728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Sabtu, 30 Desember 2017

    Bertemu Penggerak Garuda: Fauzan Lebih Memilih Jalan Guyon Seperti Gus Dur


    Oleh: Bakhru Tohir (Penggerak Garuda Malang)

    Rindu-rindu yang tergantung di setiap sudut Malang membuatku ingin kembali menyapa, bercanda dan bercerita. Dan rindu itu memang sengaja kugantung di salah satu warung kopi terbaik yang pernah lahir, Oase cafe and literacy, di bawah atap Oase bermukim banyak komunitas yang menebarkan kebahagiaan, salah satunya GARUDA, akronim dari Gerakan Gusdurian Muda. Aku telah intens di komunitas ini sejak 2014 saat masih dikoordinatri oleh Fauzan. Untuk kunjuganku ke Malang kali ini, aku telah bercakap-cakap cukup serus dengan beliau yang terangkum di dalam dialog di bawah ini:

    Halo Mas fauzan, Apa kabar?
    Alhamdulillah gini-gini aja.

    Hahaha, Sekarang kayak punya kegiatan baru mas dengan hape itu?
    Iya. Ini ML (mobile legend).

    Aku minta waktunnya sebentar mas, main ML-nya nanti lagi, ala-ala kita ngobrol agak serius, hehe
    Ngomongin apa ru?

    Gimana kalo kita ngomongin tradisi Bully yang mulai jadi virus mas, sampai kita jarang sadar sedang melakukan bully ke orang?
    Hahaha, gaya kamu ru, sebentar di Jogja udah kayak Najwa mau wawancara.

    Emang ini wawancara mas -_-
    Menurut Mas Fauzan, dalam tradisi komunikasi kita, bully itu penting ta mas? Apa sepenuhnya itu perbuatan yang lebih baik kita hindari?
    Kadang kala bully memang bisa membuat kita lebih akrab dengan orang lain. Komunikasi jadi cair karena menimbulkan ketawa. Tapi masalahnya, kita gak tahu batas toleransi orang lain, jangan sampai guyonan kita malah membuahkan sakit hati orang lain, bully itu sah-sah aja, tapi jangan berlebihan.

    Tapi bully yang beredar selalu mengolok-olok orang lain mas, kayak mengatai Billy dan Viky gendut, Abah Rizal lama kuliahnya, dan sampean tahu sendiri lah gimana kondisi percakapan kita
    Ya makannya itu, bisa jadi Viky dibilang gendut tapi fine-fine aja, gak bisa kita patok rata, bisa jadi Billy sakit hati kalau disebut gendut. Makannya tahu batas.

    Kalau dalam konteks Gus Dur memberi kita contoh mas?
    Wah Gus Dur keren sekali, bahkan semua orang mengenal beliau adalah orang yang humoris, tapi beliau tak pernah mengolok-olok orang lain. Gus Dur sering membuat Joke membicarakan dirinya sendiri. Gus Dur bilang “Saya dan Nuriyah ini pasangan yang serasi, saya gak bisa melihat Nuriyah gak bisa jalan” Harusnya memang begitu, yang berhak bilang Billy gendut ya Billy sendiri.

    Jadi kita kurang meneladani Gus Dur dong Mas dalam hal proses komunikasi?
    Ya kita harus jujur memang iya, sebagai GUSDURian kita masih jauh dari apa yang dicontohkan Gus Dur.

    Sampean Pernah membully mas?
    Pernah.

    Kenapa?
    Saya membully biasanya dalam ranah membela diri ru, kamu tahu sendiri lah, gimana biasanya saya disini.

    Karena sampean sering menghabiskan waktu berjam-jam buat main game dan Arsenal yang gitu-gitu aja?
    Ya kamu tahu sendiri lah.

    La sampean suka dibully mas?
    Ya lihat-lihat, kalau itu untuk mengakrabkan ya gak papa. Tapi tahu batas.

    Tapi terlepas dalam bully proses mencairkan komunikasi, karena masih banyak cara lain, sampean setuju dengan proses bully?
    Gak setuju ru.

    Sampean pernah marah karena dibully?
    Ya pernah, tapi biasanya saya lebih memilih diam saja. Soalnya saya merasa kita semua sudah besar, bisa mengevaluasi diri sendiri.

    Kita sudah sewindu ditinggal Gus Dur sejara Dhohir, kira-kira siapa yang bisa kita jadikan tauladan untuk tidak melulu melakukan bully?
    Tokoh lokal atau nasional?

    Semua gak papa deh mas
    Pak Tatok, Mbak Alissa dan Gus Mus

    Kenapa sampean memilih nama-nama itu?
    Pertama untuk pak Tatok, kamu tahu sendiri, pak Tatok adalah orang dengan pembawaan kalem dan bijaksana. Saya sudah kenal lama dengan pak Tatok. Beliau selalu bisa mengapresiapi dengan cara-cara yang menarik. Kayak kemarik saat perasaan natal di rumah beliau, saat semua orang meledek saya karena main ML-nya lama, pak Tatok bilang “Fauzan ini kan bisa melakukan sesuatu sendiri, mas fauzan ini mandiri”, komentar itu melegakan hatiku bahkan aku tak pernah memikirkan akan dinilai seperti itu
    Lalu kalau Mbak Alissa?
    Mbak alisaa ini contoh agar kita lebih dewasa menghadapi bully.

    Oo yang mbak Alissa dikatai anak sibuta itu ya mas?
    Itu salah satunya, tapi mbak Alissa memang sering sekali memberikan kita contoh bagaimana bersikap menghadapi bully dengan elegan. Dan beliau juga tak pernah membully kan, beliau juga temannya banyak.

    Kalau Gus Mus?
    Gus Mus ini orangnya gak ruwet, santai hidupnya. Kita buat akrab aja ruwet, kudu bully-bully orang lain. Gus Mus ini santai, gak perlu cara bully agar bisa akrab.

    Satu lagi mas, mungkin ini gak penting, sebenarnya kenapa sampean main game sampai berjam-jam?
    Mungkin ini yang gak banyak diketahui orang, saya itu orangnya fokus ru, kalau saya sudah ingin sesuatu, saya akan serius menjalaninya.

    Jadi main game ini karena sampean ingin menjadi legend di mobile legend?
    Ya seperti itu, saya serius dengan apa yang saya lakukan.

    Selain game mas?
    Ya cafe ini, membuat cafe ini adalah bentuk keseriusan saya.

    Ada lagi?
    Kuliah ru, dulu saya sangat teropsesi memiliki IP cumlaude. Dan ya alhamdulillah saya lulus dengan IP lebih dari 3,5.

    Sampean rindu Gus Dur gak mas?
    Pasti ru. Kita harusnya meneladani. Bukan hanya bilang rindu-rindu dan rindu.

    Sekian~
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Bertemu Penggerak Garuda: Fauzan Lebih Memilih Jalan Guyon Seperti Gus Dur Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Gerakan Gusdurian Muda GUSDURian Malang
    Scroll to Top