728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Selasa, 08 Agustus 2017

    Dari Desa Kami Bersuara Kebhinnekaan Dan Ke-Indonesiaan

    Oleh : Mahala Sari

      Gerakan Pemuda Gusdurian (Garuda) Malang telah mengerahkan para penggerak gusdurian malang untuk terlibat langsung dalam pelaksanaan Harlah Gus Dur ke 77 pada hari minggu (06/17) pukul 18.00 WIB yang bertempat di Balai Desa Sukolilo, Keamatan Jabung. Kegiatan harlah tidak hanya melibatkan para penggerak gusdurian, akan tetapi juga melibatkan warga sekitar jabung, beberapa tokoh lintas iman, dan beberapa komunitas.
      Kegiatan yang bertema ‘Dari Desa Kami Bersuara Ke-Bhinnekaan dan Ke-Indonesiaan” ini, tidak hanya diisi dengan orasi kebangsaan dan budaya, tetapi juga berbagai macam penampilan seperti pembacaan puisi, Musik Kerinding dan Tari Sufi, Tari Egrang dari Komunitas Anak Alam, dan juga Tari Topeng.
      “Saya jadi ingat Gus Dur. Adanya beliau, mematikan sekat-sekat kebencian, sekat-sekat perbedaan. Dan tiadanya beliau menghidupkan persaudaraan, menghidupkan kerukunan kita. Semoga apa yang menjadi cita-cita Gus Dur, semua ada di diri kita masing-masing,” kata Icroel selaku perwakilan warga Jabung.
      Icreol menjelaskan, bahwa Indonesia mempunyai tradisi dan kebudayaan yang bermacam-macam. Dengan memperingati harlah Gus Dur, dapat berkumpul bersama, berasal dari berbagai macam daerah, suku, lintas iman dan agama. Semuanya adalah dalam rangka kemanusiaan, dan itu yang menjadi cita-cita Gus Dur.
     Seleras dengan pernyataan Icoel, Ilmi Najib, selaku koordinator penggerak Garuda Malang menjelaskan, merawat tradisi sangat penting dilakukan. Mengingat keberagaman yang ada di Indonesia yang semuanya termanifestasi dalam semboyang Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu. “Haul Gus Dur diselenggarakan di Desa Jabung. Merayakan kebhinnekaan di Desa Jabung. Dari desa, mari kita kobarkan semangat kebhinnekaan,” paparnya.
      Selebihnya, Bunsu Anton, sebagai perwakilan tokoh Konghucu menuturkan, sebagai warga bangsa harus memiliki sikap sesadar-sadarnya bahwa kita merupakan bangsa yang bhinneka. Harus berani bekerja keras memperjuangkan bangsa Indonesia. Dalam artian, kerja keras sama dengan melaksanakan kesucian itu sendiri.
     “Kemerdekaan itu harus kita pertahankan sepanjang zaman,” tandasnya.
      Pelaksanaan kegiatan Harlah Gus Dur, juga diisi dengan Tahlil yang dipimpin oleh Gus Azam, yang kemudian dilanjutkan dengan orasi kebangsaan. Sebagai perwakilan tokoh muslim, Ketua GP Ansor Kecamatan Jabung ini menuturkan tentang konsep kata ‘rohmah’ dalam lafadz ‘basmalah’ yang berarti adalah ‘kewelasan’, belas kasih atau rahmat Tuhan kepada manusia. Baik itu muslim atau non-muslim.
      “Karena rahmat Tuhan lah, kita semua bisa duduk bebarengan. Ora sikut-sikutan, ora jotos-jotosan. Meski kita berbeda suku, berbeda agama,” katanya.
    Gus azam menuturkan, manusia diciptakan dengan berbagai macam suku dan budaya tidak lain adalah untuk saling mengenal satu sama lain. Walaupun berbeda-beda tetap satu. Karena manusia itu berasal dari kata ‘al-insan’ yang bermakna harmoni. Bagaimana manusia bisa mewujudkan Indonesia, sebuah ekosistem, dan sebuah sistem yang harmoni. Rukun antara yang satu dengan yang lainnya.
      “Tetap satu, tetap rukun, ndak usah sikut-sikutan, ndak usah jotos-jotosan. Rukun, lungguh bareng, ngopi bareng, rokok-an bareng,” imbuhnya.
      Sebagai manusia yang hidup dalam keberagaman, ada banyak pilihan yang bisa diambil, dan peluang yang bisa digunakan. Namun semuanya tetap memiliki jiwa dan jalan hidup yang sama. Menghayati kehidupan dengan cara yang sama.
      “Ada banyak pilihan yang bisa diambil. Ada banyak peluang yang bisa digunakan. Tapi jiwanya tetap maju, untuk manusia yang bermartabat,” tutur Pendeta Kristanto Budi Prabowo.
    Lebih lanjut, dalam orasi budaya yang disampaikan oleh Bondhan Rio, selaku tokoh budayawan menyatakan, tidak ada seorang pun yang ber-Tuhan, tapi tidak pernah beriman. Artinya, bahwa seseorang tidak boleh memberikan perspektif negatif kepada yang lain karena tidak teridentifikasi, dan menyimpulkan bahwa mereka-mereka tidak ber-Tuhan.
      “Semuanya sudah sepakat bahwa kita ini adalah bhinneka tunggal ika. Lek misalkan saiki ki jek onok seng geger perkoro agomo, yo berarti uripe salah jalan. Artinya, jika tahun sekarang sudah selesai perdebatan tentang persoalan agama,” imbuh Bondhan Rio.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Dari Desa Kami Bersuara Kebhinnekaan Dan Ke-Indonesiaan Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top