728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Jumat, 09 Juni 2017

    Kelas Pemikiran Gus Dur, Penawar Racun Intoleransi


    oleh : Ayuria Andini
             
    Kelas Pemikiran Gus Dur atau KPG adalah kelas pemahaman yang diadakan oleh Gusdurian. Gusdurian merupakan sebutan untuk para murid, pengagum, dan penerus pemikiran serta perjuangan Gus Dur (panggilan akrab Abdurrahman Wahid) yang bergerak di ranah kultural dan non politik praktis (Wikipedia). Gusdurian dan KPG membuka pintu untuk  siapa saja kaum muda yang tidak hanya tertarik terhadap pemikiran-pemikiran Gus Dur tetapi juga turut memiliki cita-cita luhur serupa Gus Dur untuk dilestarikan dan terus ditebarkan benihnya.

    Kelas Pemikiran Gus Dur 2 Malang dilaksanakan tanggal 22-23 April 2017, Saya adalah salah satu peserta disana. Bersama 20 peserta lain yang datang dari berbagai latar belakang. Kompleks GKJW Sukun tempat kegiatan dilakukan saat itu, menjelma bak blender yang siap menyatukan beragam rempah-rempah. Tidak saya pungkiri, saat itu saya sedikit terkesima dengan 3 orang sesama peserta perempuan yang berhijab, bahkan 2 di antaranya adalah santriwati di sebuah pondok pesantren di Malang, tidak canggung ketika kelas selama 3 hari harus dilaksanakan di sebuah kompleks gereja. Hal ini tentu saja mematahkan prasangka tidak adil saya bahwa mereka yang sangat Islami biasanya akan bersikap anti menginjak rumah ibadah agama lain.

    Ke-anti-an menginjak rumah ibadah orang lain tak serta merta hadir dalam pikiran saya. Pengalaman beragama dari lingkungan semasa kuliah terus menerus mendoktrin bahwa sebagai Muslim, kita pantang masuk Gereja, masuk Pura, masuk Vihara, dan seterusnya. Bahkan seorang guru agama yang saya kenal, secara ekstrim mengatakan bahwa Muslim yang masuk rumah ibadah agama lain maka hilanglah agama dari dirinya, ia telah keluar dari ‘belenggu’ agama, atau dengan kata lain ia telah murtad. 2 santriwati itu menurut saya, ia telah selesai dengan imannya yang teguh, berkunjung ke rumah agama lain tak akan mengurangi kuasa Tuhannya dan tidak sedikitpun mencederai agamanya.

    Ketakutan akan kemurtadan akibat memasuki tempat tertentu bagi sebagian orang adalah nyata adanya. Seperti halnya menolak masuk tempat tertentu, ketakutan-ketakutan dalam beragama juga nampak dalam perilaku menolak etnis dan atau agama tertentu. Sebut saja perkara hiruk pikuk pilkada Jakarta beberapa saat yang lalu, ketakutan beberapa kelompok tertentu disebarluaskan melalui poster, spanduk, media sosial bahkan hate speech berkedok diskusi. Banyak masjid yang dengan sadar membentangkan spanduk berisi penolakan untuk mensholatkan jenazah yang semasa hidupnya memilih calon gubernur beda agama. Ketakutan tidak berdasar itu ibarat gulita yang menelan cahaya dari mata, walau hanya gelap dan tidak ada musuh yang sembunyi atau ular yang mengancam, ketakutan itu tetap menjadi-jadi.

    Ketakutan dan bukannya keyakinan dalam memeluk agama akan menuntun kita pada hal-hal gelap, menolak mensholatkan jenazah sesama Muslim tentu bukan keputusan yang bijak. Walau butuh waktu panjang untuk mengedit font di spanduk, mencetak, dan memakunya di pintu gerbang, ketakutan itu tetap tidak hilang. Ia lahir di alam bawah sadar dan menjelma kesadaran sesadar-sadarnya. Padahal, mensholatkan jenazah adalah kewajiban kifayah bagi Muslim di sekitarnya sedang jenazah tidak ditimpahi kewajiban apapun karena ia telah tunai kepada dunia. Maka siapa sebetulnya yang merugi?

    Sama halnya ketika beberapa orang menolak etnis tertentu, ‘kegelapan’ yang menyerang membuat segelintir manusia menolak manusia lain. Meski dalam apa yang ia yakini pula, manusia lain itu adalah ciptaan Tuhannya. Bagaimana mungkin orang mengakui ke-Maha-Pencipta-an Tuhan tetapi angkuh menolak hasil ciptaanNya? Perbedaan etnis adalah bukti otentik bahwa Tuhan kita memang Maha Pencipta, jika Tuhan menciptakan keberagaman, mengapa kita kukuh ingin menyeragamkan? Keberagaman etnis juga patutnya diakui sebagai wujud eksistensi Nabi Adam dan Hawa, sebab telah lebih dulu meyakini mereka sebagai manusia-manusia pertama di muka bumi, bukan yang lain.

    Di tengah isu intoleransi yang menjadi headline di banyak berita dan artikel serta wajah intoleransi yang kini dikhawatirkan bakal menjadi identitas berkehidupan bangsa, Kelas Pemikiran Gus Dur adalah salah satu penawar yang boleh ditawarkan. Kita patut mengakui bahwa kehadiran kaum moderat sangat dibutuhkan dimanapun. Mereka bisa menjadi oase kala kita dikelilingi oleh tandus toleransi. Orang-orang moderat harus mampu mencontohkan kedamaian dan mengenalkannya kepada yang lain, seperti Gus Dur. Ia telah meruntuhkan tembok ‘kewajaran’ sebagai bangunan sosial yang dari waktu ke waktu menganggap bahwa bersikap toleran kepada yang lain adalah sebuah wujud ketidaknormalan.

    Pluralisme yang almarhum Gus Dur gemakan menampakkan pemikirannya yang terang. Ia memeluk agamanya dengan keyakinan---dan bukan ketakutan, ia tidak meninggalkan visi ideal agama itu sendiri, bahwa agama harusnya membawa serta kedamaian. Visi ideal agama itu pula, yang harusnya terlihat dari cara seseorang mempraktikkan agamanya. Cahaya terang yang senantiasa dibawa dalam setiap pemikirannya, melahirkan nilai-nilai luhur yang seimbang, memihak segala pihak. 9 nilai Gus Dur berupa nilai ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, kesederhanaan, persaudaraan, keksatriaan, dan kearifan lokal diharapkan bisa diteruskan oleh kaum muda. KPG, diharapkan bisa menjadi salah satu jenis penawar, bekerjasama dengan berbagai penawar lain untuk menghilangkan racun yang mencoba menggerogoti toleransi. Sebab meminjam kata-kata Gus Dur “agama jangan jauh dari kemanusiaan”. Pasca KPG peserta harus siap dan rela memasang badan, memulai dan berkomitmen menjadi agen pemikiran Gus Dur, agar kedamaian dan kebhinekaan di Indonesia benar-benar bisa dirasakan anak cucu, tidak terwaris hanya sebagai dongeng pengantar tidur.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Kelas Pemikiran Gus Dur, Penawar Racun Intoleransi Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top