728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Selasa, 17 Oktober 2017

    Membangun Gerakan Indonesia Jujur melalui Sekolah Garasi


    Oleh: Mahalasari (Penggerak Gusdurian)

    Pendidikan menjadi isu yang semakin krusial akhir-akhir ini setelah isu-isu tentang provokasi agama. Seolah agama dan pendidikan menempati posisi yang cukup strategis yang bisa digunakan sebagai alat oleh beberapa orang yang berkepentingan di dalamnya. Hal ini berdampak kurang baik dalam tatanan nilai kemanusiaan negara kita yang berasaskan pancasila sebagai dasar negara. Sehingga, akan berpengaruh juga terhadap persaingan dalam peningkatan taraf hidup masyarakat Indonesia.
    Selaras dengan peningkatan taraf hidup masyarakatnya, maka partisipasi masyarakat dengan adanya pendidikan juga semakin meningkat. Para orangtua mulai banyak yang memperhatikan kualitas pendidikan anaknya baik pendidikan formal, informal maupun pendidikan non-formal. Perubahan ini mengakomodasi untuk semakin maraknya lembaga pendidikan yang didirikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
    Lembaga pendidikan yang mengalami banyak peminat di antaranya lembaga pendidikan sekolah yang berbasis agama. Terlebih jika ada yang menawarkan inovasi-inovasi baru yang mampu menjawab tantangan perkembangan zaman, serta mampu memberikan solusi terhadap permasalahan-permasalahan yang selama ini secara tidak sadar telah menjadi beban masyarakat kita.
    Seperti halnya lembaga-lembaga pendidikan umum lainnya, lembaga pendidikan sekolah yang berbasis agama juga harus disertai dengan manajemen organisasi yang baik. Perubahan yang dialami organisasi ditentukan oleh bagaimana kepemimpinan yang ada, dan bisa menjadi faktor utama maju mundurnya organisasi tersebut. Kegiatan manajemen pimpinan lembaga, dengan demikian perlu memiliki kejelasan arah, tujuan, dan mekanisme pencapaian sasaran yang menjamin efisiensi dan efektivitas. Sehingga dalam hal ini, Kentar Budhojo memberikan solusi atas isu-isu kontemporer pendidikan yang selama ini berkembang di masyarakat, khususnya di Desa Tanggung, Turen Malang.
    Kentar bersama beberapa tokoh yang berpikir out of the box seperti Soemarno (tokoh muda), almarhum Abah Masykur (tokoh agama), Cak Bendos (tokoh masyarakat), Cak Nurali (guru madrasah), tahun 2007 didatangi oleh beberapa orang yang meminta mendirikan Madrasah Ibtidaiyah. Kedatangan beberapa orang ini ditengarahi karena lulusan dari Raudlatul Athfal (RA) yang melanjutkan ke sekolah dasar (SD) menjadi kurang intens pembelajaran agamanya. Dengan demikian, perlu adanya Madrasah Ibtidaiyah yang dibangun di desa ini untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat.
    Sebelum memulai pembangunan, Kentar bersama kelompok pertemanannya yang terdiri dari beberapa tokoh tersebut, melakukan studi banding ke beberapa sekolah yang best practice seperti ‘Naff School’ yang merupakan sekolah percontohan nasional yang nyleneh di Sidoarjo. Dikatakan nyleneh, karena sekolah ini memiliki Konsep Pendidikan Modern Berbasis Student Center. Studi banding dilakukan dengan harapan tahun 2008 sekolah telah siap. Selain itu, tujuan dari studi banding tersebut tidak lain karena keinginan Kentar membangun sekolah yang terbaik untuk anak-anak.
    Hasil dari beberapa penelusuran oleh Kentar dan kelompok pertemanannya pada madrasah-madrasah yang ada, ditemukan beberapa kelemahan yang ada pada madrasah-madrasah tersebut yaitu 1) Gebyah uyah, artinya bahwa kecepatan anak dalam belajar tidak bisa disamakan, karena pada dasarnya setiap anak memiliki kemampuan dalam bidangnya masing-masing. 2) Alokasi waktu, maksudnya di sini berkaitan dengan jam pembelajaran yang seharusnya madrasah memang memiliki pelajaran sekitar 180% dari sekolah.
    Permasalahan selanjutnya yaitu, 3) Mencabut anak dari akar budayanya, yaitu permasalahan pendidikan yang berkaitan dengan penanaman nilai berbudaya. 4) Penuh dusta, dalam artian sekolah seringkali kurang menanamkan sifat kejujuran, terlebih dalam pemberian nilai. Nilai-nilai selalu disulap sedemikian rupa demi nama sekolah, sehingga nilai tidak apa adanya. 5) Bosan, kebosanan dalam sistem pengajaran tidak hanya dirasakan oleh para peserta didik saja, bahkan para pendidik pun merasa kurang semangat dalam proses pembelajaran di dalam kelas ketika jam telah menunjukkan pukul 10.00 ke atas.
