728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Selasa, 17 Oktober 2017

    Masihkah Kurikulum di butuhkan ?


    Oleh : Uswatun Khasanah (Penggerak Gusdurian)


    Pendidikan adalah salah satu usaha mencerdaskan kehidupan Bangsa. Melalui Bangsa yang cerdas, suatu negara dapat berdiri kokoh dan terus melakukan pembangunan seiring dengan perkembangan jaman. Berharap dengan sumber daya yang berkualitas, Bangsa Indonesia dapat turut serta berkiprah dalam menjawab tantangan arus globalisasi tanpa harus tertinggal.
    Banyak pendapat dikemukakan, bahwasannya untuk dapat bersaing di dunia global, individu berkompetensi tinggi, baik di ranah akademik (knowledge) maupun afektif (attitude), mutlak diperlukan. Kampanya Abad 21 juga menekankan perlunya siswa, sebagai seorang individu, dibentuk menjadi pembelajar seumur hidup yang mampu berkomunikasi dan bekerja dalam tim dengan baik, melek teknologi, dan juga memiliki spiritualitas yang tinggi.
    Dengan latar belakang itulah, upaya peningkatan kualitas pendidikan terus dilakukan. Salah satunya melalui perombakan dan perbaikan kurikulum. Dalam prosesnya, kurikulum telah mengalami perubahan beberapa kali.
    Mulai dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang menekankan adanya otonomi sekolah sesuai dengan kearifan lokal lingkungan sekitar, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), serta Kurikulum 2013 yang mengedepankan pendidikan karakter dan pembelajaran tematiknya.
    Pada gilirannya, kita seringkali menemui setiap kali terdapat perubahan menteri pendidikan, maka di situ pula kurikulum akan mengalami perubahan. Tentu saja perombakan kurikulum pendidikan adalah suatu hal yang mulia mengingat tujuannya yang agung, untuk menjembatani putera puteri bangsa menjadi generasi yang cerdas cendekia.
    Terlebih didukung adanya berbagai alasan, baik dari guru yang tidak siap karena gurunya sendiri belum pernah mengalami kurikulum demikian sehingga harus belajar ulang, fasilitas yang tidak memadai di beberapa daerah, Sumber Daya yang belum siap menerima, dan banyak lagi alasan lainnya.
    Pada tataran ini, pertanyaan akan perlu atau tidaknya kurikulum menjadi penting untuk ditanggapi. Kurikulum yang tidak konsisten apakah benar-benar dapat membantu civitas akademik untuk mewujudkan salah satu cita-cita yang tertuang dalam pembukan UUD 1945? Sistem sekolah yang selama ini kita kenal, apakah sudah efektif dalam mengembangkan kreativitas dan kompetensi anak didik?
    Menanggapi pertanyaan-pertanyaan semacam itu, Kampus Desa yang digawangi oleh salah satu Dosen Psikologi UIN Maliki Malang, Mahpur dkk, menyelenggarakan sebuah dialog bertajuk Jagongan Para Pakar yang dihadiri oleh berbagai praktisi dan pengamat pendidikan dari berbagai bidang keilmuan. Kegiatan yang menitikberatkan kurikulum sebagai bahasan tersebut bertempat di Sekolah Garasi, Turen, Malang (8/10).
    “Kurikulum seharusnya menggunakan literasi holistik yang memberdayakan guru dan siswa secara bebas merdeka. Akan tetapi faktanya, pendidikan sekolah kita saat ini justru mereduksi hakikat individual manusia yang unik, dengan menyeragamkan bakat yang dianggap unggul untuk dikembangkan“ papar Dr. Anselmus Tonloe, Dosen Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Malang.
    Pak Tonloe, begitu ia biasa disapa, sangat menyayangkan adanya penyeragaman kompetensi-kompetensi tertentu yang dianggap unggul dengan mengesampingkan kompetensi lainnya yang kurang berbau akademis seperti keterampilan berseni tari ataupun musik.
    Kemampuan peserta didik seringkali diukur hanya dengan kepandaiannya di bidang Sains ataupun bahasa. Hal tersebut dapat kita lihat dari pelaksanaan Ujian Nasional yang hanya mengampu beberapa mata pelajaran saja. Kendati Unas bukan satu-satunya penentu kelulusan, nyatanya Unas masih sangat mendominasi dalam penentuan kriteria pandai atau tidaknya seorang peserta didik..
    Padahal, tidak semua anak menguasai Matematika, IPA, ataupun IPS. Seorang anak penyandang Dyselexia misalnya, dalam pelajaran berhitung tentu saja akan sangat kurang, tetapi kemampuan menggambarnya sangat dapat diperhitungkan. Inilah yang disebut pak Tonloe sebagai unik, bahwa setiap individu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, yang di dalam kurikulum mencoba diseragamkan menjadi satu patokan.
    Di sinilah kurikulum dirasa kurang dapat menghargai keberagaman dan mengembangkan potensi yang dimiliki oleh setiap peserta didik yang pada hakikatnya berbeda.
    Lebih lanjut, Eyang Wiwik, founder Sanggar Cendekia, juga menegaskan hal serupa, bahwa anak sejatinya sudah pandai sejak lahir. Dengan kepandaiannya, maka tidak tepat jika guru atau peserta didik diseragamkan sedemikian rupa melalui sebuah sistem yang kaku dan mengungkung.
    “Akan tetapi, bagaimanapun kurikulum memang dibutuhkan, tetapi sebagai tolak ukur saja. Kurikulum tidak seharusnya membatasi kreativitas guru dalam mengajar dan peserta didik dalam belajar.“ Imbuh Eyang Wiwik menanggapi perlu atau tidaknya kurikulum dalam sebuah praktik pendidikan.
    Lebih jauh, perlu atau tidaknya kurikulum dalam sistem pendidikan tentunya bergantung dari kacamata mana kita melihat. Kiranya kurang pantas, jika kita melihat suatu hal dengan kebenaran monolitik tanpa memperhatikan aspek-aspek lain yang juga berjibaku di dalam hal tersebut. 
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 komentar:

