728x90 AdSayapIklanGaruda

pasang
  • Garuda kita

    Selasa, 05 Desember 2017

    Pasar Tradisional dan Kranjang Bocor

    oleh : Kristanto Budiprabowo

    Memposisikan persaingan sehat antara toko kelontong dan toko modern, antara pasar tradisional dengan supermarket adalah "gegar otak" logika yang jika diterawang dengan nilai keadilan dan kesetaraan jelas sangat mencidera nalar sehat kemanusiaan kita.

    Betapa begitu? Memang seruan agar ada perhatian, subsidi, fasilitasi nampak indah dan mengharukan. Bahkan kritik agar ada pembatasan jumlah dan mekanisme ekspansif toko modern seperti sebuah kompensasi yang dipaksakan keadilannya. Sejak dua posisi tidak seimbang dilepas untuk berkompetisi adalah seperti melombakan ikan dengan monyet untuk memanjat pohon atau berenang.

    Hal mana sama saja dengan meminta sepeda onta melakukan balapan dengan super-motor di lapangan yang didisign untuk keperluan formula one. Meminta petani yang sebagian lahannya harus menumpang pada tuan tanah dari kota bersaing dengan agroindustri gabungan antar konglomerasi multinasional.

    Dari mana datangnya logika persaingan sehat iti berasal. Bagaimana mungkin penjual bakso pikulan bisa bersaing dengan mobile bakso yang disponsori oleh bank. Logika persaingan dalam bisnis, sekeji setidakadil apapun selalu dengan mudah menemukan pemaklumannya. Mengapa? Karena orang hanya tahu bagaimana berkompetisi. Bahwa hidup adalah urusan berkompetisi dan mengalahkan saingan.

    Ada yang bilang begitulah evolusi ala survival of the fitest terjadi. Yang kuatlah yang akan bertahan berkuasa dan lantas menghasilkan keturunan yang makin kuat. Yang lemah, sebagaimana hukum alam harus bersedia dikalahkan dan digusur bahkan ditiadakan dari muka peradaban.

    Yang lain bilang bahwa iklim yang kita sepakati secara politis adalah iklim pertumbuhan ekonomi. Yang mau bertumbuh dan nampak tanda-tanda pertumbuhannya perlu dipelihara negara dan seluruh aparaturnya. Karena itulah tujuan kita bersama, itulah konsensus nasional. Siapa sih yang tak menghendaki adanya pertumbuhan ekonomi.

    Jadi wajar sewajar wajarnya jika tanda pertumbuhan itu mendapat perlakuan ekstra, dan memang seharusnya begitu. Yang lain-lain yang tak mampu tumbuh, yang stagnan tak bergerak, pada akhirnya toh bisa dimanfaat-korbankan sebagai pupuk penyubur pertumbuhan. Toko kelontong yang "begitu-begitu saja" sejak jaman dulu, harus dengan rela hati menyerahkan pelanggan sumber hidupnya pada toko modern yang dalam hitungan hari bisa mendadak berdiri disampingnya. Tanpa ucapan trimakasih apalagi belasungkawa.

    Persaingan "logis" demi "pertumbuhan" telah terjadi dan bahkan para akademisipun mengamininya sebagai bagian dari proses menuju tinggal landas (istilah sakti di era Orde Baru), menuju manusia modern sesuai dengan jamannya (istilah anak sekarang).

    Pernah diajarkan bahwa ada alternatif lain yaitu koperasi yang idealnya memberi ruang bagi yang tak beruntung untuk tetap mendapatkan jaminan hidup dasar dan memberi peluabg bagi orang yang hendak mulai membangun usaha sederhana dari nol. Prakteknya, demi keadilan dan semangat demokrasi, koperasi bisa berubah wujud menjadi korporasi yang malah beroperasi demi hasil pada sekelompok elit kecil pemegang saham mayoritas dan terbangun tembok-tembok oleh sistem keanggotaannya.

    Dari sekian alternatif itu nampak bahwa selalu ada celah aliran kebocoran yang tertuju ke muara akumulasi kapital pada elit tertentu dan orang-orang yang memiliki kontrol pada sistem alirannnya. Maka nampak bahwa logika keadilan memposisikan pemilik modal dengan usaha kelontong kecil pada perlakuan yang sama adalah melanggar azas kemanusiaan. Mengapa?

    Begini ceritanya. Tiap hari, dalam tiap transaksi jual beli, dalam mekanisme pendapatan dan pengeluaran, sebuah komunitas yang terdekat dan terlibat langsung di dalamnya laksana sedang membuat keranjang. Pendapatan personal sesungguhnya masuk pertama kali je dalam keranjang komunitas itu. Bersamaan dengan kekayaan alam dan indfrastruktur serta beragam kecakapan komunal, pendapatan personal dan lalu juga pengeluarannya secara dinamis berputar menjadi sistem dasar ekonomis sebuah komunitas. Makin banyak pendapatan masuk pada tiap-tiap anggota komunitas, dan makin banyak pengeluaran dibelanjakan di dalam komunitas, maka jumlah kapital komunitas semakin besar dan ekonomi konunitas semakin kuat, lingkungan alam terpelihara dan infrastruktur sepenuhnya sebesar-besarnya bagi kesejahteraan komunitas terbangun. Beginilah kira-kira kenapa mencintai produk dalam negeri menguatkan ekonomi negara.

