATAS BANTUAN EYANG WORO MANGGOLO MEMBERIKAN ANGKA RITUALNYA KEPADA KAMI DAN TIDAK DI SANGKA SANGKA TERNYATA BERHASIL,BAGI ANDA YANG INGIN DIBANTU SAMA SEPERTI KAMI SILAHKAN HUBUNGI NO HP EYANG WORO MANGGOLO (0823-3744-3355) JANGAN ANDA RAGU ANGKA RITUAL EYANG WORO MANGGOLO SELALU TEPAT DAN TERBUKTI INI BUKAN REKAYASA SAYA SUDAH MEMBUKTIKAN NYA TERIMAH KASIH
      NO HP EYANG WORO MANGGOLO (0823-3744-3355)
      BUTUH ANGKA GHOIB HASIL RTUAL EYANG WORO MANGGOLO

      >>>>> KLIK DISINI <<<<<

      angka;GHOIB: singapura

      angka;GHOIB: hongkong

      angka;GHOIB; malaysia

      angka;GHOIB; toto magnum

      angka”GHOIB; laos…

      angka”GHOIB; macau

      angka”GHOIB; sidney

      angka”GHOIB: vietnam

      angka”GHOIB: korea

      angka”GHOIB: brunei

      angka”GHOIB: china

      angka”GHOIB: thailand

      ANGKA TOGEL JITU 2D 3D 4D 5D 6D
      0823-3744-3355
      saya pak alresky posisi sekarang di malaysia
      bekerja sebagai BURU BANGUNAN gaji tidak seberapa




































































































      ASS..WR.WB.SAYA pak alresky TKI BRUNAY DARUSALAM INGIN BERTERIMA KASIH BANYAK KEPADA EYANG WORO MANGGOLO,YANG SUDAH MEMBANTU ORANG TUA SAYA KARNA SELAMA INI ORANG TUA SAYA SEDANG TERLILIT HUTANG YANG BANYAK,BERKAT BANTUAN AKI SEKARAN ORANG TUA SAYA SUDAH BISA MELUNASI SEMUA HUTAN2NYA,DAN SAWAH YANG DULUNYA SEMPAT DI GADAIKAN SEKARAN ALHAMDULILLAH SUDAH BISA DI TEBUS KEMBALI,ITU SEMUA ATAS BANTUAN EYANG WORO MANGGOLO MEMBERIKAN ANGKA RITUALNYA KEPADA KAMI DAN TIDAK DI SANGKA SANGKA TERNYATA BERHASIL,BAGI ANDA YANG INGIN DIBANTU SAMA SEPERTI KAMI SILAHKAN HUBUNGI NO HP EYANG WORO MANGGOLO (0823-3744-3355) JANGAN ANDA RAGU ANGKA RITUAL EYANG WORO MANGGOLO SELALU TEPAT DAN TERBUKTI INI BUKAN REKAYASA SAYA SUDAH MEMBUKTIKAN NYA TERIMAH KASIH
      NO HP EYANG WORO MANGGOLO (0823-3744-3355)
      BUTUH ANGKA GHOIB HASIL RTUAL EYANG WORO MANGGOLO

      >>>>> KLIK DISINI <<<<<

      angka;GHOIB: singapura

      angka;GHOIB: hongkong

      angka;GHOIB; malaysia

      angka;GHOIB; toto magnum

      angka”GHOIB; laos…

      angka”GHOIB; macau

      angka”GHOIB; sidney

      angka”GHOIB: vietnam

      angka”GHOIB: korea

      angka”GHOIB: brunei

      angka”GHOIB: china

      angka”GHOIB: thailand

      ANGKA TOGEL JITU 2D 3D 4D 5D 6D
      0823-3744-3355
      saya pak alresky posisi sekarang di malaysia
      bekerja sebagai BURU BANGUNAN gaji tidak seberapa




































































































      BalasHapus

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: RAHMAH KEBERAGAMAN AGAMA# Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top