    Penemuan permasalahan lain di antaranya, 6) Gak kompak, maksudnya dalam hal ini yaitu kurang adanya keharmonisan yang terjadi dalam lembaga pendidikan. Ketidak kompakan tidak hanya terjadi antar siswa, tetapi juga antar kelompok-kelompok guru yang kurang akur dan tidak harmonis. 7) Just do it, artinya para guru kebanyakan hanya mendidik secara akal saja yaitu mengenai mata pelajaran yang diampunya, sehingga mereka melupakan bahwa mendidik hati anak merupakan hal yang sangat penting.
    Permasalahan lain yaitu, 8) Semakin banyaknya kenalan remaja, biasanya dilakukan mereka yang menempati bangku kelas 5-6 SD/MI serta SMP dan SMA. Kemudian yang terakhir yaitu permasalahan yang lumayan pelik, 9) Pendidikan dan pengasuhan orangtua, kurang adanya kerjasama yang intens antara pihak sekolah dan orangtua siswa, sehingga apa yang diajarkan di sekolah, menjadi tanggungjawab orangtua ketika mereka di rumah.
    Berdasarkan beberapa permasalahan yang telah ditemukan di atas, maka Kentar berusaha membangun sekolah barunya dengan tidak mengulangi dosa lama. Dengan pengalaman pendidikannya yang hampir 20 tahun, serta pengalaman dalam mengelola dan mendidik pada jenjang SMP, SMA, MA, SMK hingga sebagai dosen, untuk itu dibangunlah Madrasah Ibtidaiyah (MI) Amanah sebagai nama generik dan menamakan  ‘Sekolah Garasi’ sebagai branch image sekolah tersebut.
    Sekolah Garasi yang digunakan sebagai branch image oleh Kentar, memiliki prinsip-prinsip yang khas sebagai berikut, yaitu a) Al-akhlaq al-karimah adalah prioritas utama, b) Tidak berorientasi waktu (timeless oriented), c) Asahlah pisau pada sisi yang tajamnya, d) We are the one, e) Full day School, f) Madrasah inklusif, sekolah untuk semua, g) Sekolah ramah anak, h)  Penerapan prinsip pendidikan Islam secara istiqomah, yaitu tarbiyatu bil qudwah (suri teladan), ‘aadah (pembiasaan), mau’idah hasanah (nasihat yang lembut), mulaahadhah (pengawasan), dan ‘uquubah (sanksi).
    Prinsip selanjutnya yaitu, i) Belajar olah pikir didasari olah hati, j) Belajar itu bisa kapan saja, di mana saja, dengan siapa saja dan tentang apa saja, belajar menuntut ilmu itu dari buaian sampai liang lahat, k) Belajar dan mendidik itu tidak bisa dipaksa, harus dimulai dari hati, dilakukan sepenuh hati, dan secara hati-hati, tanpa melukai hati, l) Belajar itu dimulai dari kecerdasan merasa dan berpikir tentang ayat-ayat Allah baik yang tertera dalam al-Qur’an maupun yang tergelar di alam raya, yang menunjukkan hukum-hukum Allah yang menjadi sumber kebenaran di buki dan semesta alam, m) Guru jangan pakai kacamata kuda. Brlajar itu harus kreatif dan inovatif, n) Belajar dan mendidik adalah ibadah, o) Terakhir dan terpenting, tujuan belajar adalah menjadi muslim yang terbaik.
    Sekolah Garasi sangat menekankan pendidikan karakter. Kentar yang merupakan dosen Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) menjelaskan bahwa sekolah yang dirintis mempunyai ciri khas yang berbeda dari sekolah pada umumnya. Sekolah yang dirintis di Jalan WR. Supratman 4 Tanggung, Turen, Malang ini menerapkan prinsip belajar sesuia dengan kemampuan anak, belajar sesuai dengan kebutuhan anak. Kentar juga selalu menganalogikan seperti halnya sebuah pisau. “Mengasah pisau di sisi yang mana? Apakah sisi yang tumpul, tajam, atau ganggangnya,” tuturnya.
    Jika sekolah-sekolah lain menyama-ratakan kemampuan anak sehingga menjadikan mereka kurang berkembang, berbeda dengan Sekolah Garasi. Kentar bersama para pengelola MI Amanah dan Diniyah Amanah Sekolah Garasi berusaha memfasilitasi agar anak tetap berkembang, bukan membiarkan anak. Sehingga tim Sekolah Garasi berusaha membantu sesuai dengan kemampuan anak. Misal jika anak tidak bisa matematika, maka tidak akan dipaksa harus bisa matematika.
    Setiap anak memiliki kemampuan unggul dalam bidangnya masing-masing, maka Sekolah Garasi (Segar) melihat bahwa tidak ada anak yang kurang pandai. Setiap anak mempunyai kesukaan masing-masing dan akan unggul dalam bidangnya masing-masing. “Pendidikan formal, tapi rasa rumah. Gurunya pun seperti orangtua sendiri,” ungkap Kentar. Bahkan tidak jarang beberapa siswa enggan pulang ketika orangtuanya datang menjemput, hal ini disebabkan eratnya rasa kekeluargaan yang tertanam di Sekolah Garasi.