    1. TERIMA KASIH MBAH BUDI HARTONO DULUNYA KAMI SANGAT MENDERITA 2 TAHUN YANG LALU KERJAAN HANYA CUMA TUKAN BECAK PENDAPATAN CUMA 35 RIBU PERHARI SEDANKAN SEWAH KONTRAKAN RUMAH 450 RIBU PERBULAN TAPI SETELAH KAMI DAPAT NOMOR MBAH DI INTERNET LEWAT MEMBER YANG SUDAH BERHASIL KAMI COBA2 HUBUNGI LALU MINTA BANTUAN ANGKA JITU DAN ALHAMDULILLAH ANGKA YANG DIBERIKAN MBAH BUDI HARTONO 4D PUTARAN SGP BENAR2 TERBUKTI TEMBUS SEKALI LAGI TERMA KASIH MBAH BUDI HARTONO SEKARANG KAMI SUDAH BUKA USAHA KECIL2LAN ITU SEMUA BERKAT BANTUAN ANGKA JITU MBAH BUDI HARTONO BAGI ANDA YANG INGIN SEPERTI KAMI LANSUNG HUBUNGI MBAH BUDI HARTONO DI NOMOR [~085~256~077~899~] TERIMA KASIH INI KISAH NYATA DARI SAYA TAMPA REKAYASA SUPAYA LEBIH DI MENGERTI SILAHKAN BUKA SITUS MBAH

      KLIK DISINI RAMALAN DUKUN TOGEL GAIB

      BalasHapus

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Masihkah Kurikulum di butuhkan ? Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Gerakan Gusdurian Muda GUSDURian Malang
    Scroll to Top