728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Minggu, 27 Agustus 2017

    KAITAN TERORISME DAN PENDANGKALAN PEMAHAMAN AGAMA ERA MILLENIAL

    Oleh: Uswatun Khasanah

    Dewasa ini, semangat memperdalam agama sangat gencar melanda penduduk Indonesia, utamanya para generasi muda. Hal demikian tentunya bernada positif, mengingat ajaran agama adalah ajaran kebaikan dan perdamaian. Mendalami agama sama artinya dengan usaha memperbaiki akhlaq dan moral.

    Sebagaimana Bung Hatta dalam otobiografinya menyebutkan bahwa, “Ruh dalam ajaran agama Islam adalah damai”. Begitu pula Gus Dur dengan konsep memanusiakan manusianya. Kemanusiaan dan perdamaian menjadi titik utama dalam memandang segala hal. Dalam Islam kita mengenalnya sebagai Hablum minan naas, tentu saja tanpa mengesampingkan hablum minallah.
    Hanya saja, tidak semua orang dapat mengartikan Islam dengan cara demikian. Ayat al Quran yang berbunyi,

    --ياايهاالذين امنوا ادخلوافى السلم كافة—Al Baqarah 208.

    Dianggap sebagai legalitas bagi mereka untuk menjadikan Islam Indonesia sebagai Islam Arab. Merubah Saya menjadi Ana, Kamu menjadi Anta, dan menghilangkan kultur yang telah lama membudidaya di Indonesia dengan dalih kullu bid`atin dholalatin.

    Sayangnya, mereka yang mudah sekali membid`ahkan dan mengafirkan orang lain adalah mereka yang baru saja belajar mengenal Islam, antara lain dari buku bacaan, youtube, artikel di Internet, dan halaqoh-halaqoh kecil ala kampus negeri.

    Dangkalnya pemahaman dan pengetahuan terkait Islam itu sendiri akhirnya menuntun pada persepsi yang salah dalam pemaknaan Islam sebagai sebuah agama yang rahmatan lil `alamiin. Islam diartikan terlalu kontekstual dan juga formal. Islam tidak dikaji secara konteksnya tetapi hanya teksnya saja sehingga kandungan dari Islam itu menjadi terlupakan.

    Gus Dur seringkali menegaskan konsep kulturalisasi Islam di Indonesia dan bukan formalisasi Islam dengan nama khilafah, NKRI bersyari`at atau apalah itu.

    A.M. Safwan dari Yayasan Rausyan Fikr pernah menuturkan, bahwa agama Islam (Islam) dan orang beragama Islam (Muslim) adalah dua hal yang berbeda. Islam sebagai agama tentu saja akan selalu baik dan benar. Tetapi seorang muslim, tidak sepatutnya menilai segala hal dari segi ketuhanan, sehingga dia akan menilai segala hal yang berbeda dengan pandangannya sebagai sesuatu yang salah dan harus disingkirkan.

    Lebih buruknya, pendangkalan pemahaman terhadap Islam terkadang dapat membimbing seseorang pada alur berpikir yang keliru dengan sesuatu yang dianggap memiliki kebenaran mutlak. Salah satunya adalah gerakan terorisme.

    Para teroris tentu saja tidak ingin membuat kerusakan di muka bumi mengingat ada ayat Alquran yang menyatakan –Dan janganlah engkau membuat kerusakan di muka bumi setelah Kami memperbaikinya-, akan tetapi akibat dari pendangkalan agama, dengan anggapan bahwa mereka tengah melakukan jihad fi sabilillah dan iming-iming mati syahid dengan jaminan surga, mereka justru merelakan diri untuk melakukan aksi seperti bom bunuh diri dlsb.

    Hal tersebut sangatlah disayangkan. Selain dapat merusak citra Islam, juga kasihan bagi mereka yang menjadi korban pendangkalan pemahaman agama (para teroris) dan juga korban bom bunuh dirinya.

    Adalah pesantren sangat tepat menjadi solusi bagi mereka yang hendak memperdalam ilmu agama. Karena pendidikan pesantren tidak akan pernah mengajarkan seseorang untuk menjadi teroris dan merasa paling benar sendiri.

    Selain itu, beberapa dari mereka yang memiliki laqob santri saat ini juga tengah gencar melawan gerakan radikalis dengan menyebarkan konten positif melalui media sosial. Salah satunya adalah mereka yang terkumpul dalam Arus Informasi Santri (AIS) Nusantara.

    Penyebaran konten positif dan dakwah melalui media sosial diharapkan akan efektif untuk melakukan counter narasi dan juga penyeimbang bagi konten-konten radikal dari minhum, mengingat banyaknya pemuda yang saat ini gemar sekali berselancar di dunia maya.

    Lebih dari itu, Pemerintah nampaknya juga telah melakukan antisipasi terhadap gerakan-gerakan radikal yang berpotensi membahayakan NKRI. Lebih jauh, adanya perhatian lebih terhadap gerakan terorisme dan Islam radikalis dari berbagai pihak diharapkan dapat membuahkan hasil yang manis, yakni: Indonesia yang damai dan kuat dengan persatuan antar seluruh elemen bangsanya.




    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: KAITAN TERORISME DAN PENDANGKALAN PEMAHAMAN AGAMA ERA MILLENIAL Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Malang
    Scroll to Top