728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Minggu, 03 Desember 2017

    Bisnis berbasis nilai



    oleh : Kristanto Buduprabowo

    Mungkinkah ada sebuah bisnis tanpa mengkapitalisasi? Adakah jenis Bisnis murni  berdasarkan relasi manusiawi yang memberi ruang pada kedewasaan, kemandirian, dan kehidupan bersama dengan adil? Pendek kata, bisakah sebuah bisnis dibangun berpondasi nilai-nilai dan yang dijalankan tanpa manipulasi sebagai proses hidup bersama dengan penuh makna?

    Kalaupun ada atau coba dibayangkan ada, setidaknya rantai budaya ekonomi yang makin terikat tersambung kuat saling menghisab antara produksi - distribusi - konsumsi yang belakangan digembirai oleh komersialisasi birokrasi dan cara hidup enterpreneurship promotif, perlu diregang menjadi seluruhnya lingkaran perjumpaan manusiawi sebagai ganti lingkaran setan bunuh diri massal. Tangan-tangan tidak kelihatan dalam logika ekonomi global perlu dinampakkan wajah dan seluruh badannya agar transparan dan akuntabel bagi kemanusiaan pun bagi kelestarian alam.

    Tentu akan melibatkan banyak pihak, mempertanyakan banyak regulasi, dan terutama membongkar pemaknaan terhadap segala hal yang terhubung pada jaringan ekonomis itu. Diantaranya adalah makna kepemilikan, pemanfaatan, tujuan, dan proses segala bentuk aktivitas ekonomis itu sendiri. Saya yakin bahwa kesejahteraan sosial bisa berjumpa dengan keadilan berpihak (pada yang lemah), teknologi bisa berjumpa dengan ilmu yang berhati (etika kearifan lokal), dan idea-idea tentang dunia dan yang lantas menghasilkan idea tentang surga bisa dijumpakan dengan realitas holistik manusiawi dengan alam dan lingkungannya. Inilah perjumpaan peradaban yang terus dicoba ditemukan formula terbaiknya dalam proyek-proyek idiologi dan ekonomi politik dunia. Tak terelakkan.

    Nilai-nilai dalam Bisnis

    Produktifitas, efisiensi, hasil maksimal dari sumber minimal, kedisiplinan-keteraturan efektivitas, kemudahan akses dan teknologi, dan lain sebagainya sudah lama menjadi lazim merupakan nilai-nilai utama bagi sebuah usaha bisnis. Konsekuensinya berdasarkan perkembangan teknologi informasi bisa dibayangkan. Apalagi dengan iklim politik global jaman akhir peradaban yang makin kehilangan kesadaran pada kemanusiaan dan lingkungan alam.

    Karena pada dasarnya sebuah bisnis adalah perjumpaan antar kebutuhan manusia, maka kelaziman nilai-nilai di atas diformasi sedemikian rupa agar terjadi dan berlangsung sebagai pemenuhan masing-masing kebutuhan secara adil dan memuaskan. Jadi asumsinya manusia yang hendak memenuhi kebutuhannya harus patuh dan hidup pada garis yang telah ditetapkan menuju pemenuhan kebutuhan yang memuaskan. Manusia menjadi pelaku dari kebutuhannya. Bahkan bisa dikatakan, manusia menjadi budak atas kebutuhannya.

    Itulah mengapa, rekayasa dan manipulasi canggih bahkan dipersiapkan lewat sistem pendidikan dan politik agar manusia terus sadar pada kebutuhannya, terus merasa butuh sesuatu, dan terus berada dalam dinamika proses pemenuhan kebutuhan hidupnya itu. Begitulah promosi produk, iklan layanan, dan propaganda hidup sejahtera menjadi trinitas yang perlu terus dipuja.

    Maka jika mau jujur, segala nilai di atas sebenarnya bersumber dari sebuah kodrat yang disepakati bersama bahwa manusia adalah makhluk yang pemenuhan kebutuhannya terpuaskan jika diperjumpakan dengan produk atau ketersediaan baik yang ada di alam maupun yang ada pada diri orang lain. Pendek kata, bisnis adalah relasi kebutuhan, dan pemenuhan kebutuhan diri adalah tujuan.

