728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Kamis, 21 Desember 2017

    Bedah Buku "Para Pejuang Jihad" Ekstrimism Violence dan Para Perancangnya


    Oleh : Dyah Monika Sari (Penggerak Gusdurian)

       Mengapa kalangan terdidik mudah menjadi ekstrimis pro kekerasan? Pertanyaan tersebut menjadi teka-teki sekaligus pemantik keresahan bagi dunia untuk menguak jawaban beserta pernyataan yang tepat dibeberkan sebagai bentuk penyelesaian dari ekstrimisme yang semakin meningkat terjadi dari waktu ke waktu. Setelah peristiwa pembajakan pesawat yang meruntuhkan menara kembar WTC di Amerika Serikat, atau yang dikenal sebagai peristiwa “ September Kelabu” 9/11, kemudian setelah peristiwa Bom Bali pada tahun 2002, baru-baru ini, kita semua telah dikejutkan dengan kekejaman kelompok teroris yang mengatasnamakan dirinya “ Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS). Namun, siapa sih sebenarnya mereka? Mengapa mereka dengan tega menumpahkan darah kepada orang-orang yang awam dan tak bersalah? Lantas, apa yang mereka inginkan? Kekerasan hadir tak mengenal tempat. Bahkan, tempat peribadatan pun tak jarang menjadi sasaran dari keberingasan mereka. Aksi-aksi ini terentang dari Asia, Eropa, hingga Amerika. Bangunan yang luluh lantah, adanya korban berserakan, tangisan anak kecil, dan ibu-ibu yang mengalami luka parah. Lalu, apa itu ekstrimisme?
       Ekstrimisme adalah suatu paham, kecenderungan atau watak yang sangat kuat terhadap suatu pandangan; keyakinan yang melampaui batas kebiasaan, terutama dalam hal politik: misalnya ada ekstrimisme sayap kiri dan sayap kanan. Lawan dari istilah ini adalah pandangan moderat, jalan tengah. Istilah ini merujuk pada pemahaman atau keyakinan. Sehingga, seringkali kita mendengar istilah “pandangan ekstrim, keyakinan ekstrim, dan pemaham ekstrim”. Sedangkan orang atau kelompok yang memegang paham ekstrimisme dikenal dengan sebutan ekstrimis. Menyoal tentang ekstrimisme, tentu tak lepas dari dua hal, yakni radikalisme dan terorisme sebab kedua hal tersebut adalah bagian dari ekstrimisme.
       Sebuah kata benda bernama “Bom” adalah  satu dari beberapa identitas dari kekerasan ekstrimisme tersebut. Berbicara tentang bom, pasti ada dalang dibelakangnya yang merakit sampai melakonkan aksi-aksi yang berdalih “jihad”. Lalu, pantaskah kita menyebut mereka yang bergelut di bidang kimia, teknik atau ahli eksakta sebagai pelaku utamanya? Tentu hipotesis ini tak serta-merta patut di-iyakan, karena pada dasarnya Eksak merupakan sebuah ilmu yang bersifat pasti dan tegas; ada konsekuensi untuk memilih. Dalam hal ini, ada kecenderungan bagi mereka untuk fokus pada satu hal yang benar-benar telah menjadi pilihan untuk melakukannya. Riset hanyalah sarana untuk memahami sesuatu dan ia belum tentu benar selayak yang dipertanyakan. Didalam buku “Para Pejuang Jihad”, Hairus Salim memaparkan adanya pembagian disiplin ilmu yang menentukan jumlah presentase aksi ekstrimisme dalam hitungan statistik. Dari data kuantitatif tersebut, ditemukan fakta baru bahwa ternyata bukan hanya disiplin ilmu yang tergolong eksak saja yang turut berpengaruh dalam aksi ekstrimisme, tetapi juga bidang lain seperti ilmu sosial, humaniora, dan non-eksak lainnya. Hal ini dapat di tanggulangi melalui beberapa cara, salah satunya adalah dengan memperbanyak membaca karya sastra didaktik, yakni karya sastra yang membuat para pembaca tidak hanya merasakan nilai estetikanya saja, tetapi juga membuatnya merenung.
       Disudut lain, Rachmad Gustomy berpendapat bahwa ada dan melejitnya angka ekstrimisme bukanlah soal teknik, akan tetapi tentang aksi dan pemikiran dari kalangan kelas menengah, yang terdiri dari kelas Mahasiswa. Kelas menengah ini memiliki ciri bahwa seseorang atau kelompok yang terdiri dari kelas tersebut mudah terpengaruh di tengah pergerakan dunia yang berjalan dengan begitu cepat. Didalam drama ini, alur dan konflik turut dihiasi dengan pemberontakan yang didominasi oleh para Pegawai Negeri Sipil(PNS) dan menjadikan tokoh lain sebagai aktor yang selalu dinamis dengan rasa ingin tahu untuk mencapai kebenaran. Kebenaran ini kemudian dijadikan media untuk memebenarkan yang salah. Keadaan ini pada akhirnya berujung pada salah satu motif untuk berkuasa. Kita tahu, Sudah menjadi kultur bahwa kekuasaan adalah rakitan bom terampuh untuk mendominasi, sedang dominasi sendiri adalah sebuah seni. Seni tersebut meliputi seni untuk beragama. Jika ada suatu gerakan ekstrimisme yang salah, berarti ada rasa dan konsep dalam menyeni yang salah. Cobalah kita menilik sejenak kondisi realitas yang ada, betapa maraknya kasus “kafir dan mengkafirkan” yang terjadi. Kondisi tersebut pada akhirnya menumbuhkan embrio kejihadan dengan plasenta kekerasan. Jika sudah begitu, paham-paham yang dilahirkan akan dengan mudah pula di telan oleh kalangan menengah, umumnya para mahasiswa, dengan paradigma dan pemikirannya masing-masing. Selanjutnya, menetaslah istilah baru yang bernama Radikalisme.
       Di sesi akhir, Hairus Salim mengatakan bahwa ekstrimisme dan apa yang diinginkan dari gerakan tersebut tidak akan pernah berhasil, baik dari sayap kiri maupun sayap kanan, tetapi keberadaanya sangat berpengaruh dalam mengubah bandul dunia. Ekstrimisme terjadi karena Deprivasi relatif, yakni harapan besar yang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada, adanya ambisi untuk memimpikan orang yang menjanjikan sesuatu yang gampang-gampang saja, serta adanya islamisasi pengetahuan yang sesungguhnya mencerminkan penistaan agama itu sendiri. Sebagai penanganan dalam kondisi demikian, maka diperlukan sebuah penetrasi dan pemikiran yang mendalam agar ekstrimisme dan paradigma yang bertentangan semakin menyeruak dan masuk dalam jiwa-jiwa kaum jihadis. 
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Bedah Buku "Para Pejuang Jihad" Ekstrimism Violence dan Para Perancangnya Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Gerakan Gusdurian Muda GUSDURian Malang
    Scroll to Top