    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 komentar:

    1. TERIMA KASIH MBAH BUDI HARTONO DULUNYA KAMI SANGAT MENDERITA 2 TAHUN YANG LALU KERJAAN HANYA CUMA TUKAN BECAK PENDAPATAN CUMA 35 RIBU PERHARI SEDANKAN SEWAH KONTRAKAN RUMAH 450 RIBU PERBULAN TAPI SETELAH KAMI DAPAT NOMOR MBAH DI INTERNET LEWAT MEMBER YANG SUDAH BERHASIL KAMI COBA2 HUBUNGI LALU MINTA BANTUAN ANGKA JITU DAN ALHAMDULILLAH ANGKA YANG DIBERIKAN MBAH BUDI HARTONO 4D PUTARAN SGP BENAR2 TERBUKTI TEMBUS SEKALI LAGI TERMA KASIH MBAH BUDI HARTONO SEKARANG KAMI SUDAH BUKA USAHA KECIL2LAN ITU SEMUA BERKAT BANTUAN ANGKA JITU MBAH BUDI HARTONO BAGI ANDA YANG INGIN SEPERTI KAMI LANSUNG HUBUNGI MBAH BUDI HARTONO DI NOMOR [~085~256~077~899~] TERIMA KASIH INI KISAH NYATA DARI SAYA TAMPA REKAYASA SUPAYA LEBIH DI MENGERTI SILAHKAN BUKA SITUS MBAH

      KLIK DISINI RAMALAN DUKUN TOGEL GAIB

      BalasHapus

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Membangun Gerakan Indonesia Jujur melalui Sekolah Garasi Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Gerakan Gusdurian Muda GUSDURian Malang
    Scroll to Top