    Toko kelontong, warung-warung beraneka macam produksi rumahan keluarga kecil, segala rupa jasa buruh bangunan dan pembuat peralatan, serta hiburan lokal komunitas adalah para perajut pembentuk kekuatan ekonomi dasar komunitas. Mereka semuanya inilah yang secara dinamis juga memutar kapital agar tetap berada di dalam keranjang komunitas. Makin aktif transaksi terjadi, makin cepat kapital komunitas berputar, makin baiklah kondisi ekonomi komunitas. Apalagi dalam konteks komunitas tradisional berlangsungnya transaksi selalu manusiawi. Ada harga pertolongan, ada mekanisme tanggung renteng, ada transaksi belas kasihan. Segala bentuk kearifan perjumpaan manusiawi dan penghormatan pada alam menjadi perhitungan penting yang menentukan berlangsungnya ekonomi dan usaha menjadi sejahtera bersama-sama.

    Sayangnya, segala rupa tawaran produk baru menjadi intervensi yang datang tak terbendung membuat lobang menyalurkan kapital mempengaruhi dinamika dasar ekonomi komunitas. Intervensi juga datang hanya dengan membuat lobang agar kapital komunitas teralirkan keluar dalam bentuk ajakan mengeksploitasi apa yang ada di dalam komunitas bagi kenikmatan dan kepentingan orang-orang di luar komunitas yang kadang sama sekali tidak dikenal atau mau tahu apa yang ada di dalam komunitas. Demikianlah keranjang ekonomi dasar komunitas itu menjadi lemah karena dinamikanya tak lagi hanya bisa dikendalikan dan dikontrol oleh anggota komunitas melainkan juga oleh tangan-tangan asing yang masuk ikut mengaduk-aduk. Tak hanya itu, keranjang komunitas juga menjadi bocor, karena kapital tak lagi nyaman menyejahterakan komunitas namun harus keluar melayani kepentingan yang lain.

    Kekuatan ekonomi sebuah komunitas setidaknya ditentukan oleh dua hal itu. Pertama pada ketahanannya mengendalikan dinamika kapital komunitas, kedua kemampuannya untuk menjaga agar kebocorannya tidak menghisap habis apa yang ada di dalam komunitas. Karena mau tak mau tiap komunitas pasti berinteraksi dengan komunitas lainnya, maka harus disadari bahwa tidak ada lagi keranjang yang masih murni milik dan dalam kontrol sepenuhnya komunitas itu. Tidak ada lagi keranjang utuh yang tidak memiliki kebocoran sedikitpun.

    Mendapat asupan modal dari pihak lain (investor, bank, pemerintah, ijon, tengkulak; semua sama dalam fungsi ini) dengan syarat tertentu adalah bentuk intervensi pada kemampuan kontrol nasyarakat pada kapital yang ada di komunitasnya. Belanja produk dan jasa yang tidak disediakan dan dibuat oleh komunitas sendiri adalah wujud dari kebocoran itu.

    Persoalannya sekarang, karena peta ekonomi dasar komunitas adalah adanya keranjang tak asli dengan kebocoran disana-sini, maka bagaimana sebuah ekonomi komunitas bisa berjalan?

    Pertama, setidaknya dari gambaran keranjang bocor ini orang mampu melihat bahwa memposisikan toko modern dan toko kelontong dalam persaingan yang adil adalah tidak manusiawi. Bukan hanya hal itu pasti membutuhkan banyak hal untuk menopang mendongkrak pihak toko kelontong, namun juga menempatkan kerakusan dalam pemakluman demi keadilan. Ketidakadilan kapital antara yang berpunya dan yang tidak, tidak bisa disekesaikan dengan cara menambahkan kapital pada yang kurang. Ada alternatif lain yaitu dengan cara mengurangi kapital pada yang berpunya agar posisinya sama dengan kecukupan saingannya. Agama mengajarkan hal ini. Tapi adakah di antara kita yang bersedia melakukannya?


    Kedua, karena keranjang bocor itu telah menjadi realitas, agar dinamika ekonomi dasar kontrolnya tetap kuat dipegang komunitas sendiri, serta agar kebocoran itu terkendali sebagai semangat berbagi dan bukan akibat penghisapan, maka kunci jawabannya terletak pada diri kita masing-masing. Mengapa? Karena kenyataan membuktikan bahwa tidak ada sistem pemerintahan di dunia ini yang amat ideal dan mampu menentukan kesejahteraan seluruh warganya. Kita sebagai personlah yang paling bertanggungjawab menentukan bagaimana kita menggunakan dan memanfaatkan kapital yang ada pada diri kita. Apakah sikap ekonomis kita itu memperkuat keranjang komunitas atau memperlemahnya, sepenuhnya tergantung pada bagaimana gaya hidup dan cara bertransaksi kita. Berani mencoba?
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Monggo Komentar Disini

    Item Reviewed: Pasar Tradisional dan Kranjang Bocor Rating: 5 Reviewed By: GARUDA Gerakan Gusdurian Muda GUSDURian Malang
    Scroll to Top