    Merubah Asumsi

    Di atas disebutkan bahwa dalam perjumpaa bisnis, produktifitas, efisiensi, hasil maksimal dari sumber minimal, kedisiplinan-keteraturan efektivitas, kemudahan akses dan teknologi, yang umum digaungkan sebagai sumber nilai itu memperlihatkan bahwa asumsi yang digunakan adalah manusia membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhan dirinya. Kepuasan diri seseorang hanya dapat dipenuhi dari sesuatu yang berasal dari orang lain. Singkatnya, orang lain adalah obyek untuk memenuhi kebutuhan diri.

    Oleh karenanya kelaziman bisnis diukur dengan nilai kepuasan, keuntungan, dan terkumpulnya kapital pada diri. Sementara keadilan, kebahagiaan bersama, dan kejujuran diri sebagai manusia otentik ditempatkan tepat dibawah bayang-bayang kepentingan ukuran nilai itu. Tak heran jika rekayasa sosial dan bahkan psikologi masa diarahkan pada kesadaran pemenuhan kebutuhan hidup itu. Kerja, perkawanan, transaksi, dan segala bentuk perjumpaan bisnis dengan demikian tak lain bertujuan akhir pada DIRI.

    Sebenarnya ada asumsi kuno yang semakin hari semakin tergerus jaman dan nyaris musnah dalam peradaban manusia. Yaitu asumsi bahwa manusia berjumpa dengan manusia lain dan semesta adalah untuk berbagi. Hidup manusia yang terbaik adalah menjadi syukur dan persembahan utuh bagi sesama dan semesta alam.

    Asumsi inilah yang dalam banyak teori agama dikembangkan sebagai paradigma ketulusan, kebaikan budi, dan cinta kasih. Oleh beberapa tradisi teori yang dikembangkan bahkan berbentuk upacara sakral. Makin besar persembahan diri manusia makin bermakna dan bermanfaat itu bagi orang lain, komunitas dan alam semesta.

    Entah bagaimana prosesnya, etika dasar semacam ini sering hanya bergema agung dalam konsep dan dipahami sebagai keluhuran dalam kesadaran pikir dan bathin. Operasional implementasinya ternyata dengan otomatis tetap menggunakan asumsi bahwa manusia perlu memenuhi kebutuhannya yang bisa diperoleh dari orang lain dan alam ini. Ada semacam missing link antara kesadaran bathin dengan realitas bisnis. Bahwa manusia ingin berbagi namun sistem hanya menyediakan satu jalan bagi manusia untuk saling memanfaatkan.

    Maka paradigma etis bahwa pada dasarnya manusia ingin dan berbahagia jika berbagi dan menjadi manfaat bagi orang lain dan alam semesta, nampaknya membutuhkan konsistensi dalam praktik kehidupan kelaziman keseharian relasi antar manusia yang disebut bisnis tersebut. Karena sesungguhnya semua orang tahu bahwa tidak ada kapital tersembunyi yang bisa dijadikan jaminan maya bagi sebuah transaksi nyata. Tidak ada invisible hand yang dengan ghaib (mitosnya) berpartisipasi menintervensi dan mengotak-atik licik dalam transaksi seperti yang selama ini dikagumi oleh kerakusan yang mengukur keberhasilan dari - sekali lagi - DIRI.

    Reorientasi Nilai Bisnis

    Memenuhi kebutuhan diri tentu sangatlah penting, dan sama pentingnya bagi setiap orang - apapun pilihan jalan hidup dan minat terbaik yang ditekuninya - pun bagi alam semesta sumber hidup tiap makhluk. Nilai bisnis yang paling mendasar tentu perlu melihat keutuhan ini.

    Relasi adalah bentuk perjumpaan yang selalu mengandung dampak pada semua pihak. Memenuhi kebutuhan diri dengan demikian perlu dipahami sebagai bagian dari melengkapi kebutuhan sesama dan semesta. Namun karena semesta tak butuh apa-apa, itulah sebabnya bagi banyak tradisi disadari bahwa manusia dan relasi antar makhluknya adalah usaha mempercantik kecantikan semesta belaka (Memayu Hayuning Bhawana). Maka ukurannya jadi makin sederhana. Pada semesta, apakah relasi bisnis kita makin mempercantiknya? Pada sesama, apakah relasi bisnis kita itu memperlihatkan wujud semangat berbagi?


    Tatok – Gusdurian Malang
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Bisnis berbasis nilai Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Gerakan Gusdurian Muda GUSDURian Malang
    Scroll to Top